
"Cukup, kau tidak salah. Ayahmu tidak menyukai dirimu yang seperti ini, pasti ayahmu baik-baik saja. Ayahmu lelaki yang kuat."ucap Cornelius memeluk irene ikut meneteskan air matanya, dia merasa Irene adalah dirinya saat masih kecil.
"Aku seharusnya mati saja, Agar kalian tidak mendapatkan masalah seperti ini. Aku benci diriku yang bodoh!"ucapnya menangis dengan suara yang gemetar dan tangannya tidak berhenti memukuli diri sendiri.
Cornelius tidak bisa mengatakan apa-apa, selain menguatkan Irene dan memeluk Irene memberikan ketenangan untuk sementara waktu.
Sedangkan Tuan Jason dan anak buahnya, tampak tersenyum bahagia. Di atas sana mereka merasa telah menang dari Cornelius.
Mereka bangkit dan kembali melepaskan tembakan ke arah Cornelius dan Irene. Di mana Irene dan Cornelis sedang berduka atas kematian Tuan Bernando. Tak ada seorangpun yang mengetahui kalau Tuan Bernardo belum mati. Mereka semua mengetahui kalau Tuan Bernando tidak akan selamat dari reruntuhan bangunan akibat ledakan bom, yang menimpa Tuan Bernando.
Cornelius dan Irene sudah pasrah. Mereka berdua berserah diri dengan apa yang akan terjadi padanya, Cornelius merasa sangat bahagia memeluk Irene saat ini. Jika mereka akan mati di tempat itu juga, dan saat itu juga Cornelius merasa itu hal yang paling baik dalam kehidupannya. Di mana dia mati dalam pelukan orang yang paling ia cintai.
Dor...
Dor...
Dor...
Tembakan kembali terdengar...
Cornelius dan Irene sekarang tak bisa berbuat apa-apa, selain berlindung, kalau mereka melangkah saja sedikit keluar dari sana, sudah pasti tembakan-tembakan itu akan mengenai mereka.
Ditambah sudah tidak ada tempat lain, yang bisa menjadi tempat perlindungan mereka. Karena bangunan-bangunan di sana pada sudah hancur selain dua bangunan berbentuk tiang menjulang tinggi yang cukup jauh dari mereka.
Tuan Jason dan anak buahnya, tampak bahagia menembak dari atas membidik helikopter itu, berharap helikopter itu akan segera meledak seperti yang dialami oleh Timothy dan anak buahnya.
"Mati kalian semua!"teriak Tuan Jason dan anak buahnya bersemangat.
Tiba-tiba suara baling-baling helikopter yang sedang terbang di udara, terdengar begitu jelas sampai pepohonan yang mengelilingi tempat itu bergoyang, Irene dan Cornelius yang menundukkan kepalanya, seketika menaikkan kepalanya ke atas. Melihat sebuah helikopter hitam sedang terbang menuju ke tempat itu.
Irene dan Cornelis tampak kebingungan dan hal yang sama juga terjadi pada Tuan Jason dan anak buahnya. Mereka tampak tidak mengenali helikopter dan sosok seorang bercadar yang datang menghampiri mereka ke tengah hutan itu. Seseorang yang bercadar itu memegang senjata.
__ADS_1
Helikopter itu semakin dekat. Tuan Jason dan anak buahnya merasa mereka dalam bahaya, seketika merubah targetnya ke sosok wanita bercadar yang sangat misterius itu.
Belum dia selesai membidik orang itu, dengan cepat tembakkan lebih dulu dilepaskan oleh wanita bercadar itu.
"Duar.....
Dengan satu tembakan granat yang dilepaskan oleh sosok wanita bercadar itu, membuat ledakan yang lumayan besar terjadi. Alhasil bangunan itu runtuh dan hancur bersamaan dengan kehancuran Tuan Jason dengan anak buahnya yang terjatuh dari atas ketinggian, sampai membuat mereka bertemu dengan kematian yang tidak mereka harapkan.
Cornelius dan Irene berdiri dengan kepala yang masih melihat ke atas penasaran, dengan wajah dibalik cadar itu. Dan siapa orang yang berusaha menyelamatkan mereka, di saat mereka berpikir tidak ada orang yang akan datang membantu mereka.
"Siapa orang itu? batin Cornelius menatap tajam ke langit, melihat sosok seseorang yang menggunakan cadar yang tak bisa dilihat jelas karena jarak yang terlalu tinggi.
