
Mobilnya berputar dengan cepat meninggalkan jalan dan membiarkan anak buah Cornelius mengurus sisanya. Cornelius yang dalam kondisi terluka para menyandarkan tubuhnya ke samping jendela.
"Kita harus ke rumah sakit Tuan, luka di punggungmu cukup besar dan darahmu terus mengalir keluar."ucapnya dengan panik, menyetir mobil dengan kecepatan tinggi menuju Jalan Rumah Sakit milik dokter Aliando.
"Tidak, kita ke rumah kost Irene sekarang."
"Tapi Tuan."
"aku masih bisa menahannya rasa sakit ini. Tapi tidak dengan rasa sakit yang aku dapatkan, jika aku kehilangannya karena kebodohanku memilih untuk pergi ke rumah sakit daripada memastikan keselamatannya."
"Tuan sangat mencintai wanita itu, bahkan saat dirinya sudah kesakitan seperti ini, dia masih memikirkan keselamatan wanita itu daripada keselamatannya."batin Timothy.
"Satu lagi, perintahkan beberapa anak buah kita untuk segera menyusul ke rumah kost Irene, untuk menjaga keamanan mereka dari Tuan Thomson. Selama kita belum sampai di sana."
"Baik Tuan."
****
Irene yang mendengar semuanya penjelasan Timothy semakin membuat dirinya sangat sedih, melihat penderitaan Cornelius yang dialami karena kebodohannya.
Dan sedangkan Tuan Bernando terpana dengan sikap gentlemen yang dimiliki oleh Cornelius, inilah sikap yang ingin dilihatnya untuk melindungi putrinya sebelum dia menyerahkan Putranya itu pada Cornelius.
"Aku tidak salah memandang pria itu, dia bahkan rela mengorbankan keselamatannya demi Irene. Aku sudah tidak punya alasan apapun untuk menolaknya lagi."batin Tuan Bernando.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Cornelius sekarang, apa yang bisa kita lakukan sekarang untuknya?"ucap Irene berbalik menatap Cornelius penuh rasa belas kasih dan perasaan sedih melihat wajah Cornelius penuh keringat.
"Kau tidak perlu khawatir, dia sudah baik-baik saja. Aku sudah menghentikan pendarahan lukanya itu, sekarang kita tinggal tunggu dia sadar."ucap dokter Aliando.
Irene pergi duduk di lantai samping sofa mengusap wajah Cornelius berkeringat dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kau menyakiti dirimu sendiri demi aku. itu membuatku sedih."
__ADS_1
"Tidak seharusnya kau melakukan hal ini untukku, Aku merasa sangat bersalah sekarang."
Irene menundukkan kepalanya di atas tangannya yang bersandar di ujung sofa, air matanya menetes jatuh ke lantai. "Ini semua karena aku semua orang yang aku sayang sekarang dalam bahaya, hanya karena ingin melindungi ku. Lebih baik aku mengorbankan diriku daripada harus melihat mereka seperti ini. ambil aku saja, tapi jangan mereka."batin Irene.
Di tempat lain tepatnya di rumah tuan Jason.
Tuan Thomson dan Tuan Jason tampak sedang duduk di ruang tengah, Tuhan Thomson terlihat sangat marah karena karena lius masih bisa selamat dari tembakannya dan anak buahnya.
"Aku tidak bisa tinggal diam, dua Bangka itu harus tertangkap."
"Sabar dulu Tuan Thomson, kita tidak boleh gegabah. Cornelius sudah tahu kalau kita mengincar pria tua itu dengan wanitanya. aku yakin mereka dalam pencegahan ketat Cornelius sekarang. kita harus merancang rencana yang matang agar usaha yang kita lakukan nanti tidak sia-sia seperti tadi."ucapkan Jason kepada tuan Thomson.
"Memangnya kau punya rencana untuk menangkap mereka?
"Aku tidak punya rencana, aku tahu Cornelius akan sangat mudah menyerahkan dirinya jika Irene ada di tangan kita, Pria tua yang anda cari pasti akan ikut menyerahkan diri."
"Kita akan menggunakan wanita itu untuk memancing dalam jebakan. yang akan membuat dua mangsa kita terperangkap dengan satu umpan."ucap Tuan Jason tersenyum sambil menaikkan satu alisnya.
