Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 72. DI CULIK_GKMBM


__ADS_3

Cornelius menurunkan Irene di kursi mobilnya. Lalu berlari masuk dalam mobil buru-buru ingin pergi ke rumah sakit.


"Aku tidak apa-apa, kita tidak perlu ke rumah sakit segala." ucap Irene sambil langsung mengambil kunci mobil yang bergelantungan di lubang kunci.


"Berikan kuncinya!" ucap Cornelius dengan santai. Tidak aku bilang kan, aku tidak apa-apa.


"Tidak apa-apa bagaimana? kau tidak lihat siku terluka."


Irene menengok mengangkat tangannya melihat siku yang berdarah.


Luka kecil bukan masalah besar sampai harus ke rumah sakit. Paling juga besok sembuh kok." ucap Irene dengan nada suara meninggi.


"Besar atau kecil, tetap harus diobati." tegasnya.


"Tidak perlu ini tidak apa-apa kok aku bisa mengobatinya sendiri nanti.


"Tidak bisa. Kita harus ke rumah sakit. Berikan kunci itu padaku." Cornelius mulai marah karena Irene tidak mau mendengarkannya.


"Aku bilang nggak apa-apa. Kenapa sih kau selalu memaksakan apa yang kau mau!" ucapnya kesal memberikan kunci itu lalu keluar dari mobil Cornelius membanting pintu dengan keras. Cornelius menghembuskan nafasnya dengan kasar memukul setir mobilnya.


"Sial! dia marah lagi pekiknya.


Irene masuk kembali ke dalam kantor dengan raut wajah kesal. Karena cornelius selalu bersikap berlebihan. Dia tahu Cornelius peduli tapi Irene orang yang tidak suka dipaksa.


Di dalam lift ia tiba-tiba kepikiran dengan tindakannya. "Tadi kok aku jadi merasa bersalah ya." ucapnya gelisah. Seharusnya aku tidak perlu marah padanya dia hanya khawatir padaku.


Ah sudahlah, itu sudah terjadi lupakan saja. Tetapi kegelisahan ada di hati Irene. Karena ia merasa bersalah telah emosi kepada Cornelius.


****


Siang telah berlalu kini rembulan bersinar terang di langit Irene. Irene berdiri di depan gedung Kantor, bersama ketiga temannya.


Irene kau ikut kita pulang kan?"


"Sorry ya, aku nggak ikut kalian pulang."

__ADS_1


"Kenapa? tanya Rina penasaran


"Iya, ada apa kenapa kau tak mau pulang bareng kita." ucap Raihan.


"Aku masih menunggu seseorang."


"Nunggu siapa?" Raihan kembali bertanya


Apa pria yang bernama Cornelius yang kau tunggu? tanya Rina dan Ricardo kompak.


Irene mengangguk


Rina tersenyum menyenggol lengan irene sambil berkata. "Wah kau mulai dekat. Ya, kamu sama dia kok nggak bilang-bilang sih?


"Apa kalian sudah jadian? tanya Reihan dan Ricardo penasaran Sampai mana hubungan Irene dan cornelius saat ini sampai sekarang.


"Kenapa sih kalian bertiga? kita tuh tidak jadian.


"Terus apa dong?


"Kita hanya teman doang kok. Aku nungguin dia karena aku sudah janji.


"Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu kita pulang duluan ya." ucap Rina, Rehan dan Ricardo


Ketika sahabatnya melambaikan tangan.


Irene juga melambaikan tangannya, melihat ketiga temannya pergi. Kini dia tinggal seorang di depan gedung kantor. Menunggu jemputan Cornelius. Semua para karyawan sudah banyak yang pulang.


Sudah sekitar 20 menit, dia menunggu di sana tapi Cornelius tak kunjung datang.


"Kok dia belum datang ya?. atau mungkin dia tidak jadi menjemputku


"Ya sudahlah, mungkin dia ada urusan lain. Karena Cornelius tidak muncul-muncul, akhirnya dia memutuskan untuk pulang sendiri.


Irene keluar dari halaman kantor, melewati pos jaga di mana ada satpam yang berdiri di dalam pos bertugas menjaga keamanan kantor.

__ADS_1


"Aku duluan pak!" ucap Irene melewati pos itu.


Security membalas ucapan Irene. " iya nona, hati-hati di jalan." ucap security itu sambil tersenyum.


Irene menoleh tersenyum. Iya pak.


Irene berjalan sampai ke pinggir jalan tak jauh dari kantor, Ia berdiri menunggu taksi yang lewat di jalan.


"Kok taksi tampak sepi ya? biasanya di jam seperti ini masih banyak taksi yang akan melewati jalan ini. Tapi kelihatannya belum ada tanda-tanda akan muncul.


Taksi ke mana semua ya? tumben kok belum pada lewat?" ucapnya sambil ke kanan dan ke kiri. Berharap taksi akan muncul


Beberapa menit kemudian sebuah taksi berwarna biru muncul.


Akhirnya ada taksi juga lewat ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berhentikan taksi itu.


Taksi itu berhenti Irene langsung masuk ke dalam dan meninggalkan jalan itu.


Sedangkan di tempat lain Cornelius sedang dalam perjalanan menuju kantor untuk menjemput Irene.


Sedangkan Irene sudah dalam perjalanan pulang, dan sebentar lagi Irene akan sampai di rumah kos-kosan. Yang selama ini ditempati oleh Irene.


Setelah waktu kurang lebih 15 menit taksi yang ditumpangi Irene berhenti di pinggir jalan tepat di depan rumah kos-kosan yang selama ini ditempati Irene.


Irene memberikan uang ke supir taksi, lalu turun dari taksi itu. Taksi itu pun langsung menekan pedal gas pergi meninggalkan Irene di sana.


Dia pun berbalik pergi ke depan rumah kos-kosan. Tapi belum sampai di jalan, tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti. Dan ada satu pria keluar berlari membungkam dengan sapu tangan dari belakang.


Irene berteriak memberontak, berusaha melepaskan diri sampai membuat tasnya terjatuh ke jalan. Karena obat bius yang terdapat di sapu tangan itu, akhirnya Irene tidak lama jatuh pingsan tak sadarkan diri, dalam genggaman pria itu.


Pria itu menarik masuk Irene ke dalam mobil. Beberapa pria yang ada di dalam mobil, yang duduk di belakang, menarik tubuh Irene masuk. Lalu pria itu masuk ke dalam mobil lewat pintu depan. Mobil itu langsung melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah kos-kosan itu.


Tinggal tas Irene yang tertinggal di sana.


Bersambung.....

__ADS_1


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2