
Irene tercengang melihat wanita yang sama sekali Ia tidak kenal.Apalagi wanita itu memakai cadar membuat Irene tidak mengetahui siapa sosok jati diri yang menolong dirinya. Sekujur tubuhnya merinding tak karuan melihat tubuh Aris sudah tergeletak di hadapannya.
Dengan bibir yang getar, Irene menanyakan siapa sosok wanita itu yang sudah menyelamatkan dirinya.
"Siapa kau?
Wanita itu diam dan hanya menatap Irene dengan sekilas
"Kau sebenarnya siapa? Kenapa kau bisa ada di sini? aku berterima kasih kepadamu, kau telah menyelamatkanku. Tapi aku ingin mengetahui Mengapa kau menyelamatkanku. dan siapa kau sebenarnya? tanya Irene penuh selidik kepada orang yang ada di depan pintu yang menyelamatkan dirinya dari Aris yang hendak membunuh Irene.
Bukannya menjawab pertanyaan Irene, wanita itu malah pergi begitu saja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
tubuh Irene tersungkur jatuh ke lantai dengan ekspresi wajah yang ketakutan melihat Aris mati di depannya." Apa yang harus aku lakukan sekarang? dia sudah mati, irene duduk memeluk kedua lutut sambil menangis kebingungan.
Tiba-tiba Cornelius muncul dia berlari masuk ke dalam kamar dengan raut wajah panik setengah mati saat tahu Irene dalam bahaya. Cornelius langsung jongkok memeluk Irene yang menangis mengecup kening irene dan membenahi ujung rambut yang ada di sekitar dahi Irene.
"Kau tidak apa-apa sayang? tanya Cornelius penuh selidik.
raut wajah Cornelius terlihat sangat khawatir. Ia terus memiliki tubuh Irene yang masih gemetar ketakutan dengan kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya.
Irene menangis sesungguhkan dalam pelukan Cornelius, dia sudah mati. Apa yang harus aku lakukan? tangis Irene di dalam pelukan Cornelius.
Cornelius mengusap usap punggung Irene mencoba menenangkannya.
"Ini bukan salahmu sayang. Jangan menangis Lagi, ada aku yang akan mengurus segalanya." ucap Cornelius mencoba untuk menenangkan Irene, ia tidak ingin Irene merasa bersalah dengan sesuatu yang sama sekali tidak dia lakukan.
Irene mengangkat kepalanya memperlihatkan wajahnya yang berlinangan air mata. Ada seseorang yang membunuhnya, tetapi aku tidak mengetahui siapa itu. Dia memakai cadar sehingga aku tidak mengenali wajahnya. Tapi dari postur tubuhnya, Sepertinya dia seorang wanita. Setelah mengatakan kalimat itu irene kembali memeluk Cornelius menangis sesungguhkan.
Cornelius membantu tubuh Irene Yang lemas berdiri merangkulnya, membawa keluar dari kamar itu dia membawa Irene duduk di sofa mengusap wajah Irene yang penuh air mata.
Sudah cukup, jangan menangis ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Irene mengangguk dan mulai mengatur nafasnya dan mulai menceritakan segalanya kepada Cornelius.
Saat aku masuk ke kamar kost, Aris sudah ada di dalam. Aku tidak tahu bagaimana dia masuk, tapi sepertinya itu semua karena aku dan Aris pernah saling menukar kunci kamar. bisa jadi dia masih menyimpan kunci itu. karena dia juga pernah melakukan hal yang sama, saat kau melihat aku dan Aris bersama di kamar kos saat itu.
Aris bilang karena aku hidupnya hancur. dia ingin membunuhku, dia seperti orang kesurupan dan kesetanan. Aku tidak tahu apa salahku, Kenapa hidupnya hancur padahal aku tidak berbuat apa-apa. Dia yang hampir saja menghancurkan hidupku. Mengapa jadi aku yang disalahkan? ucap Irene kepada Cornelius sambil memeluk Cornelius.
Cornelius mengusap usap punggung Irene satu pertanyaan keluar dari mulutnya. "Bagaimana dengan orang yang membunuh Aris apa kau mengenal orangnya itu?"
__ADS_1
"Aku sudah katakan tadi, aku sama sekali tidak mengenalnya yang pasti dia pakai cadar.
"Apa jangan-jangan orang yang menyelamatkanmu mengirim pesan kepadaku? tanya Cornelius.
"Maksudnya? tanya irene penuh selidik karena dia masih merasa bingung pesan Apa yang dimaksud Cornelius.
Sebelum Cornelius melaju dengan kecepatan tinggi di Jalan raya, dia kini sudah berada di ujung jalan perkotaan kota Santa Monica. Di dalam mobil Cornelius, terlihat duduk dengan wajah yang datar menatap lurus ke depan. tiba-tiba ponsel Cornelius bergetar.
