
"Lebih baik kamu menyerah sekarang Fairuz! kamu sudah tidak bisa lari lagi! ujar Timothy dengan menata Fairuz dengan tatapan tajam.
kemudian pria itu berusaha untuk bangun sambil menendang pistol timoti terbang ke atas udara. Timothy sontak melangkah mundur ke belakang saat Fairuz akan memukul perutnya.
"Kau masih belum menyerah juga? aku tidak akan membiarkanmu pergi."ucap Timothy dengan sorot mata yang tajam menatap Fairuz seolah-olah di rumah ini menelan Fairuz hidup-hidup. Senjata Timothy jatuh di tengah-tengah keduanya.
Fairuz langsung membungkuk mengambil pistol itu, tapi Timothy tidak membiarkannya Dia menendang tangan Fairuz dan dadanya sampai membuat Fairuz melangkah mundur ke belakang.
Timothy menendang senjata itu ke belakangnya, dan berhenti tepat di ujung kaki anak buahnya. Fairuz yang tidak mau menyerah berlari menendang bagian perut Timothy tapi Timothy dengan cepat menahan serangan Fairuz menggunakan kedua tangannya.
Timothy melayangkan tendangan di dagu Fairuz, hingga tubuh Fairuz terpental ke trotoar. Timothy menendang tubuh Fairuz berulang kali, sampai tubuhnya benar benar tidak berdaya. Penglihatan Fairuz perlahan memudar dengan kesadarannya yang ikut menurun.
Fairuz kehilangan kesadarannya, di saat itu Timothy menghentikan tangannya." Kalian bawa pria itu!" Timothy memerintahkan anak buahnya membawakan tubuh Fairuz masuk ke dalam mobil mereka.
****
Waktu berlalu begitu cepat terlihat di jam dinding kamar Irene menunjukkan pukul 21.30. Irene tampak berbaring memperhatikan plafon ruang rawat inap yang ia tempati selama berada di rumah sakit. Sedangkan Cornelius duduk santai di sofa sambil mengupas buah. Dengan telaten ia meletakkan buah itu di dalam piring.
Cornelius bangkit dari tempat duduknya membawa piring yang berisi buah itu duduk di pinggir tempat tidur Irene.
"Ayo Gadis kecilku kamu makan buah ini. Aku mengupasnya untukmu."Irene bangkit duduk di tempat tidurnya dengan wajah masih cemberut.
Dari tadi aku sudah makan. Aku nanti bisa gemuk kalau begini terus. Setiap jam dan menit kamu memberikanku makanan. Irene merasa kesal karena Cornelius tidak henti-hentinya memberinya makanan.
Irene sama sekali tidak bisa makan dalam jumlah yang banyak. Itu membuatnya begitu kekenyangan."gadis kecilku yang manis, kau harus makan buah. Buah bagus untuk kesehatan." ucapnya sambil menyodorkan buah pir yang melekat di garpu.
Irene menggelengkan kepalanya berusaha untuk menolak dia tidak mau tubuhnya nanti kegemukan.
Irene selalu menjaga pola makannya agar bentuk tubuhnya tetap terlihat ideal di matanya. Dia tidak memperdulikan kata orang lain, tapi dia selalu berpikiran dengan pendapatnya sendiri tentang tubuhnya setiap saat berat badannya naik.
Cornelius sontak langsung memasukkan buah itu ke mulut Irene. tidak peduli kau gendut atau kurus, aku tetap akan menyukaimu." ucap Cornelius sambil mengembangkan senyumnya menatap Irene dengan tatapan penuh cinta.
Irene mengunyah buah pir yang diberikan oleh Cornelius, sambil menatap sinis ke arah Cornelius. "cie illeh buset dah, Paling juga kau akan bosan nantinya kalau aku gemuk, terus cari cewek masih muda dan cantik. penampilannya ideal.
Aku sudah hafal dengan sikap kalian para lelaki yang suka sekali mengucapkan kata cinta kepada setiap wanita yang berparas sedikit cantik." ucapnya kesal membuatnya teringat dengan mantan kekasihnya Aris yang tega berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
"Aku hanya akan menyukaimu, Tidak ada wanita yang bisa menggantikanmu." ucapnya tersenyum sambil mengusap-usap kepala Irene. Irene memalingkan wajahnya, rayuanmu tidak akan makan untukku.
Karena aku sudah merasakannya sendiri. mantan kekasihku juga mengatakan hal yang sama seperti yang kau ucapkan. Jadi aku tapi dia tega menghianatiku jadi aku tidak percaya begitu saja kepadamu." ucap Irene
__ADS_1
Cornelius mengembangkan senyumnya.
