
"Aku hanya gampang terpengaruh olehmu. Kalau bukan karena kau yang memintanya aku tidak akan melakukannya.
Aku bukan tipikal orang seperti itu. Tapi apapun yang kau katakan akan aku turuti, asal kau akan selalu di sampingku.
Tangan Cornelius perlahan memegang tangan Irene yang ada di atas meja menatapnya penuh kasih sayang. Empat mata kembali saling menatap gelombang mata cinta antara mereka berdua mulai saling terhubung lewat tatapan.
Cornelius perlahan masuk menarik dagu dengan lembut mengecup bibir manis irene mata Irene perlahan tertutup merasakan sentuhan bibir Cornelius menyentuh bibirnya.
Tiba-tiba pintu terbuka Irene mendengar suara itu refleks mendorong tubuh Cornelius sampai membuatnya hampir terjatuh dari kursi, untung Cornelius berpegangan di meja kalau tidak dia sudah pasti terjatuh ke lantai.
Pelayan yang berdiri di depan menyembunyikan tawanya, di balik wajahnya yang datar. Dia ingin sekali tertawa, tapi dia tahu sedang berada dimana sekarang dan siapa orang ia akan tertawai itu.
Cornelius memperbaiki posisi duduknya sedangkan Irene mengusap bibir dengan kondisi wajah yang malu.Pelayan wanita yang berdiri di ujung pintu berjalan masuk ke dalam. saat Melihat tangan Cornelius yang memanggilnya.
"Tuan yang anda minta sudah kamu siapkan." ucap wanita itu berdiri tidak jauh dari meja. "Bawa masuk."
"Baik tuan." ucap wanita itu berbalik pergi meninggalkan mereka.
"Apa yang kau minta mereka siapkan tanya Irene penasaran.
"Nanti juga kau tahu." ucapnya tersenyum.
Para pelayan di restoran masuk ke dalam berdiri di depan meja berjejer dengan rapi, di tangan mereka membawa buket bunga besar dengan jenis bunga yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang diucapkan Irene saat di depan kantor.
Beberapa pelayan itu satu persatu berjalan ke kursi Irene memberikan bunga yang mereka pegang kepadanya. "Semoga nona menyukainya." ucap pelayan yang pertama memberikan bunga mawar merah dilanjutkan dengan bunga melati putih, bunga mawar putih Dan juga bunga tulip.
Tangan Irene tak sanggup memegang beberapa buket bunga itu. Dia meletakkannya di atas meja makan dengan wajahnya yang kebingungan. "Mengapa kalian memberikan bunga sebanyak ini kepada Ku?
Para pelayan itu tidak menjawab pertanyaan Irene tapi Cornelius yang menjawabnya. Aku yang menyuruh mereka. Bagaimana apa kau menyukainya?
__ADS_1
"Suka, tapi untuk apa kamu membeli bunga sebanyak ini? dan ukuran buketnya juga sangat besar. lagi pula aku cuman sanggup memegang satu bunga saja." ucap Irene
"Tidak apa-apa, kau bisa pilih mana bunga yang kau suka. Sisanya terserah mau diapain
"Ya ampun, ucap yang memegang kepalanya pusing harus memilih bunga mana yang akan dibawa.
Dari beberapa bunga yang ada, Irene memilih mengambil bunga tulip.
Padahal ada bunga mawar paling disukai para wanita tapi dia mengambil bunga tulip karena ada satu alasan tersendiri.
"Aku akan mengambil ini. Sisanya untuk kalian." ucap irene kepada para pelayan sambil tersenyum.
"Terima kasih nona." ucap salah satu pelayan itu. Karena sudah selesai makan, bisakah kau mengantarku kembali ke kantor? jam waktu makan siang sudah berakhir. Aku harus kembali ke kantor sekarang.
Cornelius mengangguk, ia berdiri dari kursi mengeluarkan tangannya dengan senyum manis. Ayo kita pergi." Irene meraih tangan Cornelius berdiri dari kursi berjalan bersama keluar dari ruangan itu.
Sebelum keluar dari pintu Irene menanyakan satu pertanyaan. Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk makan siang di restoran mahal seperti ini?" ucapnya dengan nada suara yang pelan tidak mau ada yang mendengar pertanyaannya.
Cornelius tersenyum menoleh mengusap kepala Irene. Aku tidak akan kekurangan uang empat puluh ribu dolar itu tidak seberapa bagiku. Irene memang tidak tahu berapa banyak uang yang bisa Cornelius dapat dalam sehari, dari sejumlah penjualan illegal di pasar gelap yang kelompoknya lakukan.
Selain itu saham-saham miliknya yang ada di perusahaan perusahaan yang ia tanamkan juga memiliki keuntungan yang sangat besar. Dalam sehari Cornelius bisa mendapatkan jutaan dollar. Jadi uang segitu tidak akan membuatnya jatuh bangkrut. Cornelius melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju kantor. Di mana Irene selama ini bekerja.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka sampai di depan kantor. Mobil Cornelius berhenti di pinggir jalan, tidak masuk dalam area halaman kantor seperti dia menjemput Irene tadi.
Ini semua kemauan Irene dan Cornelius hanya mengikuti apa permintaan gadis kecilnya itu. Irene turun dari mobil melambaikan tangannya sebelum Cornelius pergi.
Cornelius menurunkan kaca mobilnya tersenyum. Tiba-tiba Irene menjatuhkan bunga pemberian Cornelius.
Irene berlari di depan mobil karena dia pergi ke jalan raya Cornelius, sontak keluar dari mobilnya mengejar Irene menerobos kendaraan yang lewat tidak memikirkan bahaya dari tindakannya itu.
__ADS_1
Irene berlari dengan cepat memeluk anak kecil yang ada di jalan raya dalam pelukannya berguling ke jalan ke pinggir jalan. Sebuah mobil Truck melewati Irene yang berguling di pinggir trotoar.
Untung saja Irene datang tepat waktu kalau tidak anak kecil yang dalam pelukannya pasti sudah celaka.
"Aduh!" jeritnya berusaha bangkit. Anak kecil dalam pelukannya diam ketakutan memeluk Irene.
Irene duduk di pinggir jalan mengusap punggung anak kecil itu. " jangan takut kau sudah aman bersamaku. Cornelius datang dengan wajah paniknya, jongkok di samping Irene. "Kau tidak apa-apa kan? ucapnya dengan nada suara cemas.
Ia melihat wajah Irene tidak ada yang luka di sana.
" Aku tidak apa-apa. Seorang ibu dari kejauhan tampak berlari menghampiri Irene. ibu itu menangis berteriak memanggil nama anaknya. Darin teriaknya Jongkok mengambil anak kecil itu dari pelukan Irene.
Ibu itu memeluk anak lelaki dengan erat menangis.
"Terima kasih kalian sudah menolong putraku." ucap ibu itu menangis memeluk putranya.
"Sama-sama bu, tapi lain kali anaknya jangan dibiarkan dia sendiri di jalan raya. Bahaya Bu balas Irene.
"Iya nona, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak.
Irene mengangguk tersenyum. ibu itu menggendong putranya membawanya pergi dari sana, meninggalkan Cornelius dan Irene.
"Kita harus ke rumah sakit." Ucok Cornelius panik menggendong Irene.
" Aku tidak apa-apa ." ucap Irene
Cornelius tidak memperdulikan perkataan Irene dia fokus ke depan menyeberang, melewati puluhan kendaraan yang melaju cepat ke arahnya. Dia berjalan di tengah-tengah jalannya memeluk Irene dalam pelukannya.
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