Tuhan Thomson kembali teringat dengan kejadian di Santa Barbara. Saat dia merayu Irene. Cornelius tampaknya sangat marah.
"Aku akan membiarkannya hidup beberapa hari ke depan. Setelah itu mereka semua akan menutup Mata Untuk selamanya.
Di saat itu tiba-tiba Camelia muncul, iya baru saja pulang setelah seharian berkeliaran di luar menikmati waktu kebebasan yang diberikan kakaknya.
Camelia melewati mereka. dia sempat melirik ke samping melihat Siapa yang duduk berbincang dengan kakaknya. Tuan Thomson juga melihat ke arah Camelia, hal yang sama juga dilakukan oleh Tuan jasad adiknya baru pulang.
"Dari mana saja, kenapa baru pulang?"tanya Tuan Jason.
"Habis jalan-jalan di luar. Kakak sudah makan? tanya Camelia balik.
"Belum, naik ke kamarmu dan bersih-bersih. setelah itu baru kita makan malam bersama."
__ADS_1
"iya."
Camelia pun pergi, tapi meninggal tatapan sinis melihat Tuan Thomson. Camelia tampaknya tidak menyukai kehadiran Tuan Thomson di kediamannya. Ia langsung meninggalkan Tuan jasa dan Tuan Thomson di ruang tamu.
Saat pertemuan Camelia dengan Tuan Thomson pertama kali di sebuah Cafe, iya sudah tidak menyukai sosok Tuan Thomson karena mata genitnya, saat itu Camelia ingin sekali dilecehkan Tuan Thomson. Tetapi Camelia memilih tidak memberitahu kepada kakaknya. Karena tidak ingin membuat kakaknya terlibat permusuhan dengan orang lain.
Sementara di dalam kamar Irene. Cornelius tampak berbaring dengan keadaan tak pakai atasan, bagian setengah dada sampai belakang punggung Cornelis tampak dibalut dengan perubahan putih.
Di samping tempat tidur, ada Irene yang duduk di lantai dengan posisi kepala berbaring di ujung kasur, dan kedua tangannya menggenggam tangan Cornelius. Irene tampak tertidur pulas menunggu Cornelius bangun.
Sedangkan Tuan Bernando Dan Timothy terlihat sedang duduk di sofa sumber menghisap rokok. Wajah Mereka tampak terlihat sangat serius.
Sejak Cornelius dipindahkan ke kamar Irene, mereka berdua memutuskan tidak tidur, selama Cornelius belum sadarkan diri.
Mereka berdua bekerja sama untuk menjaga Cornelius. Dan dokter Aliando sudah kembali ke rumah sakit, dan akan kembali untuk membawa peralatan medis yang akan dibutuhkan merawat Cornelius di rumah kost Irene nantinya.
Tuan Bernando berdiri dari sofa dengan perokok yang dijepit di bibirnya, iya pergi ke kamar Irene berdiri di samping pintu.
"Anak itu belum sadar juga."gumam Tuan Bernando dalam hati.
Tuan Bernardo masuk ke dalam pergi ke depan lemari Irene, iya mengeluarkan selimut dari dalam, lalu berbalik pergi menghampiri Irene.
Tuan Bernando membungkuk menyelimuti putrinya dengan selimut. sebelum dia pergi mengambil rokok dari bibirnya lalu mengecup kepala putrinya. "Kau harus jadi wanita kuat kelak. perjuanganmu tidak akan sampai di sini, masih banyak hal akan kau hadapi kedepannya, kau tidak boleh jadi wanita cengeng." kita harus membalaskan dendam kematian orang tua Cornelius. Dan kau harus membantunya.
Setelah mengatakan seperti itu Tuan Bernando berbalik pergi sambil menghisap rokoknya keluar dari kamar. Di saat itu juga kedua kelopak mata Cornelis perlahan terbuka.
Pandangan pertamanya yang dia lihat adalah langit-langit kamar. Tapi pandangan langsung berpindah ke samping, karena merasakan sentuhan tangan lembut Irene yang menggenggam tangannya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓sambil menunggu karya ini up yuk mampir ke karya baru emak."Antara Kutub Utara dan Selatan (You & Me)