
Di meja makan Cornelius, Irene ,Tuan Bernando, Ricardo dan juga Rina sedang duduk menyantap masakan buatan Tuan Bernando. Mereka terlihat sangat menikmati makanannya.
Ayah bisa membuat makanan sebanyak ini dari mana bahannya? bukankah persediaan bahan makanan di kulkas sudah kosong?
Ia tadi sempat belanja sedikit dekat sini.
kalian makan yang banyak." ucapnya menoleh melihat ke arah Rina dan Ricardo.
"Iya uncle"ucapnya bersama menganggukkan kepalanya.
Cornelius tampak tenang menikmati makanannya. Tapi tidak terlihat semangat seperti yang lain.
Irene yang duduk di samping Cornelius memperhatikan raut wajahnya. Dia jadi kepikiran dengan perkataan Cornelius.
Apa dia benar-benar ingin menikahiku? batinnya sebelum memperhatikan bibir Cornelius mengunyah makanannya.
Tuan Bernando juga memperhatikan putrinya, yang dari tadi terus melihat ke arah Cornelius.
"Irene, tolong air minumnya." ucap Tuan Bernardo menatap ke depan melihat Irene.
tapi Irene seperti tidak mendengar suara ayahnya karena fokusnya sekarang sedang ada pada Cornelius.
"Irene...., ucapnya kembali memanggil Irene.
tapi hasilnya sama saja, sampai Cornelius Yang mengambil teko kaca yang ada di samping irene.
"Kalau kau ingin minum, bilang saja nanti aku ambilkan." kata irene telah melihat tangan Cornelis bergerak menarik teko itu.
Rina dan Ricardo melihat ke arah Irene dengan tatapan heran. Termasuk ayahnya dan Cornelius.
"Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanyanya bingung.
"Bukan aku yang mau minum, tapi ayahmu dari tadi.
" Ayah memanggilmu, tapi kau seperti sedang melamun ya? balasnya.
Irene seketika berbalik melihat ke arah ayahnya .
"Ayah memanggilku?
"Apa yang kau pikirkan? sampai tidak mendengar panggilan Ayah? jarak kita sangat dekat, tidak mungkin kau tidak mendengar suaraku. Kecuali pikiranmu sedang tidak berada di sini.
"Maaf Ayah, aku melamun.
tangan irene buru-buru bergeser mengambil gelas di sampingnya. Sampai tangannya tidak sengaja menjatuhkan gelas ke lantai
Pyar.....
Semua orang yang ada di sana kaget.
"Irene hati-hati." ucap Cornelius balik terdiri dari kursinya. Cornelius berjalan ke samping kiri memastikan gelas kaca yang jatuh ke lantai tidak mengenai jenjang gadis pujaannya.
"Ada apa denganmu? ucap ayahnya ikut khawatir
"Tidak apa-apa Ayah, aku hanya kurang fokus saja.
Aku akan membersihkannya." sambungnya berniat berdiri dari kursi. Tapi kedua tangan Cornelius menekan kedua bahu melarangnya berdiri.
Kau duduk saja, aku yang akan membersihkannya.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya irene memaksa dirinya berdiri, Tapi lagi-lagi Cornelius menahannya.
__ADS_1
"Tidak boleh, kau nanti terluka. Biar aku yang urus, kau duduk saja di sini."
"Tidak, kau tamu di rumah ini. Biar aku yang melakukannya. Ini rumahku, balasnya tak mau kalah.
"Tidak boleh," ucap Cornelius kekeh melarang Irene.
Saat Irene dan Cornelius berdebat, sapu yang akan membersihkan pecahan kaca itu, di samping mereka. Tuan Bernando sudah berdiri di belakang sapu dengan sendok sampah sambil fokus menyapu pecahan kaca itu.
"Berdebat tidak akan memberikan solusi."
Irene dan Cornelius yang tadinya berdebat seketika berhenti berdebat.
"Kalian lanjutkan saja makanya. Aku yang akan mengurusnya dan jangan berdebat lagi."
ucapnya tanpa menoleh berjalan keluar membawa pecahan kaca itu.
Kalian sih terlalu banyak berdebat. Akhirnya ayahnya Irene yang turun tangan." ucap Rina
tidak lama kemudian Tuan Bernando kembali muncul.
"kenapa kamu masih berdiri? duduk dan habiskan makannya." ucapnya menegur Cornelis yang masih berdiri kokoh di samping kursi putrinya
Cornelius pun kembali duduk di kursinya, dan Tuan Bernando pun juga ikut Duduk.
