
Liona yang sedari tadi menjadi patung merasa sangat sakit hati melihat kebahagiaan keluarga itu. Ia tak terima jika Gara hidup bahagia tanpa dirinya.
'Lihat saja, akan aku lenyap kan sumber kebahagiaan kalian itu,' batin Liona menatap Airin kesal.
***
Airin yang sedari tadi hanya tersenyum begitu bahagia saat melihat tawa Lena dan jua Paman Sam. Ia tak menyangka jika nasibnya akan seperti ini.
'Dulu aku hanyalah gadis biasa yang bekerja di bar untuk biaya pengobatan Ayah. Aku kemudian menjual kesucian ku pada lelaki hidung belang yang aku tak menyangka jika Tuhan memberikan buah hati di dalam rahimku. Awalnya aku sangat takut atas kehamilanku ini. Bagaimana tidak, aku sendiri dan anak ini sama sekali tidak memiliki anak. Namun aku bersyukur karena dia mau bertanggung jawab kepadaku dan juga calon anakku. Aku juga tak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini. Terima kasih Tuhan. Kau memang yang terbaik,' batin Airin menatap Gara yang masih belum sadarkan diri di sebelahnya.
"Airin? Kamu kenapa bengong nak?" tanya Lena yang diiringi oleh tatapan Paman Sam dan juga Liona.
"Gak papa kok Bu. Airin hanya bersyukur masih di berikan keselamatan dan di hadirkan di tengah-tengah keluarga ini. Keluarga yang menyayangi Airin tanpa melihat status sosial Airin," jawab Airin membuat Liona muak mendengarnya.
'Ck.. Pintar juga wanita ini mencari muka. Pantas Gara bisa mau dengannya. Tapi tenang, itu tak akan lama lagi. Cepat atau lambat, semuanya akan berubah,' batin Liona menatap Airin.
"Airin, anak baik akan di kelilingi dengan orang-orang yang baik juga. Kami semua di sini baik karena kamu juga baik. Jangan pernah berubah ya sayang," jawab Lena mengusap kepala Airin, membuat Liona merasa cemburu.
Sementara itu, Gara kini mulai sadarkan diri. Airin adalah kata pertama yang keluar dari mulutnya.
Mendengar suara anaknya, Lena segera menghampiri putranya itu. Disusul dengan Paman Sam dan Liona. Sedangkan Airin yang berusaha untuk bangun langsung di cegah oleh Emanuel yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sudah nak, kamu di sana saja. Jangan di paksakan," ucap Emanuel mengusap sekilas kepala Airin.
"Makasih Pak," jawab Airin masih tetap di tempatnya.
"Airin mana ma?" tanya Gara kepada mamanya.
"Itu Airin di sebelah mu nak. Kamu gimana? Apa yang kamu rasakan saat ini." jawab Lena kembali bertanya.
"Gara gak papa kok ma, hanya saja badan Gara sakit-sakit semua," jawab Gara menoleh ke arah Airin.
"Gara, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? Apa kau atau Leon ugal-ugalan?" tanya Paman Sam membuat Liona cemas.
"Gak Paman, hanya saja waktu itu ban mobilku pecah dan rem mobilku blong. Aku tidak tau kenapa bisa seperti itu. Padahal sehari sebelumnya aku dan juga Leon telah membawa mobil itu ke bengkel," jawab Gara menatap curiga kepada Liona.
"Lalu kenapa bisa seperti itu?" tanya Paman Sam ada yang aneh.
__ADS_1
"Entahlah Paman. Aku akan suruh polisi untuk menyelidiki masalah ini nanti setelah aku keluar dari rumah sakit ini," jawab Gara membuat Liona semakin cemas. Ia takut jika semua ulahnya akan terbongkar.
"Su.. Sudah. Buat apa lagi kamu selidiki masalah kecelakaan ini. Anggap saja ini murni kecelakaan, lagian kamu bisa kan beli mobil baru lagi," ucap Liona yang merasa takut jika kejahatannya akan terbongkar.
"Ini bukan masalah mobil baru. Dan lagian kenapa kau terlihat cemas seperti itu," jawab Gara sinis.
"Ce.. Cemas? Siapa yang cemas. Aku hanya memberikan masukan. Kalau kau keberatan ya sudah," jawab Liona gugup.
"Sudah-sudah. Kalian ini selalu bertengkar. Gara jika kau mau mencurigai seseorang telah merusak mobilmu, Paman akan bantu menyelidiki kasus ini," ucap Paman Sam membuat Liona semakin cemas saja.
'Ngapain sih ini aki-aki sok-sokan mau bantuin Gara. Kalo ketahuan gimana,' batin Liona kesal menatap suaminya itu.