Cornelius mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk. Pesan itu muncul di depan layarnya dengan satu kalimat yang membuatnya seketika panik membacanya.
"Gadis kecil pujaan hatimu sekarang dalam bahaya, kembali ke apartemen sekarang atau kau hanya melihat mayatnya saja. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." pesan singkat itu yang berada di layar ponsel Cornelius hingga membuat Cornelius seketika meminta anak buahnya memutar balik mobilnya.
"Putar mobilnya, kita kembali ke kamar kost Irene sekarang juga"
"Baik Tuan."
anak buah Cornelius langsung memutar haluan, di tengah jalan raya kembali ke kamar kost Irene secepat mungkin. Ia meminta kepada anak buahnya agar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Karena ia khawatir terjadi sesuatu kepada Irene.
mobil Cornelius melaju dengan kecepatan tinggi, seperti di sirkuit mobil. Anak buah Cornelius mengemudikan mobil itu cepat melewati mobil mobil di sekitarnya.
"Sayang jangan membuatku takut. Ayo angkat teleponnya Sayang." gumam Cornelius di dalam hati.
Tetapi beberapa kali Cornelius menghubungi nomor ponsel Irene, tetap tak kunjung ada jawaban
"Sial!" Seharusnya aku tidak meninggalkannya tadi pekiknya kesal meremas ponselnya.
"lebih cepat lagi!" pekik Cornelius marah kepada anak buahnya.
"Iya Tuan." ucapnya sambil menginjak pedal gas mobil mempercepat laju kecepatan mobilnya. di tengah jalan raya yang dipenuhi dengan kendaraan.
lagi-lagi Cornelis mencoba menghubungi nomor ponsel irene, tapi hasilnya nihil tidak ada jawaban sama sekali. Membuat Cornelius semakin takut terjadi sesuatu kepadanya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, kalau sampai terjadi sesuatu kepada gadis kecil pujaan hatiku." teriaknya di dalam mobil miliknya.
Tidak butuh waktu lama mobilnya sampai di depan rumah kos-kosan yang ditempati Irene. Cornelius langsung lari masuk ke dalam saat dia kamar kost Irene. Tetapi Cornelius sama sekali tidak menemukan Irene di sana.
Suara tangis Irene terdengar jelas di telinga Cornelius, dari kamar kost sebelahnya. Cornelius panik dia tidak mau menunggu langsung pergi masuk ke kamar kost sebelahnya. Dia langsung berlari masuk ke dalam
__ADS_1
"Irene.... Kau di mana?" teriaknya dengan mata yang mengelilingi mencari keberadaan Irene di kamar kos sebelahnya.
Tiba-tiba suara tangis Irene semakin terdengar oleh Cornelius. Membuat Cornelius panik. Ia mengecek Apakah suara yang dia dengar itu benar-benar gadis kecil pujaan hatinya.
Ternyata benar, dia langsung memeluk Irene ketakutannya dirasakan langsung hilang saat melihat pujaan hatinya baik-baik saja.
****
Aku bisa datang ke sini dengan cepat, karena pesan itu kalau aku tidak dapat pesan itu aku mungkin tidak ada di sini bersamamu.
Maafkan aku datang terlambat. Cornelius memeluk erat tubuh Irene sambil meminta maaf. Wajahnya tampak sangat sedih Bagaimana jika Irene benar-benar dibunuh Aris karena kesalahannya.
"Aku seharusnya membunuh pria itu sejak dulu sebelum ini terjadi." gumamnya dalam hati. Irene juga membalas pelukan Cornelius ia memeluknya sambil berkata tidak apa-apa kau sudah datang ke sini itu sudah membuatku merasa lega dan nyaman.
Cornelius melepaskan pelukannya kau sudah tidak bisa tinggal di sini. Ayo ikut aku tinggal di rumahku.
Tapi....
kau sudah tidak aman di sini, aku tidak mau ada sesuatu yang terjadi lagi padamu. Di rumah banyak pelayan dan anak buahku yang akan melindungimu di sini. Aku mohon Dengarkan aku sekali ini." mohon Cornelius.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia setuju ikut bersama Cornelius tinggal di rumah Cornelius. "Baiklah tapi kau tunggu sebentar Aku harus berkemas terlebih dahulu.
"Tapi bagaimana dengan mayat Aris? tanya Irene berdiri di depan sofa
"Aku akan menghantarkanmu lebih dulu. karena setelah itu aku dan anak buahku yang akan mengurusnya. Kau tenang saja.
Cornelius berdiri memegang kedua bahu Irene, kau percaya padaku kan?" tanya Cornelius penuh selidik.
Irene menganggukkan kepalanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak.
__ADS_1