
Tidak lama kemudian, Irene muncul membawa makanan dan gelas air putih.
"Kalian berdua sedang bicara apa?"
"Bukan apa-apa,"balas Timothy.
"Aku juga mau keluar sebentar, tolong jaga Tuan Cornelius."ucapnya berbalik pergi.
"Tenang saja, aku pasti akan menjaganya."
"Baguslah, tapi jangan buat yang aneh-aneh ya. Ayahmu ada di luar memantau kalian berdua.
"Okey..."ucapnya menoleh sambil tersenyum memperingatkan Cornelius dan Irene untuk menjaga batasan mereka berdua.
Tiba-tiba bantal sudah melayang di wajahnya.
"Keluar!"ucap Cornelius dengan mata yang melotot mengusir Timoty.
"Orang cuman mau ngingetin, malah di timpuk."ucap Timothy dengan raut wajah yang mengerut, keluar dari kamar itu. Buru-buru pergi sebelum Ada barang lain yang terbang ke arahnya.
"Kau tidak perlu marah-marah seperti itu, lagi pula yang dikatakannya itu benar. Ada ayah di luar, jadi kita harus jaga sikap, Kau mau kan dipandang baik di depan ayahku."ucapnya perlahan duduk di samping kasur, sambil meletakkan gelas yang dia pegang di atas meja.
Cornelius tampak diam.
"Ayo makan."ucap Irene menyodorkan sendok ke depan bibir Cornelius.
"Kau tak mau makan? ucapnya sambil tolak pinggang dan memberikan tatapan mata tajam.
"Kau masih tak mau makan?"
"Aku tak mau makan, besok saja." balasnya
"Okey baiklah, tapi aku tidak mau bicara padamu sampai besok."ucap irene menarik sendok itu kembali meletakkannya ke piring membelakangi Cornelius.
"Jangan marah, aku akan makan."ucap Cornelius sambil memegang lengan Irene.
"serius."
"Iya,"
Irene berbalik, dibarengi dengan senyuman mengambil kembali piringnya. "Gitu dong, kalau menurut kayak gini, kan aku nggak akan marah." ucapnya sambil menyuapi Cornelius.
"Ini juga demi kebaikanmu. Aku tidak ingin kau sakit seperti tadi. Kau paham, kan maksudku apa? sambungnya dengan menunjukkan wajah yang sedih.
__ADS_1
****
Di tempat lain tepatnya di rumah sederhana Yang letaknya sedikit jauh dari kota Santa Monica. Seorang wanita yang selama ini menjaga Irene dari kejauhan. Baru saja ia mengetahui kalau Tuan Thomson sudah mengincar Irene, Tuan Bernando dan juga Cornelius. Membuat dirinya merasa sangat kesal dan juga emosi.
Ia sudah menyusun rencana, Bagaimana caranya untuk mengalahkan Tuan Thomson dan juga Tuan Jason. Yang ingin berniat jahat kepada Irene, Cornelius dan juga Tuan Bernando.
"Aku tidak akan membiarkan lelaki iblis itu, akan menguasai apa yang menjadi milik dari Cornelius. Itu tidak akan kubiarkan terjadi. Dasar manusia laknat!!! ucap wanita itu karena dirinya sudah sangat kesal. Tuan ingin membunuh Cornelius, walaupun dia mengetahui Cornelius itu merupakan putra dari kakaknya sendiri.
"Jangan kau merasa menang Thomson,dan juga kau Jason! jangan kau kira aku tidak mengetahui strateginya. Aku tidak akan membiarkan mereka mati di tanganmu. Kalian harus mati di tangan Cornelius, dan juga tanganku" teriak wanita bercadar itu merasa kesal, Ketika ia mengetahui kalau Cornelius saat ini sedang terluka, akibat perbuatan anak buah Tuan Thomson dan juga Tuan Jason.
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya ke permukaan bumi. Terlihat Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, tepatnya di rumah kost Irene.
Cornelius, Irene, Timothy dan Tuan Bernando tampak sudah duduk di meja makan. Mereka baru saja selesai sarapan pagi.
Irene terlihat sedang membukakan obat-obatan yang akan diminum oleh Cornelius.
Dia memberikan obat itu, ke telapak tangan Cornelius. Dengan satu kali teguk Cornelius menelan obat gitu tanpa bantuan air.
