Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 81. IRENE MARAH _GKMBM


__ADS_3

Irene masih berdiri mematung di sana menatap ketiga lukisan itu. Netranya sama sekali tidak berkedip sama sekali. Melihat lukisan itu yang seperti nyata.


"Jangan-jangan memang benar yang ini ibu kandungnya Cornelius dan ini ayah kandungnya." Irene membatin.


Ia kembali melirik ke arah lukisan lukisan yang mirip sekali dengan nya.


"Aku yakin bukan malam itu saja, awal Dia melihatku. Tapi dia sudah pernah melihatku sebelum itu."gumamnya dalam hati


Irene membalikkan badannya berjalan kembali ke rak buku besar itu. Dia kembali menggoyangkan buku itu seperti apa yang ia lakukan sebelum sampai ke ruangan itu. Hal yang sama terjadi dia kembali di bawah ke sebelah yaitu kamar Cornelius.


Dia masih berdiri di sana dengan wajahnya yang masih terkejut. Suara langkah kaki yang masuk ke dalam kamar membuat keheningan itu pecah dengan suara Cornelius yang memanggil nama Irene. "Apa yang kau lakukan di sana? tanya Cornelius dengan tatapan tajam berjalan menghampiri Irene sambil membawa satu paper bag.


Irene mengangkat wajahnya menatap Cornelius. "Apa kau sudah pernah bertemu denganku sebelum malam di mana Aku membawamu ke kamarku? wajah tampak sangat serius menatap Cornelius yang berdiri di hadapannya.


Bagaimana bisa kau masuk ke sana Cornelius kembali melontarkan pertanyaan. Irene mengerutkan keningnya, merasa jengkel karena Cornelius tidak menjawab pertanyaannya itu. Justru dia balik bertanya.


Tanganku tidak sengaja menyenggol buku, yang ternyata ada kunci yang membawaku ke sebuah ruangan di balik kak bukumu itu. Aku sudah menjawabnya. Sekarang jawab pertanyaanku. Apakah pernah bertemu denganku sebelum kejadian malam itu?" ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


Cornelius memberikan paper bag yang dibawa ke tangan Irene lalu memberikan badannya."ganti bajumu Aku akan menunggumu di meja makan setelah kita sarapan baru aku akan menjawab pertanyaanmu itu."


Setelah kalimat itu dilontarkan oleh Cornelius berjalan meninggalkan kamar itu, tanpa menoleh sama sekali. wajah Irene tampak kesal mengerutkan keningnya melihat Cornelius yang pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya.


"Kenapa harus setelah sarapan? ucapnya kesal berjalan pergi ke kasur dia duduk di sana dengan wajah yang masih kusut. setelah mengganti pakaiannya Irene Turun ke bawah untuk sarapan.


Di meja makan ada Cornelius yang sudah menunggu Irene di sana. Irene menarik kursi di samping Cornelius duduk dengan wajah yang datar."Mau makan apa? Biar aku ambil? Cornelius


"Tidak perlu. Aku tidak lapar ucapnya dengan ketus


"Apa kau tidak kasihan para pelayan di rumah ini sudah memasak makanan sebanyak ini untukmu?


"Siapa suruh mereka masak makanan sebanyak ini? aku tidak meminta mereka me/melakukan itu."


"Suruh saja para pelayan itu memakannya ini sendiri." ucapnya dengan nada jutek.


"Kau marah karena aku tidak menjawab pertanyaan itu?


"Pikir saja sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku tahu kalau kau tidak mau memberitahu Apa alasanmu marah padaku."


"sudah jelas aku marah karena kau tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa kau masih bertanya lagi seolah-olah kau tidak tahu apa-apa."ucap Irene dengan nada suara yang tinggi sambil menatap Cornelius dengan Tatapan yang tajam.


"Aku sudah bilang tadi, aku akan jawab setelah kita sarapan pagi. Kenapa kau masih tidak bisa mengerti juga.


"Aku mau kau menjawabnya sekarang!"


"Aku tidak akan menjawab sebelum kita selesai sarapan. Tidak ada tawar-menawar lagi. Kau tidak mau makan, aku juga tidak akan menjawab pertanyaan itu.


