Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 146.SELAMATKAN AYAH SAYA _GKMBM


__ADS_3

Terlihat dokter Aliando sudah mempersiapkan segala alat dan obat obatan yang akan di perlukan untuk membantu Tuan Bernando. Bahkan perawat dan dokter Ahli di bidangnya untuk menyelamatkan Tuan Bernando sudah di persiapkan, Jika mereka sudah tiba di rumah sakit.


Di atas rumah sakit dokter Aliando sudah menunggu helikopter yang membawa Tuan Bernando. Beberapa suster sudah bersiap di sana membawa branker agar dokter Aliando segera dibawa Tuan Bernando ke ruang operasi, untuk melakukan tindakan medis.


Angin kencang dari baling-baling helikopter terasa membuat baju dokter Aliando berterbangan dan saat helikopter itu sudah mendarat. Terlihat Cornelius turun terlebih dahulu dengan membantu irene turun dari dalam helikopter. Saatnya Cornelius dan dokter Aliando membopong tubuh Tuan Bernando dan membaringkannya di atas branker yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Timothy kembali menerbangkan helikopter itu membawanya dari areal rumah sakit. "Kita harus segera melakukan tindakan medis." ucap Aliando sambil langsung masuk ke dalam lift membawa Tuan Bernando ke ruang operasi.


Irene terus menangis menatap wajah ayahnya yang semakin melemah. "Tolong selamatkan ayah saya. tolong dokter, selamatkan ayah saya." berulang kali Irene memohon kepada dokter Aliando agar dokter Aliando berusaha menyelamatkan tuan Bernando.


Kini Tuan Bernando sudah berada di ruang operasi. Terlihat dokter Aliando dan rekan yang ahli di bidangnya sudah bersiap Di ruang operasi.


"Sepertinya ada pendarahan di otak Tuan Bernando, kita harus segera melakukan tindakan operasi. Kami meminta persetujuan dari kamu Nona Irene." ucap dokter Aliando kepada Irene agar Irene membubuhi tanda tangan di surat persetujuan operasi yang akan dilakukan kepada Tuan Bernando.


Dengan tangan gemetar Irene Langsung membubuhi tanda tangannya. "Tolong selamatkan ayah saya, Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya." mohon Irene kepada dokter Aliando.


" Nona Irene Tenang saja. Kami pasti akan menyelamatkan Tuan Bernando. Kami akan berusaha semaksimal mungkin." ucap dokter Aliando sambil meninggalkan Irene dan juga Cornelius di sana. Ia berharap Tuan Bernando akan selamat dan baik-baik saja.


****


Satu minggu telah berlalu. Setelah kejadian itu kehidupan Irene dan Cornelius kembali tenang. Tapi jiwa Irene tampak masih merasakan kesedihan yang begitu mendalam, karena Tuan Bernando belum juga sadarkan diri. Ia merasa dirinya tidak mampu menyelamatkan Tuan Bernando. Sosok pria yang menuntunnya setiap langkah dari kecil sampai tumbuh dewasa.


Kedekatan mereka begitu dalam, memberikan banyak memori yang membuat tangisan Irene bisa pecah kapan saja saat dia mengingat ayahnya. Seperti keadaan sekarang di mana Irene tepat berada di samping branker. Yang mana Tuan Bernando berbaring lemah di sana dilengkapi dengan alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya.


Ia terlihat menatap tuan Bernando dengan tatapan seksama, dengan memegang tangan Tuan Bernando. Ada raut kesedihan yang sedang disembunyikannya. Dia tidak mau terlihat cengeng di depan ayahnya, walaupun ayahnya tidak sadarkan diri. Karena ayahnya membenci Irene kalau cengeng.

__ADS_1


Dia berusaha tersenyum, walaupun hatinya terasa begitu sakit. Irene tetap menatap Tuan Bernando, meletakkan rangkaian bunga kesukaan ayahnya tepat di atas nakas di samping branker yang ditempati oleh Tuan Bernando.


Sudah satu minggu peristiwa itu terjadi, tapi aku belum bisa menerima kenyataan kalau Ayah masih tetap berbaring di sini. Ayah pasti kuat. Ayah harus bangun demi Irene dan juga demi Cornelius. Ayah harus menyaksikan pernikahanku dengan Cornelius. Ayah harus kuat dan tetap bertahan. Aku yakin dan percaya, Ayah orang yang mampu menaklukkan apapun. Karena Ayah adalah orang yang baik dan mampu melakukan apapun untuk kebahagiaan Irene.


