
Sementara di tempat lain, Cornelius, Irene Dan Timothy yang sudah tiba di rumah. tampak Cornelius penasaran siapa sosok orang yang ingin menghadang mereka dan mencoba mengikuti mobil yang mereka tumpangi.
"Apa kau tahu siapa yang ingin membuntuti kita?" tanya Cornelius kepada Timothy.
"Aku curiga yang membuntuti kita salah satu anak buah Tuan Thomson. Karena menurut sepengetahuan saya. ada beberapa anak buah Tuan Thomson yang tidak ikut serta di lokasi pertempuran itu, sepertinya mereka ingin membalaskan dendamnya kepada kita." ucap Timothy tetapi tidak yakin tentang kecurigaannya.
Cornelius tampak berpikir. Ia mengingat-ingat sosok Siapa saja yang sudah tidak bernyawa saat mereka meninggalkan lokasi di mana kejadian yang merenggut banyak nyawa anak buahnya,dan juga merenggut nyawa Tuan Thomson dan Tuan Jason.
Kita pasti akan mengetahuinya Nanti Bos. Setelah nanti beberapa rekan yang membawa mereka ke markas. Kita akan paksa mereka membuka mulut, Siapa yang mengirim Mereka." Ucap Timoty penuh dengan keyakinan. Cornelius mengangguk, saatnya Irene yang angkat bicara.
"Sepertinya aku juga sependapat dengan Timoty. Bisa saja orang yang ingin mengikuti kita adalah anak buah Tuan Thomson. Tapi sepertinya mereka juga memiliki Tuan
pasti di belakang mereka ada seseorang yang membackup mereka." ucap Timothy mencoba memberikan pendapatnya.
Beberapa menit sudah berlalu. Kini Irene sudah memilih untuk istirahat di kamar. Sementara Cornelius dan Timoty menyusul para anak buahnya ke ruang bawah tanah. ingin menyelidiki siapa sosok yang ingin mengusik kehidupan Cornelius saat ini. Saat hidupnya sudah mulai tenang tidak dibayang-bayangi dengan musuh bebuyutannya.
Apalagi pernikahan Cornelius dengan Irene sudah dipersiapkan sedemikian rupa, tinggal menunggu dua hari lagi pesta pernikahan mereka akan dilangsungkan di salah satu Hotel ternama di kota Santa Monica.
Suara hentakan sepatu pancus milik Cornelius terdengar jelas ditelinga para anak buahnya, dan juga para pria yang mencoba menghadang mereka.
Hanya dengan mendengar suara hentakan sepatu itu saja, setiap orang orang nyalinya juga akan menciut. Saat Cornelius sudah memasuki ruang bawah tanah, terlihat para anak buah Cornelius memberi hormat kepadanya.
"Cornelius mencengkram leher Salah satu pria yang mencoba membuntuti mereka.
Pria itu sama sekali tidak menjawab. "Kau mau mati atau kau berterus terang sekarang juga? kau tentunya sudah mengetahui bagaimana kekejaman Cornelius. Sekarang aku bertanya kepadamu, siapa yang menyuruh kalian mengikuti mobil yang kami tumpangi?" kembali Cornelius bertanya kepada pria itu, tapi tak seorangpun yang berani menjawab. Hal itu membuat Cornelius menjadi sangat emosi. Ia meraih pistol yang ada di balik jasnya.
Dor....
Peluru dari pistol Cornelius bersarang di kepala salah satu pria yang mencoba mengikuti mereka, membuat yang lainnya menjadi semakin ketakutan dan tidak berani menatap Cornelius.
__ADS_1
"Kalian ingin bernasib sama seperti dia? tanya Cornelius sambil menatap para pria yang ada di hadapannya dengan tatapan elang. Seolah dirinya ingin menelan pria-pria itu hidup-hidup.
Saat ini juga, para pria itu tidak berani membantah. Selain hanya menggelengkan kepala. Mereka tidak ingin bernasib sama dengan rekan mereka yang sudah mati lebih dulu, akibat tembakan yang dilakukan Cornelius ke bagian kepalanya.
"Kalau kalian tidak ingin bernasib sama dengan dia, lebih baik kalian berterus terang kepada saya, siapa yang mengirimkan kalian membuntuti saya?" tanya Cornelius.
Tak ada seorangpun yang berani berbicara selain hanya menundukkan kepala.
"Jawab!!! bentak Cornelius karena dirinya tak kunjung mendapat jawaban dari para pria yang ada di hadapannya.
