
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 siang tampaknya Irene yang baru saja keluar dari kantor berjalan ke pinggir jalan. padahal Irene sudah menolak ajakan teman-temannya untuk makan siang barang tetapi kali ini tidak boleh menolak permintaan Cornelius yang ingin makan bersama dengannya. Ia terlihat gelisah menengok kiri dan ke kanan memperhatikan mobil yang lewat.
Sebuah mobil mewah berwarna metalik berhenti tepat di depannya irene seketika mundur selangkah. Pintu mobil terbuka Cornelius muncul dengan senyuman menggandeng bunga tahi ayam, yang sama dengan ukuran yang seperti ia kirimkan sebelumnya ke kantor.
Dengan percaya diri, Cornelius menghampiri Irene menyodorkan bunga itu berharap gadis kecil pujaan hatinya, akan senang tapi nyatanya belum Cornelius bicara apapun,Irene mengapa Cornelius dengan wajah yang terheran-heran.
"Kau ingin memberikan bunga itu padaku?"
"Iya, kau bilang menyukai bunga tahi ayam. jadi aku membawakannya untukmu." ucapnya tersenyum lebar.
"Kau pasti menyukainya kan sambungnya kembali.
Irene menepuk jidatnya menggeleng-gelengkan kepala.
"Astaga aku hanya bercanda, mana mungkin ada wanita yang suka bunga tahi ayam."
Senyum Cornelis seketika menghilang. Jadi kau tak suka bunga ini?
"Iya iyalah, ngapain aku suka bunga begitu. kayak tidak ada bunga yang lain saja. Masih banyak bunga yang indah kayak mawar bunga melati, bunga tulip, dan banyak bunga lainnya.
"Memangnya kau tidak pernah memberikan bunga ke wanita? Tanya Irene penuh selidik.
"Tidak, ini pertama kalinya aku memberikan bunga kepada wanita dalam hidupku." sahut Cornelius berterus terang kepada Irene karena memang benar apa yang diucapkannya.
Sebelumnya seumur hidupnya baru Irene yang menerima bunga darinya.
Irene tercengang seolah tidak percaya. Mana mungkin pria kaya raya seperti Cornelius tidak pernah mengirimkan bunga ke para wanita. Setiap pria pasti mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkan Cornelius, jika ingin memberikan sesuatu kepada wanita
"Kamu serius, aku yang pertama menerima bunga darimu? Irene kembali bertanya kepada Cornelius.
"Iya, kau satu-satunya wanita yang aku kirimkan bunga." Sahut Cornelius sambil mengembangkan senyumnya menatap gadis kecil pujaan hatinya dengan tatapan seksama.
Irene terdiam mendengarnya. Dia masih tidak percaya bahwa dirinyalah satu-satunya wanita yang menerima bunga dari seorang pria seperti Cornelius.
Saat Irene diam, Cornelis melempar bunga itu ke tong sampah yang letaknya tidak jauh dari mereka.
"Kenapa kau membuangnya?" tanya Irene kepada Cornelius.
__ADS_1
"Kau tidak menyukainya makanya aku membuangnya.
"Kan sayang kalau dibuang, Irene tampak sedih. Padahal bunga pertama yang dikirim untuknya juga Ia buang kenapa malah sekarang dia sedih.
"Kita pergi ke toko bunga nanti, kau bisa memilih bunga yang kau inginkan di sana.
"Tidak usah, kita kan mau pergi makan siang. aku tidak punya cukup waktu berkeliaran di luar. Karena aku harus kerja kembali." sahut Irene.
"Baiklah ayo kita pergi, ucap Cornelius menggandeng tangan Irene membawanya ke dalam mobil miliknya.
Cornelius membukakan pintu mobil untuk Irene lalu dia masuk di sisi pintu meninggalkan kantor tempat Irene bekerja.