Aku tidak akan menarik perkataanku. Kau tidak mau makan, maka aku tidak akan menjawabnya." ucap Cornelius sambil menyodorkan piring berisikan makanan yang sudah ia sendok.


Irene menarik nafas panjang


"Baiklah."


"Ayo makan, Jangan cuman dilihat saja. makanan itu tidak masuk ke dalam perutmu dengan sendirinya. Atau kau mau aku suap? ucapnya dengan tersenyum.


"Tidak usah aku makan sendiri saja.


"Irene mengembangkan senyum terpaksa .


Saat Irene mengunyah makanannya, tiba-tiba jari telunjuk Cornelius mencolek dagunya.


seketika irene memicingkan tatapan tajam ke arahnya.


"Jangan menggangguku saat aku sedang marah. Aku tidak akan bertanggung jawab jika piring ini melayang padamu." ucap Irene dengan nada marah.


Cornelius seketika Diam, dia tidak berani mengganggu Irene. lagi dia pikir dengan mengganggunya akan membuat amarah gadis kecil pujaan hatinya bisa mereda. eh malah tahunya Irene semakin marah.


Irene melanjutkan memakan makanannya sampai habis. Ini waktu dia menunggu jawaban pertanyaan yang membuatnya marah. Dia masih menunggu Cornelius yang menekuk segelas air


"Jangan menatapku seperti itu, seolah-olah Aku seorang penjahat. Aku akan menjawab sekarang." ucap Cornelius sambil meletakkan gelas yang dipegang ke samping pintunya.


"Ya sudah jawab pertanyaanku." ucap Irene dengan nada ketus, sambil menyilangkan kedua tangan di bawah dada menatap Cornelius. lukisan yang kau lihat itu adalah dirimu. Aku sendiri yang melukisnya, kau bertanya apakah aku pernah bertemu denganmu sebelum malam itu? jawabannya tidak. Tapi aku pernah melihatmu sebelum malam itu


"Dimana? tanya Irene penasaran.

__ADS_1


Semua itu berawal Di saat aku sedang melakukan misiku di kota Santa Monica. tepatnya Beberapa bulan yang lalu. Saat aku memantau target ku dari kejauhan. Tiba-tiba kau muncul dan kau juga tiba-tiba menghilang dari sana. Aku membuat lukisan itu, karena kau selalu muncul pikiran ku. sampai membuatku hampir gila karena tidak bisa tidur sepanjang malam, hanya karena memikirkanmu.


"Dugaanku ternyata benar." gumam Irene dalam hati.


Kalau lukisan wanita paruh baya dan lelaki paruh baya yang berdinas kepolisian itu siapa?


"Wanita paruh baya itu, adalah ibu kandungku. dan lelaki perubahan yang berdinas kepolisian itu adalah Ayah kandungku, yang meninggal secara tragis dibunuh oleh geng mafia. Karena ayahku ingin memberantas mereka.


Tetapi mereka justru merenggut . nyawa ayahku dengan kerjasama dengan pihak kepolisian juga untuk membunuh ayah dan ibuku di hadapanku sendiri. Ketika aku masih kecil. ucapkan Cornelius memberitahu hal tragis yang terjadi terhadap keluarganya di masa lalu.


"Aku sudah menjawab, Kau tidak perlu marah lagi.


"Bagaimana menurutmu Apa lukisan itu mirip denganmu?


Irene mengangguk.


"Ayolah bicara padaku. Jangan diam seperti itu, Aku tidak suka kau diam seperti itu.


"Iya mirip, ucap Irene sambil berdiri dari kursinya.


Cornelis juga ikut berdiri. Kau mau pergi ke mana?


"Pulang, aku harus pergi ke kantor.


"Kau tidak perlu ke kantor."


"Kenapa?


Aku sudah menghubungi Tuan Mahesa untuk memintanya agar dia memberikan cuti beberapa hari ke depan.


"Cuti? Memangnya cuti untuk apa? aku tidak sedang sakit aku sudah baik-baik saja. ucapkan dengan nada kesal


"Aku ingin memastikan kondisimu baik-baik saja, setelah apa yang terjadi kemarin. Tolong Jangan membantah." ucap Cornelius yang tidak ingin membantah ucapannya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2