Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 33.BERJAGA _GKMBM


__ADS_3

Cornelius menarik senyum kecil di bibirnya. Bersamaan dengan tubuhnya, perlahan bangkit dan tangan kirinya bergerak memindahkan helaian rambut Irene yang menutup wajah cantiknya.


Sentuhan tangan Cornelius yang dingin membuat Irene refleks membuka matanya.


"Kau sudah bangun? ucapin kaget bangkit memeluk Cornelius dengan penuh perasaan yang bahagia dan air mata.


"Akhirnya kau sadar, Apa kau tahu betapa aku mengkhawatirkanmu."ucap Irene menangis sambil memeluk Cornelius dengan erat.


Wajah Cornelius tampak kesakitan dipeluk Irene tapi senyuman di wajah semakin lebar mendengar perkataan dari Irene.


"Ahhhhhk."jerit Cornelius.


Irene yang sadar Cornelis kesakitan seketika melepaskan pelukannya.


"Maaf, kau tidak apa-apa kan."ucapnya panik.


"Tidak apa-apa,"


"Coba berbalik, Aku ingin melihat luka di belakang punggung mu."


"Aku tidak apa-apa."


"Berbalik saja, Apa kau ingin aku memarahi mu?"


""Baiklah Nyonya Cornelius."ucapnya bersamaan berbalik, melihat punggung Cornelius yang dibalut dengan perban dan banyak bekas luka di tubuh Cornelius.


"Syukurlah,"Irene menarik nafas lega, saat melihat perubahan Cornelius tampak bersih. dia takut karena pelukannya membuat luka Cornelis kembali berdarah.


"Sudah, ada masalah?"Cornelius kembali berbalik menghadap Irene.


"Tidak ada, aku hanya mau memastikan lukamu tetap aman."


"Tunggu sebentar,"saat Cornelius akan bicara, Irene menghentikannya.


"Sebelum kau bicara, aku mau kau mendengarkan ku lebih dulu.


Cornelius mengangguk.


"Kau ini kenapa selalu memperhatikan keselamatanku daripada dirimu, Apa kau tahu karena pilihanmu aku hampir saja kehilangan dirimu. orang yang kucintai setelah ayahku, jadi aku mohon padamu Jangan bersikap egois seperti ini, percuma kau melindungi mu tapi jika kau akan memberikanku duka karena kehilanganmu."


Belum selesai bicara Cornelis sudah menghentikan bibir Iran dengan menempel jari telunjuknya.


"Ssssst."


"Aku tidak peduli harus menghadapi maut berulang kali untuk menyelamatkanmu, karena aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai seperti aku kehilangan kedua orang tuaku.'


Suara lembut yang keluar dari bibir Cornelius membuat suasana hatinya yang marah seketika berubah tenang, ditambah dengan tatapan mata Cornelius yang menunjukkan betapa sayang dan cintanya kepada Irene membuatnya jadi tak bisa berkata apa-apa lagi.


Mereka saling memandang, kedua tangan Cornelius perlahan naik memegang kedua sisi wajah Irene. Wajah Cornelius perlahan maju sampai mempertemukan kedua dari mereka. Mata keduanya semakin dekat. "Kau tidak perlu khawatir, Selama takdir tidak menginginkan kita berpisah, Aku tidak akan kehilanganmu dan kamu tidak akan kehilanganku. Kita akan selalu bersama sampai kapanpun."


Mata Irene Entah kenapa meneteskan air matanya, jari Cornelius bergeser menghapus tetesan air mata yang membasahi wajah cantik Irene.


"Berhentilah menangis, simpan air matamu itu. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu."

__ADS_1


"Janji?"


"Iya, aku janji padamu."


Irene tiba-tiba memberikan kecupan hangat di bibir Cornelius.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu."Cornelius membalas kecupan yang diberikan Irene, lalu meraih tubuh Iran kepelukannya.


Irene memejamkan matanya merasakan hangatnya pelukan Cornelius.


"Apapun yang terjadi nantinya, kita akan selalu berjalan bersama menghadapi masalah itu. Aku akan menggandeng tanganmu dan tidak akan pernah melepaskan mu."ucap Cornelius sambil meletakkan dagunya di atas kepala Irene.


Di luar pintu kamar irene, tepatnya di samping tembok Tuan Bernando Dan Timothy ternyata menguping pembicaraan mereka berdua.


"Tuan Cornelius sudah sadar."ucap di moti yang buru-buru ingin masuk. tapi Tuhan Bernando menarik tangannya.


"Ada apa?