Helikopter itu berputar Kembali ke arah yang sama dengan awal kemunculannya, meninggalkan tempat itu begitu saja. Tanpa turun sama sekali.
Tetapi wanita bercadar itu berdiri di depan itu berbalik melihat" Kau tidak boleh mati Irene selamatkan Ayah kamu. Segera selamatkan Ayah kamu!!!! teriak seseorang yang ada di dalam helikopter.
Helikopter terbang jauh dari Irene dan Cornelius. Cornelius dan Irene tidak bisa melihatnya lagi.
"Aku tidak mengenalnya.
"Kenapa orang itu menolong kita."
"Atau jangan-jangan orang itu adalah orang yang sama dengan wanita bercadar yang menyelamatkanku, saat itu saat Aris ingin membunuhku di rumah kos?"
Tiba-tiba Irene lari mengingat ayahnya.
Dia lari sambil berteriak memanggil-manggil ayahnya.
"Ayah.....!!!! Teriak Irene
Cornelius berbalik ke samping mengejar Irene sudah sampai di tumpukan reruntuhan bangunan yang menindas ayahnya.
__ADS_1
Irene jongkok memindahkan runtuhan itu, dengan air mata yang tak berhenti menggenangi kedua kelopak matanya. berharap apa yang dia pikirkan itu tidak terjadi. Walaupun wajah Tuan Bernardo tampak sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Wajah Tuan Bernando tampak dipenuhi dengan setengah darah, dan debu debu bangunan yang hancur.
"Ayah pasti selamat." ucapnya meneteskan air mata di atas reruntuhan itu. Irene mengangkatnya satu persatu tanpa bantuan siapapun. Saat Cornelius datang, barulah dia mendapatkan bantuan, Cornelius tidak melarangnya. Dia malah membantunya karena dia punya harapan yang sama seperti irene.
Sampai Irene bisa melihat tangan ayahnya, barulah dia berhenti. Tangan ayahnya kasar terasa begitu lemas. Air matanya berlinang deras berjatuhan di atas tangannya memegang tangan ayahnya.
"Ayah!!!!
teriak Irene histeris melihat ke atas langit. Tak kuat menghadapi kenyataan Ayah yang selalu melindungi sejak kecil. Kini pergi meninggalkannya begitu saja. Tuan Bernando pergi secara mengenaskan di depan matanya, pengalaman ini menjadi mimpi buruk baginya. Kepala berputar melihat langit sore tampak begitu indah mengantarkan kepergian ayahnya.
Tubuhnya seketika melemas, jatuh di saat itu juga cornelius ada merangkul Irene dan akhirnya jatuh di bahu Cornelius. Saat Cornelius sudah merangkul Irene Ia kembali memastikan Tuan Bernando masih hidup atau mati.
Perlahan Bernando melepaskan Irene, berjongkok mengecek denyut jantung Tuan Bernardo. Yang ternyata denyut jantung Tuan Bernando masih berdetak tetapi sudah sangat lemah.
Cornelius meminta Irene untuk segera pergi menemui Timothy yang sudah terluka, agar segera mempersiapkan helikopter yang dapat mereka gunakan untuk menerbangkan Tuan Bernando. Agar Tuan Bernardo segera mendapatkan pertolongan.
"Segera minta Timothy untuk menyiapkan helikopter yang masih tersedia. Tuan Bernardo masih memiliki denyut nadi, kita harus segera membawanya ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan." teriak Bernando membuat Irene terhenyak karena Irene mengira Tuan Bernardo sudah mati.
Irene berlari menghampiri Timothy. Meminta Timoty dan anak buahnya segera mempersiapkan helikopter sesuai dengan permintaan Cornelius. Saat itu juga, Tuan Bernando, Cornelius, Irene berangkat dengan menggunakan helikopter yang masih bisa mereka gunakan. Sementara anak buah Cornelius yang tersisa pulang dengan menggunakan motor trailer yang mereka gunakan sebelumnya mendatangi tempat itu.
Mereka langsung membawa Tuan Bernando ke rumah sakit. Yang mana sebelumnya di dalam helikopter Cornelius sudah menghubungi dokter Aliando, untuk segera bersiap membantu Tuan Bernardo di rumah sakit, saat mereka sudah tiba di sana.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak "Antara kutub Utara dan Selatan.(YOU & ME
__ADS_1