"Tu.....Tuan Albert."jawab Salah satu di antara mereka
"Albert?
" Ya, Albert merupakan salah satu putra dari Tuan Thomson yang terlahir dari selirnya. walaupun Tuan Thomson tidak menikah di mata hukum dan agama, tetapi ada beberapa Putra biologisnya dari para selirnya.
Tak banyak yang mengetahui hal itu. Tapi sepertinya yang dikatakan Timothy benar adanya. "Di mana tuanmu?
"Jawab!!!! teriak Cornelius membuat nyali Mereka pun semakin menciut. Apalagi setelah melihat kematian salah satu rekan mereka.
"Di Santa Barbara Tuan." sahut salah satunya. Cornelius memberi kode kepada Timoty, memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Albert yang ingin berniat membalaskan dendam kepada Cornelius. Tanpa mengetahui kesalahan apa yang sudah dilakukan Tuan Thomson terhadap Cornelius dan juga keluarganya, yang ia tahu kalau Cornelius yang membunuh Tuan Thomson dan para anak buahnya saat pertempuran itu terjadi.
Albert mendapatkan perintah dari ibunya untuk membalaskan dendam sang ayah. Padahal ibunya juga mengetahui bagaimana kekejaman Tuan Thomson selama ini. Tapi bagaimanapun wanita itu ingin sekali kematian ayah dari anaknya diusut sampai tuntas. Walaupun mereka tidak mengetahui apa penyebab kematian Tuan Thomson.
"Ikat mereka, dan kurung!" perintah Cornelius lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah diikuti oleh Timoty
"Pastikan pesta pernikahan saya tanpa ada hambatan apapun. Aku tidak ingin terjadi sesuatu di acara pesta pernikahanku dengan Irene.
Karena ini salah satu momen yang paling bersejarah di kehidupan Irene dan juga Aku." ucap Cornelius meminta kepada Timoty memastikan di tempat dan orang-orang yang berjaga di sana benar-benar dapat diandalkan.
__ADS_1
Semua area tempat yang akan diadakan pesta pernikahan Cornelius dilengkapi dengan CCTV di setiap sudut ruangan
Tak ada yang terlepas dari pantauan CCTV selain toilet.
Ratusan anak buah Cornelius dipersiapkan untuk berjaga di sana. Apalagi ia ingin membuat Irene benar-benar Bahagia seperti seorang Ratu Yang merindukan rajanya.
Di tempat lain Rina yang sedang melakukan fitting baju, tampak merasa bahagia melihat pantulan tubuhnya. Karena gaun yang ia pesan kepada pemilik butik itu sesuai dengan permintaannya. Dan ukurannya juga pas di tubuhnya. Membuat aura kecantikan Rina pun semakin terpancar.
"Ngak menyangka ternyata aku cantik juga memakai gaun ini. Kapan ya aku bisa seperti Irene, duduk di pelaminan." gumamnya di dalam hati. Saat Rina sedang asik mencoba gaun yang ia pesan, tampak seorang pria datang menghampiri pemilik butik itu.
"Selamat datang tuan Timothy. Ada yang bisa saya bantu? tanya sang pemilik butik.
"Saya ingin mengambil pesanan Bos saya, apa semuanya sudah disiapkan?" tanya Timoty penuh dengan selidik.
"Tuan Tenang saja, semuanya sudah kami persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Karena kami tidak ingin Tuan Cornelius menunggu lebih lama. Di hari momen bahagianya ini, pasti Tuan Cornelius sangat bahagia." ucap sang pemilik butik sambil mengembangkan senyumnya.
Saat itu juga Rina hendak keluar dari butik itu, setelah memastikan gaun pesanannya sesuai seperti yang ia inginkan. "Terima kasih Nyonya, Mbak, karena gaunnya sesuai dengan permintaan saya." ucap Rina membuat Timothy mengalihkan pandangannya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Timoty terheran melihat Rina berada di sana.
"Seharusnya saya yang bertanya. Ngapain Tuan di sini? Saya seorang wanita sudah wajar dong saya berada di butik seperti ini.
Timothy menghela nafas, lalu meraih paper bag yang sudah dipersiapkan oleh pemilik butik. "Terima kasih Nyonya atas kerjasamanya. Aku berharap Tuan Cornelius dan Irene puas dengan kinerja Nyonya." ucap Timothy sambil berniat ingin melangkah mendahului Rina.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak " PERJUANGAN CINTA ABIMAYU"