" Jadi kenapa kau memalingkan wajahmu? Apa kau malu? Irene seketika memalingkan kembali wajah dengan wajah yang marah.
"Siapa juga yang malu? bentaknya karena dirinya sudah emosi mendengar apa yang diucapkan oleh Cornelius
"Kalau kau tidak malu, kenapa kau memalingkan wajahmu dariku? ucap Cornelius dengan datar menatap kedua mata Irene yang tidak fokus
"Karena aku males aja lihat mukamu. ketusnya sambil mengambil buah dari tangan Cornelius.
'Kau tidak perlu menyuapiku. Aku bisa memakannya sendiri.
"lebih baik kamu pergi jauh-jauh dariku." Irene mencoba mendorong tubuh Cornelius. menjauh dari branker di mana Irene duduk menikmati buah pir yang sudah dikupas oleh Cornelius.
karena Irene sedang sakit. Cornelius memilih untuk mengalah, mau tidak mau Cornelius harus menurunkan sedikit egonya yang keras.
Dia berdiri dari tempat tidur. Irene kembali duduk di sofa memperhatikan Irene dari sana.
Sementara Irene melahap semua buah yang sudah dikupas oleh Cornelius dia merasa risih karena Cornelius terus memperhatikannya.
"Pelan-pelan makanya Sayang!" nanti kamu keselek.
Tiba-tiba ponsel Cornelius berdering
kring.....
kring.....
kring......
suara Deringan ponsel milik Cornelius terdengar jelas di telinga Cornelius.
Cornelius meraih ponselnya yang ada di saku celananya, Dia melihat panggilan dari timothy. Cornelius menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada timothy.
" Hello,ada apa? cepat katakan aku tidak memiliki banyak waktu." ucap Cornelius di dalam sambungan telepon selulernya.
" Tuan kami sudah menemukan pria itu Cornelius sontak berdiri dari kursinya.
" Dimana dia sekarang?
__ADS_1
" kami membawanya ke markas Tuan.
" Aku akan kesana sekarang ." ucap Cornelius sambil mematikan sambungan telepon selulernya.
"Ada apa Kau mau kemana?" tanya Irene penasaran.
" Ada sesuatu yang harus aku urus." ucapnya sambil mencari nomor dokter Aliando dari kontak telepon selulernya.
Karena Cornelius akan pergi, jadi dia menghubungi dokter Aliando untuk datang ke ruang rawat inap irene. Sampai dia kembali nanti. Tidak lama kemudian dokter Aliando datang.
" Ada apa kau memanggilku ke sini?
"Kau duduk di sini sampai aku kembali. jangan pernah tinggalkan dia sendirian.
" Memangnya kau mau kemana?
" Ada hal penting yang harus aku selesaikan malam ini juga." ucapnya berjalan pergi melewati dokter Aliando yang berdiri di depan pintu dengan terburu-buru, tidak sabar ingin bertemu pria itu.
"Kamu mau kemana?
"Jangan tinggalkan aku sendirian Disini. Aku takut." teriak Irene kepada Cornelius.
Cornelius menghampiri Iran yang masih berada branker.
"ada dokter Aliando yang menemanimu di sini aku hanya sebentar gadis kecilku." ucap Cornelius sambil memberikan kecupan hangat di kening Irene. lalu pergi meninggalkan Irene dan dokter Aliando yang masih berada di pintu
Dokter Aliando melangkah masuk ke dalam dengan senyuman menyapa Irene. Yang masih mengunyah makanannya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang saat ini?" Tanya Dokter Aliando kepada Irene.
Irene mengembangkan senyumnya meletakkan piring buahnya di atas nakas tepat di samping tempat tidur, sambil berkata seperti yang dokter lihat perasaanku sudah membaik. Tapi mentalku tidak baik-baik saja, jika harus selalu bersama pria itu." ucapnya cemberut mengeluh dengan penjagaan ketat yang dilakukan Cornelius.
Dokter Aliando menanggapi keluhan Irene dengan senyuman.
"Dia melakukan itu hanya untuk menjaga keselamatanmu. Kita tidak tahu musuhnya bisa datang kapan saja kesini. Dia menyukaimu itu sebabnya dia selalu bersamamu 24 jam disini menjagamu. karna dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada kamu.Sama seperti kemarin kamu hampir dibakar hidup-hidup oleh musuh Cornelius.
Hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓
__ADS_1