Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 80. KOMISARIS POLISI _GKMBM


__ADS_3

"Sudah Lisa, Jangan mengganggunya. Katakan Kenapa kau datang kemari.


"Aku datang kemari hanya untuk memberitahu Kalau tempat dimana kakak ipar disekap oleh Tuan Aska, sudah kami menghanguskan beserta dengan Tuan Aska dan anak buahnya di sana." ucap Lisa memberitahu tujuannya datang menemui Cornelius di sana.


"Bagus, itu yang saya suka dari kamu. kamu memang bisa diandalkan." ucap Cornelius.


Cornelius berlalu bersama Lisa setelah berpamitan kepada Irene untuk membicarakan sesuatu hal penting di ruang kerja Cornelius.


Sayang sebentar ya, aku tinggal dulu." ucap Cornelius berpamitan kepada Irene dibalas anggukan dari Irene. Cornelius dan Lisa berlalu dari sana meninggalkan Irene sendiri. Sementara beberapa anak buahnya berjaga di pintu kamar dan jendela kamar. Mereka takut satu ketika ada penyusup yang datang ke sana untuk menyakiti Irene.


****


Di kamar pribadi yang selama ini ditempati Cornelius tampak Irene yang tertidur pulas masih mengenakan baju yang sama ia gunakan malam itu.


Irene terbangun mengambil posisi duduk di atas ranjang, menoleh ke samping mencari Cornelius yang menghilang entah ke mana.


"Bukannya semalam dia tidur di sebelahku? kenapa sekarang dia tidak ada di sini? gumam Irene dalam hati.


"Kemana dia pergi? Irene menurunkan kakinya Dari ranjang bangkit dari sana. Irene melangkahkan kakinya berkeliling di kamar Cornelis. Ia melihat setiap sudut ruangan kamar itu dengan teliti.

__ADS_1


Kamar berlatar warna biru itu terlihat sangat mewah di matanya. disamping kanan ada dua meja.


Di atasnya ada lampu tidur. Di sebelah kiri ada meja dan dua kursi berada di depan gorden yang masih tertutup.


Di sebelah kanannya ada blok yang mengarah ke ruangan walk in closet. Dan lampu kristal berwarna putih di depannya ada rak buku besar yang menempel di dinding.


Irene melangkahkan kakinya pergi melihat buku-buku tebal yang tersusun rapi di rak. tangannya perlahan naik meraih salah satu buku tebal di sana. Tiba-tiba tangannya tidak sengaja menggoyang buku yang ada di sana. sesuatu yang aneh lantai tiba-tiba bergerak bersamaan dengan dinding yang berputar membawanya ke ruang di balik rak buku itu.


Wajahnya terkejut bingung dia tidak tahu berada di ruangan apa sekarang. Di depannya ada meja kayu dan di atasnya ada lampu meja berwarna kuning. Dan beberapa berkas yang tersusun rapi di samping lampu itu.


Matanya tertuju ke dinding. Di dinding itu ada sesuatu yang ditutupi di sana tergeletak tersandar ke dinding ditutupi dengan kain putih. Tanpa dia sadari, perlahan berjalan sampai ke sana. Kain putih itu membungkus sesuatu di dalamnya. Tangannya perlahan naik menarik kain putih panjang sampai kain itu pelan jatuh di bawah kakinya


Sosok wanita paruh baya dan juga pria berdinas Kepolisian terlukis di sana bersama wanita cantik dengan rambut yang digerai mengembang ke atas dengan raut wajah datar membuat Irene tercengang.


Irene tidak mengetahui siapa sosok wanita paruh baya dan pria berdinas kepolisian itu. tetapi yang pasti yang membuat Irene tercengang, Bagaimana tidak sosok wanita cantik itu bukan lain adalah dirinya sendiri.


"Baju yang aku gunakan di lukisan ini sama persis seperti yang aku gunakan di kota Santa Monica."


Dan aku tidak pernah lagi menggunakan pakaian ini. dan yang ini wanita paruh baya dan lelaki paruh baya berdinas kepolisian ini siapa? Irene bertanya-tanya di dalam hati.

__ADS_1


Irene tampak kebingungan melihat foto ketiga orang itu yang dua orang sama sekali Ia tidak kenal. Sementara yang satunya dirinya sendiri.


lukisan ini dibuat Cornelius, ketika dirinya melihat sosok Irene di kota Santa Monica. Bayangkan wajah Irene terbayang-bayang di benaknya sampai membuatnya kesusahan untuk tidur.


Malam itu di bawah sinar rembulan, tanpa Cornelius yang berada di dalam gazebo dengan desain interiornya yang terlihat menakjubkan. Cornelius tampak menghadap ke bawah kolam dan kran yang memiliki air berwarna hijau. Kolam itu dikelilingi dengan bebatuan yang cukup besar di samping kolam itu ada bunga-bunga putih yang mekar.


Di permukaan air kolam terlihat pantulan rembulan yang bersinar begitu indah di langit menemani Cornelius yang sedang menggoreskan kuas di atas kanvasnya. Sentuhan akhirnya yang diberikan Cornelius adalah akhir panjang yang ia lalui berhari-hari untuk menciptakan lukisan yang begitu tampak nyata dipandang.


Jari-jari Cornelius mengelus rambut hitam indah yang digambarkan terbang di udara karena hembusan angin membuat aura lukisan itu lebih hidup. Cornelius menarik senyum kecil memandang lukisan wanita yang sudah mengganggu pikirannya beberapa hari itu.


"Kau satu-satunya wanita yang membuatku sampai tidak bisa tidur memikirkan mu. Aku harap sesuatu saat nanti aku bisa kembali bertemu denganmu cantik." gumamnya dalam hati sembari terus mengoles kuas di kampas miliknya. Cornelius mengangkat kampas besar itu dari engcel lukisannya membawanya keluar dari gazebo melewati halaman hijau yang terbentang luas.


Sementara lukisan ayah dan ibu Cornelius lebih dulu ia lukis ketika di usianya menginjak 15 tahun. Bayang-bayang wajah ibu dan ayahnya yang begitu membuatnya trauma dan membentuknya seperti saat ini. Itulah yang membuat Cornelius ingin melukis wajah ibu dan ayahnya di sana. Memiliki Ayah sebagai komisaris polisi memang cukup membanggakan bagi Cornelius, sekaligus membuat Cornelius terpuruk saat itu. Saat pembunuhan sadis yang dilakukan oleh geng mafia yang begitu merenggut nyawa Ayah dan Ibunya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓 sambil menunggu karya ini up yuk mampir ke karya baru emak.

__ADS_1


"Gadis Pecal lele jatuh cinta"


__ADS_2