Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 128.CORNELIUS TERLUKA


__ADS_3

Saat dokter Aliando meminta kepada Camelia pergi dari ruang kerjanya, Camelia enggan untuk pergi dari sana.


"Oh iya terima kasih,sudah membantuku. Semoga nanti kita bisa bertemu kembali." ucap Camelia tersenyum berbalik pergi keluar dari ruangan itu.


"Bertemu? semoga tidak."balasnya dengan nada suara yang kecil. Karena dia sudah tampak kesal dengan tingkah Camelia melihat yang sesukanya di sana.


Di sebuah rumah seorang wanita membuka cadar yang ia gunakan menutupi wajahnya. Dan dia juga melepaskan gulungan rambut yang berantakan dan terlihat sedikit acak-acakan.


"Aku tak akan terus menjagamu, Maafkan aku harus tetap bersembunyi seperti ini menjagamu dari kejauhan. "Aku tidak rela orang lain menyakitimu. Aku tahu Tuan Thomson pasti mengincar mu dan juga mengincar Cornelius.


Tidak cukup hanya ayahmu saja yang menjagamu. Walaupun ayahmu memintaku untuk tetap tidak membantunya menjaga mu dari kejauhan, tapi aku tidak bisa berdiam diri melihatmu disakiti orang lain.


Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, sebelum Cornelius membalaskan dendamnya kepada Tuan Thomson, aku akan tetap terus menjagamu dari kejauhan walaupun jati diriku tidak kau ketahui." ucap wanita bercadar itu di dalam kamarnya menatap tubuhnya di depan cermin.


Wanita paruh baya itu memang jago dalam menembak. Ilmu itu didapatkannya dari ayah kandung Cornelius. Wanita ini dulunya juga seorang perwira polisi. Tetapi ia harus menelan pil pahit harus keluar dari kepolisiannya.


Karena ia tidak ingin kecurangan terjadi di dinas Kepolisian. Ia melihat rekan-rekannya yang bekerjasama dengan para mafia-mafia berdasi lainnya untuk memperkaya dirinya sendiri. Dan itu tidak bisa ia terima begitu saja sama seperti ayah kandung Bernando.


Apalagi sudah ia ketahui Kalau Tuan Thomson bekerja sama untuk menghabisi orang tua kandung Cornelius. Membuat wanita bercadar itu hengkang dari dinas kepolisian, dan memilih untuk tetap melindungi Cornelius dan juga Irene.


*****


Cornelius kembali mengantarkan Irene ke rumah kost yang ditempati Irene bersama Tuan Bernando. Mobil Cornelius tampak berhenti di depan rumah kost Irene dan Cornelius turun dari mobil sedangkan Timoty masih berada di dalam mobil.


"Jangan pergi ke kantor dulu, kau istirahat saja. Bila penting kau tidak perlu bekerja lagi di sana. Aku bisa menghidupi mu walaupun kau tidak bekerja. Kau bisa aku tanggung jawab apa kau meragukan kemampuanku? untuk bisa menghidupi mu?


"Tidak, pergilah kau juga hati-hati di jalan balas Irene tersenyum


"Kenapa masih berdiri di sini masuk ke dalam ucap Cornelius menurut Irene segera masuk ke dalam rumah kost itu.


"Aku akan masuk Setelah Kau Pergi


"Tidak Kau pergilah lebih dulu.


"Aku tidak akan pergi sampai kau yang masuk lebih dulu sambungnya. Cornelius hanya ingin memastikan Irene aman sebelum dia meninggalkan tempat itu.


"Baiklah."


Irene berbalik berjalan masuk ke dalam saat Cornelius sudah melihatnya aman dia pun juga berbalik pergi kembali ke mobilnya. Cornelius tak ikut masuk menemani Irene Karena dia harus pergi ke tempat lain.


Mobil Cornelius melaju dengan cepat rumah kost Irene. Di dalam mobil Cornelius menghubungi Lisa


"Hello


"Kau ada di mana sekarang? sejak kemarin kau belum muncul


"Oh iya, aku minta maaf aku tidak memberitahumu. Sekarang aku sedang berada di pesawat sebentar lagi pesawat akan lepas landas.


"Di pesawat, Kau mau ke mana?


"Aku akan kembali ke Santa Barbara, lagi pula Timoty sudah kembali, kau sudah tidak membutuhkanku lagi di sini.

__ADS_1


"Kau yakin kau kembali ke sana? bukannya kau sedang melarikan diri dari ayahmu.


"Aku harus belajar menghadapi masalahku bukan malah lari dari masalah. Kalau seperti ini masalahku tidak akan menghilang begitu saja, aku harus menghadapinya walaupun aku tidak menginginkannya.