Cornelius dan Tuan Bernando saling melihat dengan Tatapan yang tajam. Membuat suasana terasa menegangkan bagi Irene dan teman-temannya.
Waduh suasana kok kayak tegang ya?" bisik Rina pada
"Sssst makan saja, balas Ricardo nant malah membuat suasana semakin kacau. Sedangkan Irene tampak dia menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba suara ponsel memecahkan keheningan itu,
kring...
kring.....
suara ponsel itu berasal dari balik jas Cornelius. Ia langsung mengambil ponselnya melihat Siapa yang mengganggu waktunya bersama irene.
Ternyata Cornelius mendapatkan sebuah telepon dari Timothy.
"Aku permisi angkat telepon dulu." ucap Cornelius berdiri dari kursinya.
"Silakan, ucap Tuan Bernando.
Cornelius pun pergi dari sana.
Rina dan Ricardo tampaknya juga sudah menyelesaikan makannya.
Tinggal irene yang masih belum. Seperti memikirkan sesuatu.
"Irene Kenapa kau diam seperti itu? apa ada sesuatu?" tanya Rina
"Tidak ada."
Irene berdiri dari kursinya, berjalan mengambil piring-piring kotor di meja, membawanya ke tempat cuci piring, untuk menghindari pertanyaan itu.
Saat Irene kembali, Tuan Bernardo menegur. "Kenapa dia sudah mengumpulkan semua piring, termasuk piring makan Cornelius yang jelas-jelas belum habis.
"Kenapa semua piringnya dibereskan, anak muda itu boleh menyelesaikan makannya.
"Astaga....
__ADS_1
aku pikir dua sudah selesai makan,
"Kau ini seperti orang apa yang kau pikirkan katakan pada Ayah.
"Tidak ada Ayah, aku sepertinya hanya kecapean saja.
Tiba-tiba Cornelis muncul
"Aku harus balik sekarang. Terima kasih untuk makan malamnya." ucapnya berpamitan kepada Tuan Bernando.
"Tuan Bernando mengganggukan kepalanya,
aku antar sampai ke bawah Ya." ucap Irene
"Iya."
Ayah irene temani Cornelis dulu ke bawah ya." ucapnya menoleh ke Ayah minta ijin
"iya."
Irene pergi mengantar Cornelis ke bawah. mereka berjalan bersama keluar dari rumah kost itu. Sepanjang mereka keluar dari kamar kost, Cornelis dan Irene. Irene masih berpikir dengan perkataan Cornelius kembali mempertanyakannya.
"Aku ingin tanya sesuatu padamu
"Tanyakan saja." ucap Cornelius datar
"Apa yang kau katakan pada ayahku tadi itu benar?
"Maksudmu yang aku minta restu pada ayahmu untuk menikahimu?
Irene menganggukkan kepalanya
"Iya, aku ingin menikahimu. Apa kau ingin menikah denganku, menghabiskan waktu bersamaku sampai akhir hayat? ucapnya berbalik menatap Irene. Irene tidak bisa berkata apa-apa. Setelah Irene mengetahui perkataan Cornelius itu ternyata bukan bercanda melainkan serius.
"Kau bener yakin ingin menikah denganku?" ucapnya dengan wajah masih terkejut
"Iya, aku yakin. Apa kau tak yakin aku tidak bisa membuatmu bahagia?
"Tidak, Tapi kita baru saja menjalin hubungan Beberapa bulan yang lalu. Tapi kau sudah yakin ingin menikah denganku.
Karena aku mencintaimu dan kau wanita yang tepat untukku, wanita yang sudah membuat hatiku terpesona Sejak pertama kali aku menemukan sepasang Mata indah dari terepong ku sampai membuatku terbayang-bayang akan dirimu
"Aku yakin takdir yang mengirim mu untukku.
"Aku juga mencintaimu, tapi ini terlalu cepat bagiku dan ayahku. Sepertinya ayah masih belum setuju dengan hubungan kita." ucapnya terlihat sedih
Cornelius memeluk Irene. "Kau tenang saja. aku tidak akan patah semangat mendapat Restu ayahmu. Dan aku tidak akan memaksamu menikah denganku, sebelum kau benar-benar siap menerimaku sebagai suami yang kelak." Irene menaikkan tangannya memeluk lengan Cornelius.
" Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." balas Cornelius sambil mengecup kening Irene.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak yang lain
" Hasrat Tuan Muda Arogant"
__ADS_1