
Irene berbalik ke belakang. "Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit?
Tuan Cornelius tidak ingin ke rumah sakit. Dia ingin ke sini.
"Ngapain dia ke sini? aku bukan Dokter
Dia butuh dokter, bukan aku. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang." ucapnya dengan nada suara yang tinggi memarahi Timothy.
"Tidak perlu, aku tidak mau ke rumah sakit Aku membutuhkanmu di sisiku." ucap Cornelius dengan mata yang hampir tertutup. dengan senyuman tipis di bibirnya. Dibarengi dengan kesadarannya yang hampir menghilang.
Irene berbalik memegang tangan Cornelius. "Kenapa kau keras kepala? kau ini terluka, aku tidak bisa mengobati. Hanya dokter yang bisa melakukannya
"Aku akan tetap di sini. Cornelius menolak saran Irene
"Kalau kau tidak ingin ke rumah sakit, Aku akan Panggil dokter yang akan datang ke sini kau tidak boleh menolaknya lagi.
"Terserah padamu.
"Timothy Panggil dokter Aliando ke sini sekarang juga."
"Baik nona."
Timothy langsung pergi menjauh dari sana menghubungi dokter Aliando.
Sedangkan Tuan Bernando berdiri melihat putrinya gemetaran melihat Cornelius terluka.
"Kau akan baik-baik saja."ucap Irene sambil mengusap kepala Cornelius. Ia juga mengecup kening Cornelius sambil berkata. aku akan di sini, untukmu. Jadi aku mohon jangan tutup matamu.
Irene mengatakan seperti itu karena ingin menjaga kesadaran Cornelius, selama mereka akan menunggu dokter Aliando datang ke sana.
"Dia benar-benar mencintai pria ini." batin Tuan Bernando
"Dokter Aliando sebentar lagi akan ke sini." ucap Timothy berjalan mendekat, setelah menghubungi dokter Aliando.
"Irene Terus mengajak Cornelius bicara dia mencoba menahan Cornelius agar tetap sadar.
"Tadi aku masak sop, kata ayah rasanya cukup enak. Apa kau ingin mencicipinya nanti?"
"Tentu, apapun yang kau masak, pasti akan terasa enak." ucap Cornelius tersenyum menahan perihnya luka di balik bajunya.
Irene melihat Cornelis menahan sakit merasa sedih.
Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini? batinnya menatap Cornelius terus-terus menahan perihnya luka di punggungnya.
__ADS_1
"Saat Cornelius menahan sakit, kedua tangan Irene menggenggam tangan Cornelius memberikan kekuatan kepada Cornelius. Saat itu juga tubuh Cornelius bereaksi seperti mendapatkan sebuah aliran energi, yang membuat tubuhnya lebih kuat menahan sakitnya luka di punggungnya.
"Kau pasti bisa Cornelius, aku tahu kau pria kuat." ucapnya tersenyum memandang wajah Cornelius yang terluka parah.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar
Tok....
Tok ....
Tok...
Semua orang langsung berbalik
Irene yang berdiri ingin membuka pintu, Cornelius malah menarik tangan Irene. "Biar Timothy yang membukanya, temani aku di sini.
"Baiklah."
Irene menuruti permintaan Cornelius, dia kembali duduk santai di samping sofa sambil memegang tangan Cornelius yang berkeringat.
Timothy berjalan pergi ke depan pintu,
tangannya juga pelan masuk ke dalam mengeluarkan senjata api, Tangan yang memegang senjata diletakkan di belakangnya dan tangan satunya memegang gagang pintu perlahan membuka pintu.
"Di mana Cornelius?"
"Ada di dalam."
Dokter Aliando buru-buru masuk ke dalam, sambil membawa peralatan dokter yang ada di dalam tasnya.
"Apa yang terjadi, kenapa dia bisa seperti ini?" ucapnya sambil berjalan menghampiri Irene.
"Aku tidak tahu, Timothy dan Cornelius belum mengatakan apa-apa padaku.
"Irene tolong minggir dulu, biar aku lihat sebesar Apa lukanya.
Irene melepaskan genggaman tangan dari Cornelius, tapi Cornelius menarik tangan Irene tak ingin melepaskannya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan pergi kemana-mana." ucapnya tersenyum melepaskan tangan secara paksa
Irene berdiri menjauh dari sofa, dia berdiri di samping tuan Bernando.
Melihat Irene sedih, Tuan Bernardo merusak pundak putrinya. "Dia akan baik-baik saja." ucap Tuan Bernando kepada Irene agar Irene,
__ADS_1
tidak merasa sedih melihat lelaki yang sangat ia cintai merasakan perihnya luka yang ia alami. Cornelius saja melihat luka kecil di tubuh Irene sudah sangat khawatir Bagaimana dengan luka Cornelius yang begitu parah.