Setelah menelan obat itu, barulah Cornelis minum segelas air putih. Irene berdiri mengumpulkan semua piring kotor membawanya ke dapur.
Di saat itu juga, Tuan Bernando melontarkan pertanyaan kepada Cornelius."Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tuan Thomson mengincarmu juga."
"Melindungimu dan Irene. Karena jika kau tertangkap oleh Tuan Thomson, Irene pasti akan menangis kehilanganmu. Dan itu yang tidak aku inginkan.
Tuan Thomson tidak akan mengejar ku, jika aku memberikan cincin itu padanya. Tapi masalah besarnya adalah, dia tahu kau masih hidup. Itu pasti akan membuatnya terasa terancam. Aku yakin dia pasti tidak akan hanya mengincar cincin itu, tapi juga nyawamu Cornelius.
"Tapi, Irene akan menderita kehilanganmu."
"Tapi, aku juga akan hidup menderita karena gagal menjadi seorang ayah menjaga putrinya sendiri. Jika aku pergi, Irene masih memilikimu. Tapi kalau aku yang hidup, aku tidak memiliki siapapun lagi selain Irene dan mamanya yang sudah entah ke mana dia pergi.
Aku yakin, kau juga tak ingin kehilangan Irene, kan? Berarti harus ada yang dikorbankan untuk itu." Irene tiba-tiba muncul
"Apa yang kalian sedang bicarakan?
ucap Irene, tampak kebingungan.
"Tidak ada, ayahmu dan Tuan Cornelius hanya membahas rencana mereka untuk menghadapi Tuan Thomson. Karena saat ini mereka juga belum menunjukkan ada pergerakan sama sekali sejak semalam. Ucap Timothy mencoba menutupi pembicaraan Cornelius dan Tuan Bernando.
"Oh gitu, atau mungkin mereka tidak akan muncul beberapa hari ke depan,
bisa jadi karena dia tahu kalau kita sedang waspada.
"Betul, aku pikir juga seperti itu." balas Irene.
__ADS_1
Kalau gitu, aku mau mandi dulu. Tolong awasi Cornelius Terus, selama aku pergi nanti.
"Kau mau pergi ke man" ucap Cornelius dengan ekspresi yang serius
"Kerja." ucapnya dengan santai
"Untuk apa pergi kerja? kau di sini saja untuk sementara waktu. Aku yang akan menghubungi Tuan Mahesa, memintanya agar kau diberi cuti untuk beberapa hari ke depan. Dan kau tidak perlu khawatir dengan pekerjaanmu itu."
"Kalau aku dipecat bagaimana?
"Aku tidak kekurangan uang, aku bisa membiayai kebutuhanmu seumur hidup.
"Aku tidak mau seperti itu. Aku mau dari hasil kerjaku sendiri bukan darimu."
"Kalau begitu, Aku bisa mencarikan perusahaan yang jauh lebih bagus dari Mahesa grup. Aku punya banyak orang punya perusahaan yang lebih baik dari itu.
Tapi....
Irene dengarkan perkataannya Itu demi kebaikanmu. Kau lihat dia sedang terluka, dan kau ingin pergi kerja meninggalkannya di sini.
Apa kau tidak kasihan padanya? Dia terluka karena mau melindungimu, dan sekarang kau tidak mau dengarkannya?" sambungnya memarahi putrinya yang keras kepala.
Irene seketika melirik ke arah Cornelius. lalu berbalik menatap Ayah dengan kepalanya yang tertunduk, merasa dirinya terlalu egois.
"Aku minta maaf Ayah, aku tidak bermaksud seperti itu.
"Kalau begitu dengarkan perkataannya.
Ayah minta kepadaMu, apapun yang dikatakan Cornelius kelak, kau harus patuh sebagaimana kau patuh pada ayah.
Irene mengerutkan keningnya, kaget mendengarkan perkataan Tuan Bernando. "Apa? Ayah tidak salah?
"Tidak! ini perintah yang kau harus patuhi. "Paham!!!!
"Baik ayah."
Tuan Bernando berdiri dari kursinya berbalik pergi meninggalkan meja makan
Timothy juga ikut berdiri dari kursi, pergi meninggalkan Irene dan Cornelius berdua saja di sana.
Aku minta maaf, kalau aku terlalu egois padamu." ucap Irene penuh dengan rasa bersalah.
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