.
.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Gara, Leon dan Airin pun sudah kembali ke kota mereka. Mereka saat ini tinggal di rumah yang Gara belikan buat Airin.
"Leon," panggil Gara yang saat itu tengah bermain dengan putrinya Clara.
"Kenapa?" tanya Leon melihat Gara sekilas.
"Belum Gar. Siang ini ada panggilan polisi buat kita. Nanti biar aku saja yang datang ke kantor polisinya," jawab Leon kembali fokus dengan putrinya.
"Aku akan ikut denganmu nanti," jawab Gara lalu pergi meninggalkan Leon bersama Clara.
Gara berniat hendak menemui Airin. Namun saat ia akan mengetuk pintu kamar Airin, kebetulan Airin membuka pintunya, dan seketika itu juga jidat Airin terkena ketukan oleh tangan Gara.
"Auuh sakit. Kamu jahat banget sih," lirih Airin merasakan sakit di jidatnya itu.
"Ma.. Maaf Airin, aku gak sengaja. Lagian kamu buka pintunya dadakan begitu," jawab Gara membela diri sambil berusaha memegang jidat Airin, namun selalu di tepis oleh wanita cantik itu.
"Gak usah pegang-pegang," jawab Airin kemudian berlalu meninggalkan Gara.
"Kamu mau kemana?" tanya Gara saat melihat Airin hendak pergi karena ia menenteng tas di tangannya.
"Aku mau belanja perlengkapan bayi dengan Ibu. Kau tau, sebentar lagi aku akan segera melahirkan," jawab Airin masih kesal.
__ADS_1
"Airin tunggu, aku ikut. Seharusnya itu bukan urusan mama. Kau tak boleh pergi bersamanya," jawab Gara mensejajarkan langkahnya dengan Airin.
"Kenapa? Diakan Ibumu," jawab Airin.
"Airin itu momen ku. Kau akan pergi bersamaku. Kalau kau tidak mau, maka aku akan memperkejakan Luna kembali bersamamu," jawab Gara mengancam.
"Kau mengancam ku?" tanya Airin yang menuruni tangga perlahan.
"Ya, aku mengancam mu," jawab Gara enteng.
"Kau ini. Baiklah, aku akan pergi bersamamu dan juga Ibumu," jawab Airin membuat Gara tidak puas.
"Tidak, kau akan pergi bersamaku saja, tanpa mama," jawab Gara.
"Tapi aku sudah janji sama Ibumu Gara," jawab Airin kesal.
"Biarkan saja. Aku akan menelponnya," jawab Gara mengeluarkan ponselnya.
"Kamu tak perlu menelpon Mama," jawan Lena yang sudah berada di lantai satu dengan Clara, tapi mereka tidak melihat sama sekali karena sibuk berdebat.
"Ibu," panggil Airin menyusul calon mertuanya itu.
"Ma, mama kenapa harus ikut sih. Gara kan bisa temanin Airin buat beli perlengkapan bayi kita. Lagian mama, ini adalah momen buat Gara. Mama di rumah saja ya," ucap Gara membuat mamanya itu geleng-geleng kepala.
"Hhhhhh baiklah. Tapi tolong kasih mama alamat rumah Airin di kampungnya. Mama sama Papamu akan berangkat menjemput mereka. Sebentar lagi Airin akan melahirkan, kehadiran seorang Ibu sangatlah berguna buat Airin. Dan sebentar lagi kalian akan menikah juga," ucap Lena menatap Gara dan Airin bergantian.
"Mama sungguh?" tanya Gara senang.
"Ya.. Ayo. Kirim alamatnya ke ponsel mama ya. Mama sama papa akan berangkat sekarang," jawab Lena mengusap perut buncit Airin.
"Baik, tapi mama sama papa hati-hati ya. Jangan lupa bawa beberapa pengawal," ucap Gara yang mengutak atik ponselnya mengirimkan alamat rumah Airin.
"Baik sayang. Terima kasih ya. Kalau gitu mama berangkat dulu," ucap Lena pamit kepada Airin, Gara, dan juga Leon.
"Hati-hati ya Bu. Maafkan Airin jika membuat Ibu repot," jawab Airin merasa tak enak.
"Tidak masalah. Oh ya, nanti Zaki dan Ibunya akan tinggal disini untuk sementara. Apa kalian tidak keberatan?" tanya Lena menyampaikan pesan suaminya.
__ADS_1
"Oh, sama sekali tidak kok Bu. Malah Airin senang," jawab Airin tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu mama pergi," ucap wanita paruh baya itu kemudian pergi dari rumah itu.