
"Maaf karena aku kalian semua harus menghadapi mereka, andai saja aku kuat seperti ayah. Aku pasti tidak bisa membelah diriku saat mereka berusaha menculikku saat itu dan Kalian tidak perlu seperti ini."
"Jangan salahkan dirimu, ini sudah kewajiban ayah untuk melindungimu."ucapnya tersenyum melepaskan pelukannya. di saat yang bersamaan sisa anak buah Cornelius masih hidup datang berkumpul menemui Tuan mereka.
Mereka semua berdiri di belakang Cornelius.
"Ayo kita pulang."ucapin menggenggam tangan ayahnya tersenyum menatap wajah ayahnya terasa hari dini hari wajah ayahnya semakin menua, tangan yang selalu dia genggam terasa begitu kasar tak seharus dulu lagi.
Irene menarik tangan ayahnya pergi bergabung bersama Cornelius, mereka kembali berkumpul. Mereka berbalik jalan. diikuti dengan anak buah Cornelius yang tersisa di belakang mereka.
Cornelius dan Irene tampak berjalan sambil bergandengan tangan. Di mana posisi mereka berdua ada di tengah-tengah Timoty dan Tuan Bernando.
tiba-tiba saat mereka sudah melangkahkan kakinya keluar dari gedung tua itu.
Dor......
tembakan jarak jauh terjadi cepat di depan mereka semua. anak buah Cornelius seketika lari ke depan melindungi para tuannya mengangkat senjatanya melihat ke seluruh arah.
Tuan Bernando dan Cornelius seketika berdiri di depan Irene. Ditambah dengan Timoty yang ikut berdiri mengelilingi Irene. mereka bertiga mengangkat senjatanya melindungi Irene, sedangkan Iran tampak menutup telinga dengan mata yang terpejam kaget mendengar suara tembakan untuk kedua kalinya.
Dor....
"Sial, ternyata ini belum berakhir."ucap Cornelis menggertakkan giginya kesal masih saja ada yang mau menyerangnya.
Suara tembakan kembali terdengar.
Dor....
Dor...
Dor.....
tiga anak buah Cornelius yang berdiri di depan tumbang setelah mendapat tembakan di kepala dan dada mereka.
"Cornelius lindungi Irene!"teriak tuan Bernando.
"Berpencar!"sambungnya memerintahkan mereka semua akan bubar dari lingkaran itu, mencari tempat jauh lebih aman dan membuat penembak itu akan sulit memilih targetnya.
Cornelius menarik tangan irian lari membawanya pergi ke belakang helikopter, bersembunyi di sana. sedangkan Tuan Bernando lari ke belakang tiang bangunan depan seorang diri. Timoty beserta anak buahnya lari bersembunyi di balik helikopter milik Tuan Jason dan Tuan Thomson yang mereka gunakan saat datang ke sana.
tembakan kembali terdengar dan kali ini tembakannya mengarah ke tempat Cornelius dan Irene.
Dor ...
Dor....
Dor....
Cornelius yang posisinya jongkok seketika merangkul Irene memeluknya. Setelah tumbukan itu dilontarkan ke tempat mereka berdua. Tuan Bernando langsung tahu dari mana asal tembakan itu.
"Ternyata ada orang di atas sana."ucapnya melihat ke atas bangunan menjulang tinggi yang berbentuk tiang lonjong dengan atap kerucut kecil di ujung menara. Di mana ada Tuan Jason yang berdiri memegang senjata sniper bersama tangan kanannya.
__ADS_1
Ternyata tidak hanya satu ada dua orang sedang menembak ke arah mereka. tangan kanan Tuan Jason mengincar Timothy dan anak buah Tuan Cornelius.
Dor...
Dor...
Dor ..
Tembakan kembali dilepaskannya. tembakan kali ini diarahkan ke dirinya, Karena tampaknya tangan kanan Tuan Jason dan Jason sudah tahu Tuan Bernando melihat tempat mereka.
Tembakan kembali dilontarkan.
"Dor ....
"Dor.....
"Dor.....
Tuan Bernando lari ke tiang lainnya, sebelum bangunan yang hancur itu mengenainya.
Irene yang melihat ayahnya hampir terkena runtuhan bangunan. "Ayah!"teriaknya berdiri ingin lari pergi menghampiri ayahnya. tapi Cornelis menarik tangannya Dan di saat itu juga tambahkan kembali terjadi.
Dor...
Dor...
Dor...
"Jangan keluar!"ucap Cornelius
"Tapi ayah bagaimana?"ucapnya dengan nada suara gemetar masih kaget dengan suara tembakan tadi ia pun menangis sesungguhkan khawatir akan keselamatan tuan Bernando.
"Ayahmu orang yang hebat, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Kalau kau yang keluar, itu akan membuat ayahmu semakin kesusahan untuk melindungimu. Kau tidak mau ayahmu terluka kan?"
