
Ketika Irene pergi mengantar Cornelius, Rina mencuci peralatan masak dan piring-piring yang mereka gunakan makan tadi. Rina berdiri di depan wastafel, menyabuni piring dengan sabun dan membilasnya. Sementara Ricardo membantu Rina menyusun piring itu ke raknya.
Ricardo dan Rina tampak berbicara dengan nada suara yang kecil, membahas tentang hubungan Cornelius dengan Irene. Mereka sengaja berbicara dengan nada kecil, agar Tuan Bernando tidak mendengar percakapan mereka.
"Irene dan Cornelius terlihat cocok. Tapi uncle Bernando sepertinya tidak setuju. Apa menurutmu uncle nanti akan setuju?
"Aku tidak tahu, Aku cuman bisa mendoakan semoga hubungan mereka bisa mendapat restu dari uncle Bernando." balas Ricardo
"Iya, pria itu sudah tampan, punya uang, perhatian. Aduh apalagi kurangnya sih masih? juga ditolak.
"Mungkin uncle Bernando ingin melihat perjuangan Cornelius mendapatkan restunya. Atau bisa jadi dia ingin mencarikan calon suami yang terbaik. Irene anak satu-satunya pasti uncle Bernardo tidak mau Putri yang salah memilih calon pasangan hidupnya.
Mungkin juga sih, tapi bukannya semua orang tidak ada yang sempurna? pasti ada juga kekurangannya. Contohnya seperti Cornelius itu punya sifat yang keras. Kau lihat kan Bagaimana waktu pertama kali kita bertemu dengan Cornelius di rumah bibiku, Dia terlihat punya watak yang sangat keras dari raut wajahnya dan sangat kasar. Tapi sekarang sikapnya pada Irene sudah tidak sekasar seperti dulu.
"Iya, pria itu terlihat lembut jika berhadapan dengan Irene. Tidak tahu seperti apa sikapnya jika berhadapan dengan orang lain. Mungkin dia akan menunjukkan kegalakannya.
Rina tiba-tiba menoleh ke belakang.
"Ada apa? tanya Ricardo yang tiba-tiba melihat Rina menoleh ke belakang
"Tidak apa-apa, aku cuman mau memastikan uncle Bernando tidak mendengar percakapan kita." ucapnya kembali mencuci piring dan memberikannya kepada Ricardo, setelah ia membilas piring itu.
"Iya, Jangan bahas itu lagi. Kita tidak tahu kalau nanti uncle tiba-tiba muncul. Kan bahaya
"Iya."
Irene dan Cornelius melepaskan pelukannya satu sama lain. Mereka berjalan bergandengan tangan pergi keluar dari rumah kost yang selama ini ditempati oleh Irene. mereka berhenti di depan teras rumah kost itu.
Cornelius berbalik berpamitan sebelum dia pulang.
"Aku pulang dulu." ucapnya melangkah maju mengecup kening Irene
"Hati-hati, nanti kalau kau sudah sampai di rumah, jangan lupa kabari aku.
"Iya tenang saja, kau istirahat lebih awal Jangan tidur terlalu larut. Itu tidak baik bagimu.
"Iya."
By...., sambungnya melambaikan tangannya tersenyum melihat Cornelius pergi. Cornelius balik tersenyum sebelum dia pergi ke mobilnya. Irene berdiri di sana sampai mobil Cornelis pergi meninggalkan parkiran kecil itu.
Saat Cornelius sudah pergi, irene pun kembali berbalik masuk ke rumah kosnya. Setibanya di sana irene langsung masuk dan melihat ayahnya, duduk di sofa sembari menonton televisi ditemani dengan secangkir kopi panas.
"Dia sudah pulang? ucap Tuan Bernando fokus menonton berita di TV.
Ricardo dan Rina juga muncul setelah membereskan dapur.
"Iya, ucapnya berjalan pergi ke dapur.
"Kau mau kemana?" tanya Rina
Ke dapur, aku mau beres-beres peralatan masak dan piring kotor tadi, kami sudah membereskannya. Sudah bersih tinggal belanjaan tadi belum kami masukkan ke dalam kulkas.
Oh iya makasih, Nanti aku saja yang mengurusnya seharusnya Kalian tidak perlu repot-repot membereskannya aku jadi tidak enak pada kalian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok kayak baru kenal aja. kita pulang ya, udah malam.
"Iya ini sudah jam 23.00 balas Rina.
"Iya, tapi kalian pulang naik apa?
"Aku sudah memesan taksi online dan sekarang taksinya sudah menuju ke sini.