Irene menatap ayahnya, dengan wajahnya menunjukkan betapa khawatirnya dirinya atas keselamatan Cornelius.
"Percaya pada ayah, dia baik-baik saja. Dia Lelaki yang kuat.
Irene kembali memandang Cornelius dari jauh. Dia pria yang kuat Aku percaya itu." ucapnya penuh dengan keyakinan dokter Aliando melepas jas Cornelius dari tubuh cornelius lalu membuangnya ke lantai.
Dokter Aliando membuka kotak peralatan dokternya, mengeluarkan satu gunting besi. dengan cepat, dokter Aliando menarik kemeja yang dipenuhi dengan darah, mengguntingnya menjadi dua bagian, sampai memperlihatkan punggung Cornelis memiliki banyak bekas luka di sana.
luka pisau yang lebar tampak menganga terbuka sampai memperlihatkan daging yang dilumuri dengan darah yang bercucuran. Irene merasa tak kuat melihat luka Cornelius, langsung memeluk ayahnya, menutup wajahnya dalam pelukan ayahnya. Tuan Bernando bisa merasakan ketakutan Irene dalam getaran tubuh Irene
"Dia pria yang heba.t Anak itu tidak akan mungkin mati dengan mudah." ucapnya sambil mengusap-usap punggung Irene mencoba menenangkan putrinya.
" lukanya sangat besar" ucap dokter Aliando tampak sangat serius.
Dia mulai mengeluarkan kain kasa dan melebarkannya di atas meja. Dokter Aliando mengeluarkan semua peralatan medisnya mulai dari gunting, alkohol sarung tangan peralatan untuk menjahit luka Cornelius.
"Timothy ,Aku butuh kau memegang senter ini. Timothy langsung mengikuti apa yang diminta dokter Aliando Dia memegang senter kecil itu mengarahkannya ke punggung Cornelius.
Dokter Aliando menuangkan alkohol di samping samping permukaan lukanya dan membersihkan darah darah yang mengalir di sana. Cornelius yang masih sadar terjaga menjerit menahan perih luka yang tak terkena alkohol.
Dokter Aliando dengan serius membersihkan darah yang mengalir keluar dengan. Tumpukan kapas yang dipenuhi darah dibuang di atas jas Cornelius, yang penuh dengan bercak darah. Kapas tak berhenti dibuang, luka besar di punggung Cornelius menyebabkan banyak darah yang mengalir keluar.
Dokter Aliando kembali membersihkan luka Cornelius, dengan kapas yang sudah dibasahi alkohol yang hampir memakan waktu 15 menit.
Sebelumnya dia menjahit lukanya, dokter Aliando menyuntik kan obat bius di bagian-bagian luar luka Cornelius yang sudah dibersihkan. Beberapa menit kemudian, reaksi obat bius bekerja. Dokter Aliando menjahit luka Cornelius, dengan benang yang menyatu dengan daging.
Irene sesekali mengintip keluar melihat kondisi Cornelius. Melihat Cornelius yang meringis kesakitan membuatnya tak berani melihatnya. Ia semakin memeluk erat ayahnya, seperti ikut menahan sakitnya luka yang dirasakan Cornelius saat ini.
Walaupun Cornelius di sudah disuntikkan obat bius di area lukanya. Tapi rasa sakitnya masih terasa. Wajah Cornelius tampak dipenuhi dengan keringat, matanya menyipit menahan rasa sakit dari lukanya. Dokter Aliando tampak mulai menjahit lukanya dengan hati-hati.
Tangan Timothy yang memegang lampu tampak mulai gemetar, sangking lamanya dia berdiri memegang lampu. Dengan tangan lurus di depan, mengarahkan cahaya senter itu tepat di punggung Cornelius.
Tuan Bernando dengan postur tubuh yang tegak, berdiri menatap dokter Aliando menjahit luka Cornelius. Tampak terlihat biasa saja, tapi tangannya tidak berhenti mengusap punggung Irene. dia terus menguatkan hati putrinya itu.
Tuan Bernando melihat itu biasa saja. Karena itu sudah biasa menurutnya. Kalau berhubungan dengan kawanan mafia. menyaksikan operasi kecil mendadak seperti ini, bukan hal yang baru baginya. Kalau untuk putrinya, mungkin adalah hal pertama baginya. Tapi tidak Untuk Tuan Bernando. Sudah banyak hal yang mengerikan dilaluinya. Bahkan kepada dirinya sendiri.
Bersambung......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up yuk mampir ke karya baru emak. "Antara kutub Utara dan Selatan (You & me)"