"Iya."
"Jadi Tolong dengarkan aku, Kau wanita yang pintar."
Irene menganggukkan kepala.
Di tempat lain tangan kanan Tuan Jason dan Tuan jasan terus melontarkan tembakan.
"rencanaku yang seharusnya membakar kalian hidup-hidup di gedung tua itu sudah hancur, tapi bukan berarti kalian bisa lolos begitu saja."ucapkan Jason sambil membidik ke anak buah Cornelius.
Tembakan yang untuk ketiga kalinya membuat helikopter itu terbakar. Timothy beserta anak buah Cornelius terpental jauh karena ledakan air yang keluar dan membakar helikopter itu.
Senyuman lebar mengembang di wajah Tuan Jason, walaupun punggung terluka parah dan darah tak berhenti keluar dari luka tembakan di belakang bahu kirinya, Tuan Jason masih kuat memegang senjata.
Timothy dan anak buahnya tampak berbaring telungkup ke tanah dengan posisi tangan dan wajah mereka menempel ke tanah.
Timothy pernah mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya yang bergetar berusaha bangkit.
__ADS_1
"Sial, kalau begini kita semua bisa mati."ucapkan bernanduk bingung Bagaimana caranya dia bisa mengalahkan Tuan Jason dan anak buahnya yang berada di atas menara bangunan tua itu Sedangkan posisinya dia berada di bawah dan tidak memiliki senjata.
Tiba-tiba Irene kembali berteriak.
Boomnm...
sebuah ledakan besar terjadi getaran tanah mengguncang semua orang.
"Ayah!"teriaknya menangis dengan tangan kanannya yang lurus ke depan seperti mencoba menggapai ayahnya yang jauh darinya.
Cornelius berada di belakangnya langsung memeluk Irene, ikut merasakan kesedihan Irene saat ini.
ledakan besar yang terjadi, pada Tuan Bernando, membuatnya diingat dengan pesan yang dikatakan Tuan Bernando terakhir kali padanya untuk menjaga Irene apapun kondisinya nanti.
"Lepaskan aku! teriak Irene memberontak ingin melepaskan dirinya dari pelukan Cornelius.
"Lepas!"ucapnya menangis histeris memberontak.
Cornelius tampak tidak membiarkan Irene melepaskan kedua tangannya.
"Ayah!! teriaknya histeris melihat keruntuhan bangunan berjatuhan.
Saat Tuan Bernardo sedang memikirkan Bagaimana caranya bisa mengalahkan Tuan Jason dan anak buahnya, di saat itu juga ledakan kembali terjadi. di mana penyebabnya adalah bom yang dipasangkan oleh Tuan Thomson dan Tuan Jason sebelum mereka menyambut kedatangan Cornelius.
Tuan Jason dan Tuan Thomson berencana akan menjebak mereka, tetapi ternyata rencana mereka tidak seperti apa yang mereka inginkan.
Tiba-tiba beberapa kali ledakan kembali terjadi.
Tuum .....
Tuum.....
Tuan Jason dan anak buahnya seketika jongkok saat ledakan itu terjadi, menyebabkan bangunan tua yang besar itu setengah hancur. Ditambah dengan asap yang bercampur dengan menggelar di udara, bagaikan hujan debu yang disertai puing-puing reruntuhan bangunan.
Irene dan Cornelius tampak jongkok menundukkan kepala memeluk Iran yang menangis dengan erat.
Sedangkan Tuan Bernando kini sudah berbaring di tanah tubuhnya sudah semakin melemah bersatu dengan puing-puing bangunan tua yang ikut mengenai dirinya.
Cucuran Darah segar tampak keluar dari sela-sela reruntuhan bangunan yang menindas Tuan Bernando. Di bagian kepala juga mengeluarkan banyak cucuran darah di tanah.
Kelopak mata Tuan Bernando tampak bergerak debu yang memenuhi wajah dan darah membuat penglihatannya begitu buram. iya menatap ke langit Memanggil nama putrinya. "Irene.....!!!! panggilnya sambil berusaha mengeluarkan diri dari puing-puing bangunan yang terjatuh di dekatnya dan kakinya tertimpa reruntuhan bangunan.
Tetapi ia tidak mampu mengeluarkan dirinya sendiri dari reruntuhan bangunan itu. Karena balok besar menimpa kakinya. Irene menangis histeris dalam pelukan Cornelius seperti orang gila. Mengamuk menarik kemeja Cornelius meremasnya penuh dengan rasa bersalah.
"Ini semua karena aku, bodoh!!!!! ucapnya menangis memukul kepalanya. Irene benar-benar menangis histeris Ia khawatir kalau Tuan Bernando akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak "Antara kutub Utara dan Selatan.(YOU & ME