"Kasih mereka waktu untuk berdua bicara, kita tunggu saja di luar."ucapkan Bernando menarik tangan Timothy kembali ke sofa.


Tuan Bernando mengerti bagaimana perasaan Irene saat ini. Jadi dia tidak ingin mengganggu putrinya itu.


Mereka akhirnya duduk di sofa kembali merokok berpura-pura tidak tahu. Padahal mereka melihat dan mendengar semua termasuk saat putrinya berinisiatif mengecup Cornelius lebih dulu.


Di saat yang bersamaan dokter Aliando muncul. Dokter Aliando masuk dengan membawa peralatan medisnya. mulai dari infus, obat-obatan, perban suntik baru. Yang ada di dalam kantong plastik putih, di tangannya dan tangan kiri memegang jas dokternya.


"Ssssst


"Ada apa? ucap dokter Aliando bingung. Kenapa Timothy dan Tuan berlalu menyuruhnya diam.


Tiba-tiba Irene keluar dari kamar.


"Cornelius sudah sadar."ucapnya ingin memberitahu pada mereka semua, dia tidak tahu kalau ayahnya dan Timothy sudah tahu sejak irene berteriak di kamar tadi.


"Baguslah...."ucapkan Bernando sambil menghisap rokoknya.


"Syukurlah Tuan Cornelis akhirnya sadar."ucap Timothy pura-pura kaget.


Mendengar hal itu dokter Aliando tanpa banyak bicara lagi, ia pergi ke kamar Iran melihat Kakak sepupunya itu.


Timothy juga pergi mengikuti dokter Aliando, tinggal Irene dan ayahnya tersisa.


"Ayah tidak ingin pergi melihat Cornelius?"


"Tidak, kau teman Cornelius di dalam. Biar ayah di sini menjaga kalian.


"Tapi..."


"Pergilah."


Irene berbalik pergi menyusul dokter Aliando dan juga Timothy.

__ADS_1


Di dalam kamar. dokter Aliando masuk langsung menanyakan keadaan kakaknya.


"Bagaimana perasaanmu Apa masih ada sakit atau kau merasa pusing?


"Aku merasa sudah baik-baik saja, Kalian tidak perlu khawatir.


"Ternyata kau sadar lebih cepat dari yang aku pikirkan."ucap dokter Aliando sambil meletakkan kantong putih itu di atas meja samping tempat tidur.


"Adikmu sudah kembali ke Santa Barbara? ucap Cornelius


"iya, dia tiba-tiba saja izin pulang. Padahal aku tahu Anak itu tidak mau pulang karena ayahku akan menjodohkannya dengan laki-laki pilihannya.


Timothy dan Irene masuk. Timothy berdiri di dekat pintu sedangkan Irene masuk dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Kalian berdua malah ngobrol, dokter Aliando tidak mau mengecek keadaan Cornelius sekarang?"


Dokter Aliando menarik senyuman di bibirnya."kau sepertinya masih panik saja."


"aku sudah menyiapkan obat-obatan dan perubahan pengganti lukanya. obatnya diminum tiga kali sehari sudah makan dan perbanyak harus diganti setiap hari.


Irene mengangguk dengan wajah serius menyimak perkataan dokter Aliando.


Karena Cornelius sudah sadar, Sepertinya aku tidak perlu tinggal di sini. Aku akan kembali ke rumah sakit. Kalau ada sesuatu yang tidak beres, segera beritahu atau bisa kalian Langsung ke rumah sakit, biar kita melihat seserius Apa lukanya itu.


Kalau begitu aku pamit. Jangan lupa minum obat dengan teratur. ucap dokter Aliando pergi meninggalkan kamar itu.


Irene juga ikut berdiri pergi


"Kau mau kemana?


"Ke dapur."


"Untuk apa?"


Ambilkan makanan. Dengarkan tadi, dokter Aliando bilang kau harus minum obat, setelah makan. Jadi aku mau ke dapur mengambilkan makanan untukmu."


"Baiklah."


Irene pun pergi keluar melewati Timoty yang berdiri di samping pintu. Saat irene sudah pergi, barulah masuk menghampiri Cornelius


"Apa ada pergerakan dari tuan Thomson? tanya Cornelius.


"Sementara ini, anak buah kita belum melihat ada pergerakan dari anak buah Tuan Thomson, atau ada hal yang mencurigakan di sekitar sini.


"Tetap awasi tempat sekitar sini. Mereka tidak mungkin akan tinggal diam begitu saja setelah kita lolos


"Siap Tuan."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2