Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 99


__ADS_3

"Ibu.. Ibu mau kemana Bu?" tanya Kamelia yang heran dengan kelakuan Ibunya.


"Diam kamu di situ. Jangan kemana-mana sampai Ibu kembali," jawab Yuni menutup pintu dan menguncinya dari luar.


"Ibu tunggu, jangan di kunci," teriak Kamelia, namun tak di hiraukan oleh Yuni.


***


Yuni terus berjalan hingga tiba di persimpangan rumahnya. Yuni kemudian menyetop angkutan umum dan langsung menaikinya.


Lima menit berada di dalam angkutan umum dengan perasaan yang bercampur aduk, Yuni pun turun di depan kantor polisi dan bergegas turun lalu membayar ongkosnya.


Dengan langkah tergesa-gesa, Yuni melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor polisi tersebut.


"Selamat malam Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu polisi tersebut saat Yuni baru saja masuk ke dalam kantor tersebut.


"Ya, saya ingin membuat laporan polisi," jawab Yuni dengan nafas sesak dan emosi yang ia coba tahan sedari tadi.


"Sabar dulu Bu. Coba jelaskan kepada saya, laporan apa yang ingin Ibu buat," tanya polisi tersebut yang sedikit heran tingkah laku Yuni yang tergesa-gesa.


"Saya ingin membuat laporan mengenai anak kandung saya yang masih dibawah umur pak. Dia dinikahi dan dihamili oleh Ayah kandungnya sendiri. Saya benar-benar tidak bisa menerimanya pak. Bapak harus segera menangkap dan menghukum laki-laki bajingan itu dengan seberat mungkin," tangis Yuni pecah saat menjawab pertanyaan polisi tersebut.


"Apa? Ibu tidak bercanda kan? Ini bukan kasus main-main lo Bu?" tanya polisi kaget mendengar penjelasan Yuni.


"Untuk apa saya main-main dengan hal seperti ini pak? Intinya saja, bapak bisa tidak membantu saya untuk menangkap dan menghukum laki-laki jahanam itu. Jika bapak tidak percaya, saya akan cari kantor polisi lain yang mau menindak lanjuti pengaduan saya ini," ucap Yuni mengancam karena ia benar-benar marah saat ini.


"Baik Bu, kami akan membuatkan laporan Ibu, ayo masuk ikut saya," ucap polisi tersebut membawa Yuni ke dalam ruangannya.


Setelah membuat laporan polisi, Yuni kemudian segera pulang kerumahnya.


Setibanya di rumah, Yuni mendapati Kamelia akan menggantung dirinya dengan tali yang sudah ia ikatkan di atas plafon atap rumahnya.


"Kamelia," teriak Yuni yang langsung berlari dan menghambur memeluk tubuh anak perempuannya itu.


Tangisnya pecah memeluk Kamelia saat itu. Entah apa jadinya, jika dirinya telat satu menit saja untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


"Ibu lepaskan Kamelia Bu. Lepaskan. Kamelia mau pergi. Kamelia malu Bu. Kamelia malu," tangis Kamelia meminta agar Ibunya melepaskan pelukannya.


"Tidak nak. Ibu tidak akan melepaskan mu. Jangan lakukan hal nekat itu lagi nak. Ibu tidak sanggup jika harus kehilangan mu," jawab Yuni mempererat pelukannya.


"Tapi Kamelia malu Bu. Hidup Kamelia telah hancur. Kamelia benar-benar kotor Bu," balas Kamelia menangis sejadi-jadinya.


"Sudah nak. Kita hadapi ini semua sama-sama ya nak. Ibu juga meminta maaf jika telah membuatmu seperti ini. Disini Ibu juga salah nak. Seharusnya Ibu memberikanmu hidup yang layak dan memberi tahukan siapa sebenarnya Ayah kandungmu. Andai saja Ibu memberi tahukan mu semuanya, Ibu yakin ini semua tak akan terjadi nak. Maafkan Ibu Kamelia," ujar Yuni menyesali keegoisannya yang sengaja menutupi identitas Ayah kandung Kamelia.


Kini nasi sudah menjadi bubur. Tangisan dan penyesalan yang dirasakan oleh Kamelia, Yuni dan juga Paman Sam tidaklah berarti lagi.


.