"Kau semakin dewasa, Aku bangga padamu. pikiranmu semakin luas, kalau membutuhkan sesuatu Katakan padaku aku. Akan selalu datang membuat.


"Iya Kak, terima kasih." ucap Lisa sambil langsung mematikan sambungan telepon selulernya.


Lisa melirik ke samping melihat keluar jendela menatap keluar dengan penuh senyuman kebahagiaan.


****


Waktu sudah berlalu tak terasa siang telah berganti malam. Di rumah kost Irene tampak di dapur Irene tengah berdiri di depan kompor mengaduk sop yang sebentar lagi akan matang.


"Irene bagaimana sop nya sudah matang?" teriak Tuan Bernando yang berada di meja makan sedang meletakkan mangkok dan piring.


"Sudah Ayah." ucap Irene sambil mematikan kompor. Irene mengangkat panci sop nya membawanya kemeja makan.


"Wah aromanya wangi sekali, Ayah semakin tak sabar mencicipinya.


"Sabar Ayah, ini masih panas. Saat Irene meletakkan panci sob itu di atas meja, aroma masakan panas menyebar ke seluruh ruangan membuat perut ayahnya keroncongan.


Tuan Bernando dan Irene duduk di kursi mereka berdua menyendok nasi dari rice cooker. lalu menyendok sop yang masih panas ke atas nasi mereka. Mereka juga mengambil lauk ayam yang dimasak oleh Tuan Bernando.


Mereka berdua terlihat sangat menikmati makanan.


"Tadi kau pulang sendiri?kenapa Cornelius tidak mengantarmu.


"Tidak ayah, dia mengantarku pulang. Hanya saja dia tidak ikut naik. Tapi biasanya dia akan mengantarku sampai ke depan pintu.


Tiba-tiba


Tok ....


Tok ..


Tok..


Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga keduanya.


"Biarkan aku yang buka pintunya. Ayah makan saja." ucap Irene berdiri dari tempat duduknya.


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


Tok ...


Tok ...


Tok...


Tunggu sebentar!

__ADS_1


Irene mempercepat langkahnya


"Siapa sih yang datang malam-malam, orang lagi makan malam juga." ucap Irene berdiri di depan pintu siap membuka pintu.


Ketukan pintu kembali terdengar tapi suaranya lebih keras membuat Irene jadi takut.


Tok ....


Tok ...


Tok...


"Siapa sih, menyebalkan! ucap Irene memegang gagang pintu dengan jantung yang berdebar, membuka pintunya perlahan


Di balik pintu...


Ternyata ada pria yang berdiri menatap Irene


orang itu adalah Timothy yang berdiri membopong Cornelius yang terluka.


Irene seketika refleks menutup mulutnya dengan mata yang melotot melihat Cornelius setengah sadar berdiri dengan bantuan Timoty.


"Apa yang terjadi?


"Nanti aku jelaskan di dalam. Sekarang Biarkan kami masuk.


"Ayo masuk." ucapnya dengan nada suara yang panik. Timothy membopong Cornelius yang terluka masuk ke dalam membawanya ke sofa.


Irene buru-buru menutup dan mengunci pintunya, takut ada orang yang akan mengejar mereka. Tuan Bernando yang sedang makan ikut keluar pergi ke ruangan. Alangkah kagetnya dia melihat Timothy membawa Cornelius yang terluka.


Di bagian belakang pundak Cornelius tampak ada banyak darah sobekan jasnya. Tuan Bernando buru-buru menghampiri mereka.


"Ada apa ini, kenapa bisa dia terluka?


Tiba-tiba yang lalu menghampiri Cornelius berbaring telungkup di sofa.


Irene duduk di bawah lantai dengan kondisi wajah tampak sangat khawatir dan juga menangis. "Kenapa kau bisa terluka seperti ini Apa yang terjadi padamu?


Cornelius masih bisa tersenyum menjawab pertanyaan Irene. "Aku tidak apa-apa jangan menangis."ucap Cornelius ingin melihat Irene menangisinya


"Aku tidak menangis." ucapnya refleks mengusap air matanya yang menetes di wajah cantiknya. Cornelius lagi-lagi tersenyum


"Kau bisa tersenyum seperti ini." ucap Irene merasa kesal.


"Kau terlihat seperti anak-anak kalau menangis." ucapnya sambil tersenyum.


"Diam lah jangan bicara dulu."


Bersambung......


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓


sambil menunggu karya ini up yuk mampir ke karya baru emak. "Antara kutub Utara dan Selatan (You & me)"


__ADS_2