"Hari ini Irene ingin bercerita sekaligus meminta izin pada Ayah. Beberapa minggu lagi, aku dan Cornelius akan melangsungkan pernikahan. Aku harap Ayah bisa ada di sana melihat momen kebahagiaan itu."Ayah harus bangun dan menyaksikan pesta pernikahan Irene dengan Cornelius, lelaki yang Irene cintai."ucap irene sambil melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


Itu adalah cincin lamaran yang diberikan Cornelius kepadanya. Karena Cornelius tidak ingin Irene berpaling kepada lelaki lain, sehingga ia pun dengan cepat melamar Irene karena Cornelius takut kehilangan Irene. Cornelius sudah kehilangan ibunya. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang sangat ia cintai untuk kedua kalinya.


"Aku juga berharap, Ayah merestui hubungan kami. Aku belum memberitahu Ayah kalau aku sangat mencintai pria itu, melebihi aku mencintai diriku ayah. Tak tahu kenapa aku sangat membenci dirinya saat pertama kali bertemu.


Aku bahkan tidak ingin dekat sejengkal pun dengan pria itu. Tapi sekarang aku malah sangat mencintainya dan tidak ingin jauh-jauh darinya. Pepatah yang sering Ayah katakan ternyata benar


" Jangan terlalu amat membenci seseorang, karena bisa jadi rasa benci yang begitu besar akan berubah menjadi cinta, yang jauh lebih besar sampai kau lupa pernah membencinya."


Irene mengangkat kepalanya tersenyum. "Aku pamit pulang dulu ayah. Cornelius titip salam buat ayah, dia juga mau bilang maaf. Karena hari ini dia tidak ikut seperti biasanya menemaniku bertemu dengan ayah. Dia juga berharap Ayah cepat bangun kembali, dan dapat berkumpul kembali dengan Irene dan juga Cornelius.


Cornelius hari ini ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Tapi ayah jangan khawatir, Ada anak buahnya yang menemaniku ke sini. Dan dokter Aliando selalu standby menjaga ayah disini. Irene hanya sebentar saja perginya. Nanti Irene akan balik lagi ke sini. Itu yang harus Irene kerjakan." ucap Irene sambil mengelus wajah pucat Tuan Bernando.


Irene berdiri menatap ayahnya yang berbaring lemah di atas branker. Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan ayahnya begitu saja Di sana. Tetapi Dia harus mengerjakan sesuatu hal penting terkait keselamatan Tuan Bernando. Irene berbalik pergi meninggalkan tuan Bernando di ruang rawat inap khusus yang ditempatkan oleh dokter Aliando, dengan dua anak buah Cornelius yang berdiri mengawal Irene di belakang.


Irene keluar dari pintu ruang rawat inap, Tuan Bernando pergi ke mobil yang terparkir di parkiran rumah sakit. Ia masuk dan duduk di kursi belakang, sedangkan kedua anak buah Cornelius duduk di kursi depan.


Mobil pun berjalan meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Irene tampak melihat keluar kaca memperhatikan langit yang cerah di pagi hari. Ia ingin menemui seseorang yang bersedia untuk menyumbangkan ginjalnya kepada tuan Bernando. Karena ginjal Tuan Bernando mengalami kerusakan pasca kejadian tragis yang menimpa Tuan Bernando.


Tiba-tiba suara deringan ponsel milik Irene terdengar jelas di telinganya.

__ADS_1


Kring


Kring


Kring


Ponsel Irene berdering. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


"Hello


"Masih ada di rumah sakit? ucap Cornelius yang tampak tengah berdiri di jembatan dermaga sambil melihat lautan yang terbentang luas, dan beberapa kapal yang ada di sana.


"Tidak, aku sekarang lagi di mobil menuju tempat di mana seseorang yang bersedia untuk mendonorkan ginjalnya kepada ayah. Memangnya ada apa?


"Tidak, ada aku cuman ingin mendengar suaramu sebelum aku pergi."


"Belum juga satu jam, kita berpisah kau sudah merindukanku. Bagaimana kalau kau pergi berhari-hari meninggalkanku, mungkin kau akan meneleponku setiap detik kali ya." ucapnya sambil tersenyum.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak "Antara kutub Utara dan Selatan.(YOU & ME

__ADS_1


__ADS_2