Sebelum itu Cornelius menghubungi Irene mengajaknya makan siang bersama. Dia sempat menolak ajakan Cornelius, dengan alasan dia sibuk dengan pekerjaannya. Tapi Cornelius bilang akan bicara dengan atasannya akan memperbolehkan Irene keluar makan siang bersamanya.
Karena tidak mau melibatkan bosnya, akhirnya irene menyetujui permintaan Cornelius.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di sebuah restoran bintang lima di daerah itu. yang lokasinya tidak jauh dari kantor tempat Irene bekerja, lebih tepatnya di perusahaan Mahesa group.
Di depan pintu ada dua pelayan pria berdiri di kedua sisi pintu. Mereka berdua bertugas menyambut kedatangan tamu istimewa.
"Selamat datang Tuan Cornelius dan nona Irene." ucap salah satu pelayan pria itu membukakan pintu untuk mereka. Irene menoleh menatap Cornelius. Bagaimana dia tahu namaku? ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke sini." ucapnya sambil berjalan masuk berdampingan dengan Cornelius.
Cornelius hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Irene saat mereka masuk ke dalam seorang pelayan wanita datang menghampiri keduanya.
"Tuan Cornelius kami sudah menyiapkan meja untuk Anda. Mari aku antar kemejanya." ucap pelayan itu mempersilahkan Cornelius dan Irene mengikuti pelayan itu.
Mereka melewati meja-meja kosong dalam restoran. Irene tampak bingung melihat restoran mahal kelihatan tampak sepi. tidak ada satu orang pun yang makan di sana. Padahal jam-jam seperti ini seharusnya banyak pelanggan yang datang untuk makan siang.
Pelayan itu membawa Irene dan Cornelis ke sebuah ruangan khusus. Pelayan itu berhenti di depan pintu membuka kedua sisi pintu memperlihatkan meja bundar besar yang dipenuhi berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup pun ada.
Bahkan buah-buah segar pun ada di sana disediakan oleh pihak restoran.Irene tidak tahu kalau karena sudah memesan tempat restoran itu khusus untuk mereka berdua.
Ruangan itu di desain secara khusus untuk Cornelius dan juga Irene agar mereka terkesan ketika mereka makan berada di restoran itu.
"Silakan masuk Tuan dan nona." ucap pelayan itu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Cornelius melangkah masuk menggandeng Irene masuk ke dalam. Irene tiba tiba menarik tangannya dari Cornelis membuat langkahnya terhenti.
"Ada apa sayang?
__ADS_1
"Kita mau makan siang kan?
"Iya
"Ini terlalu berlebihan, kita hanya memakan siang bukan mau berpesta.
"Apanya yang berlebihan sayang?
"Apa kau tidak lihat makanan yang ada di atas meja itu terlalu banyak untuk kita berdua?
"Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka. jadi memesan menu makanan yang ada disini
"Ayo kita masuk, Cornelius menarik tangan Irene. Cornelius melepas tangan Irene, menarik kursi untuk Irene.
"Ayo duduk." ucapnya sambil mengembangkan senyumnya menatap Irene sambil mempersilahkan Irene duduk di sana.
Irene masih terdiam
"Ayo duduk, kau bilang tak punya banyak waktu kalau kau berdiri terus kapan kita makannya?
"Iya aku duduk, ucapnya sambil duduk.
Cornelius pun juga pergi mengambil kursi yang berhadapan dengan Irene dia tidak mau duduk jauh-jauh dari Irene. Dia meletakkan kursinya di samping Irene.
"Kenapa kau bawa ke sini? kau kan bisa duduk di sana?" tanya Irene penuh selidik
"Karena Aku tak ingin jauh darimu." ucapnya tersenyum menatap Irene.
Irene memalingkan pandangannya, menatap makanan yang ada di meja itu.
Ia tampaknya malu dengan perkataan Cornelis. Senyuman kecil tiba-tiba muncul di pipinya, tapi senyuman itu tidak bertahan lama. "Apa yang aku pikirkan, dia hanya bercanda kenapa aku malah senang." batinnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1