
Kau benar-benar Lelaki gila. Jujur aku baru bertemu dengan lelaki seperti.
"Kau sudah lihat sendiri? jadi cepat datang kemari teriak Cornelius membentak. Para pelayan di rumah itu mendedikasikan hidup mereka pada Cornelius. Jadi hanya sebuah nyawa, tidaklah berarti bagi mereka daripada melawan perintah Cornelius.
Pikiran bodoh. Tapi itulah kenyataannya. Rasa takut yang ditanamkan Cornelius pada para pelayan lebih besar daripada akal sehat yang mereka miliki. Irene yang tidak mengerti kenapa pelayan itu bisa mengikuti perintah Cornelius, membuat jiwanya seperti terguncang melihat pelayan itu bunuh diri karena dirinya.
Irene dengan tubuhnya gemetar perlahan-lahan maju dengan kakinya yang terasa berat melangkahkan kaki mendekati Cornelius. Cornelius kali ini menunjukkan taringnya di depan Irene. Irene kembali duduk di kursi, dengan Tatapan yang masih belum percaya apa yang dia lihat sekarang.
Sedangkan para pelayan tampak biasa saja. Padahal Irene ketakutan setengah mati. Ingin langsung lari dari sana. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Cornelius mengelus kepala Irene sambil tersenyum. Akhirnya Irene mau duduk makan bersamanya.
"Ayo makan, aku tidak mau kau sampai sakit nanti." perintah Cornelius dengan lembut sambil mengusap kepala Irene. Dengan tangan gemetar, Irene memasukkan makanan ke dalam mulut dengan tetapan yang membulat melihat ke depan.
Sedangkan Cornelius memperhatikan wanita kesayangan nya makan dengan senyum kecil di bibirnya. Sambil mengelus rambut Irene yang tampak indah dipandangnya.
Setelah makanan Irene habis, dia pun mengambil gelas berisikan air putih yang sudah disediakan di samping piringnya. dengan tangan yang gemetaran.
Perlahan-lahan air itu, turun membasahi tenggorokannya yang sudah kering. Dengan perasaan yang terguncang, Irene berdiri dari kursi. Aku ingin kembali ke kamar." ucapnya datar.
Cornelius pun menyiakan permintaan Irene dia menggandeng tangannya membawanya pergi, melangkahi mayat pelayan yang masih tergeletak di lantai bersimbah darah.
Sesampai di kamar, Irene langsung berbaring di tempat tidur dengan posisi yang menyamping membelakangi Cornelius. "Aku mohon biarkan aku sendiri. Minta Irene dengan nada suara yang pelan.
__ADS_1
Cornelius yang berdiri di samping ranjang tampak datar mendengar permintaan Irene. Cornelius perlahan melangkah maju membuat jantung Irene berdetak kencang dengan rasa takut menghantuinya. Jantung Irene terasa berhenti sejenak, karena Cornelius yang tiba-tiba mencium pucuk kepalanya.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu tidur dengan nyenyak. Karna malam ini kau harus menemaniku ke suatu tempat." ucap Cornelius sambil tersenyum terbalik meninggalkan kamar Irene.
Mendengar langkah kaki Cornelius sudah menjauh, Iren sontak bangun dari ranjang dengan ekspresi yang masih ketakutan dengan kejadian tadi di ruang makan.
"Pria macam apa dia? Kenapa para pelayan itu bahkan dengan sukarela mengikuti perkataannya?" Irene masih tidak habis pikir dengan kejadian siang itu. Ini pertama kalinya dia melihat sisi kejam Cornelius yang begitu tragis, Dan bertemu dengan sosok pria seperti Cornelius.
"Aku harus pergi dari sini terbebas dari pria kejam sepertinya." Aku tidak ingin hidupku sia-sia. Aku belum memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuaku selama ini. Aku belum bisa membalas Budi baik kedua orang tuaku." Irene bermonolog sendiri
"Tapi bagaimana caranya? keluar dari sini saja tidak bisa apalagi mau kabur? gumam Irene sambil memukul keranjang." karena bingung mencari cara bagaimana caranya melarikan diri dari genggaman Cornelius.
Irene tiba-tiba teringat dengan sesuatu tadi dia bilang, aku harus menemaninya ke suatu tempat. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini bagaimanapun caranya. Malam ini aku akan kabur dari sini.
Irene sudah membulatkan tekadnya malam ini saat Cornelius, membawa keluar dari sini dia akan mencari celah untuk kabur.
Malam hari pun tiba. Sesuai dengan permintaan Cornelius tanpa membantah satu kata pun darinya. Irene menerima pemberian pakaian yang diberikan Cornelius untuknya.
Irene berdiri di depan cermin. Melihat pantulan dirinya yang cantik mengenakan gaun berwarna biru yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sedikit belahan di tengah dada. Membuat aura kecantikan Irene semakin terpancar. Hingga setiap kaum Adam yang melihatnya akan terpesona.
Cornelius muncul dari belakang memeluk Irene sambil tersenyum melihat betapa cantiknya wanita pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"Kau benar-benar sangat cantik."puji Cornelius tepat di telinga Irene. Hembusan nafas Cornelius yang mengenai telinga Irene membuat bulu kuduknya langsung merinding.
Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke dalam kamar Irene."Tuan Aku membawa barang yang tuan minta."ucapkan wanita itu berdiri di depan pintu kamar.
"letakkan saja di tempat tidur." ucapnya dengan nada terkesan dingin.
"Baik Tuan!"
Pelayan itu masuk ke dalam dan meletakkan sebuah paper bag berukuran besar berwarna hitam dengan tulisan merk branded ternama.
"Aku masih punya hadiah untuk kamu sayang."ucapnya tersenyum Sambil memandangi wajah cantik Irene dari cermin.
Irene menghela nafas berat. Sebenarnya dia ingin menghajar Cornelius.Karena sudah berani memeluk dan menggodanya tapi dia harus tahan ,demi rencananya yang ingin melarikan diri dari genggaman pria itu.
Irene menarik tersenyum terpaksa di wajahnya walaupun tubuhnya sebenarnya sudah menolak dengan sentuhan Cornelius. Cornelius melepaskan tangannya dari pinggang irene,Pergi mengambil hadiah yang ia beli untuk Irene.
Tentunya Cornelius sudah mengeluarkan kocek yang lumayan fantastis untuk membeli barang-barang yang akan diberikan kepada Irene. Tetapi uang tidak berarti bagi Cornelius. yang penting baginya wanita yang sangat ia sayangi dan cintai, tetap bersama dirinya. Karena Baru kali ini Cornelius merasakan getaran yang cukup hebat ketika dirinya berdekatan dengan seorang wanita.
Bersambung....
hai semuanya emak Morata datang lagi membawa karya baru. yuk terus ikuti ceritanya. Jangan lupa like, coment, vote, dan hadiahnya "Trimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1