.


Kini Paman Sam baru saja tiba di rumah yang ia sengaja beli untuk Kamelia.


Dengan langkah gontai, ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Adegan demi adegan bersama Kamelia kembali menari-nari di dalam benaknya.


Mulai dari awal ia berjumpa dengan Kamelia, sampai ia terakhir bertemu dengan Kamelia.


"Maafkan Ayah Kamelia. Maafkan Ayah. Dulu Ayah telah merusak hidup Ibumu dengan cara meninggalkan dia di saat dia tengah mengandung dirimu.. Sekarang Ayah juga merusak darah daging Ayah kamu nak. Darah daging Ayah sendiri..


Apa salahku padamu tuhan? Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga kamu menghukum ku sekejam ini?" tambah Paman Sam memukul-mukul dirinya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Paman Sam lada dirinya sendiri beberapa saat kemudian.


Ia kemudian bangkit dan memerintahkan supir untuk membawanya kembali pulang ke Jakarta.


Sedangkan Kamelia saat ini sudah mulai tenang. Saat ini, gadis cantik yang tengah hamil itu itu sedang beristirahat di kamarnya sembari di peluk oleh sang Ibu.


Kedua Ibu dan anak itu kini tengah diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Ibu," panggil Kamelia dengan suara lemah.

__ADS_1


"Ya," jawab Yuni mengusap kepala anaknya itu.


"Kamelia tidak mau melanjutkan kehamilan ini Bu. Kamelia malu. Lagi pula, anak ini tidak seharusnya lahir ke atas dunia ini. Ibu mau kan bantu Kamelia untuk menggugurkan bayi ini?" ucap Kamelia membuat tangis Ibunya pecah.


"Ibu akan mengusahakannya nak. Besok Ibu akan cari orang yang bisa menggugurkan kandungan mu itu. Ibu tau ini salah. Tapi membiarkan anak ini tetap lahir ke dunia, itu lebih salah lagi. Dia adalah darah daging Ayah kandungmu. Apa nanti yang orang katakan jika mereka tau jika Ayah dari anak ini adalah Ayah kandungmu sendiri?" ucap Yuni dengan mata yang sudah bengkak.


"Ibu, sekali lagi maafkan Kamelia. Kamelia benar-benar sudah melakukan kesalahan dan dosa besar. Ampuni Kamelia Bu," balas Kamelia kembali menangis..


"Sudahlah nak. Nasi sudah menjadi bubur. Sudah tidak ada lagi gunanya penyesalan. Sekarang lebih baik kita fokus untuk ke depannya. Ibu tidak mau lagi jika kamu menemui bahkan berhubungan lagi dengan laki-laki bajingan itu," jawab Ibu Kamelia dengan suara hang bergetar pilu.


.


.


"Pak, apa bapak mau membeli makan dulu?" tanya supir pribadi Paman Sam.


"Tidak. Aku tidak nafsu makan saat ini. Kita langsung pulang saja," jawab Paman Sam dengan tatapan kosong.


"Baik pak," jawab supir tersebut kembali diam.


Beberapa jam kemudian, mobil yang membawa Paman Sam kembali ke Jakarta akhirnya berhenti di rumah mewah miliknya.


Paman Sam langsung bergegas turun tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada supir pribadinya itu.


Ia kemudian masuk dan melihat Lyra tengah menggendong bayi mungilnya.


Paman Sam kemudian menghampiri Lyra dan juga bayinya itu. Ia menatap mantan istri dan darah dagingnya itu dengan tatapan penuh arti.


"Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Paman Sam pura-pura tidak tau.


"Tadi siang," jawab Lyra tanpa melihat ke wajah Paman Sam.


"Oh. Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang sakit?" tanya Paman Sam perhatian.


"Tidak. Aku tidak kenapa-napa," jawab Lyra kemudian memerintahkan baby sitter untuk mengantarnya ke kamar Lio.

__ADS_1


"Apa ini karma karena aku telah menyakiti dan menyia-nyiakan kamu Lyra. Kamu wanita baik-baik. Sebenarnya aku beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Hanya saja, adikmu ular betina itu datang dan menghancurkan segalanya.


Aku berjanji akan merebut hatimu kembali dan memperbaiki kesalahanku padamu," gumam Paman Sam lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2