"Ya baiklah, kalian hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mau mampir.
"Iya, kita yang seharusnya bilang makasih." ucap Ricardo
"Uncle kami pamit pulang, Terima kasih makanannya sangat enak." ucap Ricardo dan Rina tersenyum
"Iya, kalian sering-sering ke sini. Nanti uncle masak masakan yang enak-enak untuk kalian." ucapnya dengan ramah.
"Iya, nanti kami akan sering-sering mampir.
kami pulang." ucap Rina
"Iya, balas Tuan Bernando.
Ricardo dan Rina berjalan pergi ke pintu ditemani Irene. Irene membuka pintu.
"Aku antar kalian ke bawah." ucap Irene
"Tidak usah, kita bisa berdua kok. Kita bukan anak kecil yang harus diantar lagi." ucap Rina
"Sampai jumpa di kantor besok." ucap Rina sambil menarik tangan Ricardo pergi dari rumah kost Irene. Irene menutup pintu rumah kos-kosan itu. Berjalan masuk ke dalam, ia melewati sofa dimana ayahnya sedang duduk.
"Irene....! sini sebentar." ucap Tuan Bernando memanggil
Irene menghentikan langkahnya
"Ada apa ayah? tanya irene penasaran.
"Duduk di sini dulu, ayah mau bicara padamu." ucapnya sambil mematikan televisi dan meletakkan remote di atas meja.
Irene pergi duduk di samping ayahnya.
" Apa yang Ayah mau bicarakan kepada Irene? jantung berdegup kencang.Tidak seperti biasanya, saat dia duduk di samping ayahnya.
kira-kira Apa yang Ayah ingin bicarakan padaku?" gumamnya dalam hati.
"Sudah berapa lama kau kenal pria itu?
"Cornelius?
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia.
"Kurang lebih lima bulan. Memangnya ada apa Ayah?
"Kau tahu pekerjaannya?
__ADS_1
"Aku tidak tahu secara spesifik. Tapi aku tahu dia punya bisnis dan punya banyak anak buah.
"Kau tahu bisnis apa yang dijalankan seperti kelompok yang dipimpinnya?
"Tidak,"
"Orang yang sedang dekat denganmu, ini sama seperti adik ayahnya. Bisnis mereka adalah penjualan ilegal, narkoba, senjata api barang elektronik. kriminal banyak yang mereka lakukan yang melanggar hukum.
Pertanyaan Ayah, Apa kau sanggup menerima semuanya termasuk dunia gelap yang akan masuk ke dalam duniamu juga jika kau benar-benar ingin menikah dengannya nanti?
Dan ingat satu hal lagi, kalau kau sudah siap menikah dengannya, berarti kau juga sudah siap menghadapi musuh musuhnya nanti." ucap Tuan Bernando dengan nada yang serius memperingati Irene sebelum putrinya itu menyesal kemudian hari.
"Apa ini artinya Ayah merestui hubungan kami?
"Ayah selalu berada di pihakmu.
kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Ayah juga. Tapi jangan menikah terburu-buru, pikirkan dengan matang. Karena pernikahan itu seumur hidup. Ayah tidak mau di kemudian hari, kau menyesal karena keputusanmu yang terburu-buru.
"Ayah hanya mau menyampaikan itu saja. sekarang Ayah mau tidur, kau juga tidur jangan begadang. Itu tidak bagus untuk kesehatanmu." ucap Tuan Bernando sambil memberikan tubuhnya di sofa.
Irene termenung memikirkan nasehat ayahnya.
Tuan Bernando Bukan tidak setuju. Tapi dia hanya ingin yang terbaik untuk kehidupan putrinya nanti. Dia sudah pernah berada dunia seperti itu. Dan ia sudah tahu kesulitan apa yang akan dihadapi putrinya ke depan.
Irene duduk di sofa cukup lama, memikirkan perkataan ayahnya.
Aku jadi bingung.
Tapi aku mencintainya, kalau aku mencintainya aku harus menerima semua baik dan buruk nya.
Tapi kami baru mengenal Beberapa bulan yang lalu, apa aku sudah yakin dengan pilihanku ini?
Tiba-tiba suara ponsel milik irene terdengar jelas di telinganya.
Kring....
kring ...
kring.....
Irene bangkit berdiri dari sofa mengambil ponselnya, disimpan di samping televisi.
Irene berhenti di samping televisi, melihat layar ponsel yang memperlihatkan ada panggilan dari Cornelius.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak yang lain
" Hasrat Tuan Muda Arogant"
__ADS_1