
"Oh, Nay," desah Zilgwin merasakan kenikmatan yang sudah lama ia tak dapatkan. Zilgwin adalah tipe suami yang setia. Meskipun lama di tinggal Laura, namun ia tidak pernah berbuat macam-macam di luaran sana.
***
"Oh kak," desah Kanaya. Perlahan sakit yang Kanaya rasakan mulai berganti dengan rasa nikmat yang baru pertama kali ia rasakan.
Semakin larut malam, semakin larut dan panas juga permainan Kanaya dan Zilgwin.
Kamar yang semulanya rapi kini sudah berantakan seperti kapal pecah.
Zilgwin merasakan jiwanya kembali hidup saat kembali melakukan peraduan dengan seorang wanita.
Zilgwin bagaikan pengantin baru yang memang belum pernah melakukan hal-hal yang mengarah ke arah percintaan.
Hampir dua jam lebih Zilgwin dan Kanaya berbagi peluh, melakukan penyatuan satu sama lain di atas ranjang peraduan.
"Huh..Huh..Huh.," lenguh Kanaya dan Zilgwin bersamaan sesaat setelah mereka berdua telah mencapai puncaknya.
"Bagaimana? Apa yang kamu rasakan?" tanya Zilgwin yang tiduran di sebelah Kanaya.
"E.. Entahlah kak. Rasanya begitu baru di dalam hidupku. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata," jawab Kanaya masih dengan dada yang kembang kempis.
"Itulah yang di katakan surga dunia. Proses pembuatan anak manusia. Kita harus melakukannya sesering mungkin agar cepat membuahkan hasil," modus Zilgwin seolah telah melupakan Laura, mantan istrinya.
'Dasar modus,' batin Kanaya mengulum senyumnya.
"Oh ya Kanaya, dalam waktu dekat ini kita akan berangkat ke Sidney, kamu, aku, dan juga Kenzie. Sekalian, kita akan bulan madu di sana," kata-kata Zilgwin membuat Kanaya cukup terkejut.
"A.. Apa? Sidney?" tanya Kanaya lagi. Ia mencoba memastikan kembali ucapan suaminya itu barusan.
__ADS_1
"Iya Sidney, kenapa? Jangan bilang kamu tidak mau ikut. Aku tidak menerima penolakan. Ingat itu," jawab Zilgwin seketika membuat Kanaya terdiam.
"Kanaya kamu tau, jujur aku masih belum bisa move on dari mendiang Laura. Tapi, saat kamu mengatakan akan pergi meninggalkan ku dan juga Kenzie, tiba-tiba saja aku merasakan sakit dan takut kehilangan lagi. Kehadiran mu dalam hidupku sedikit banyaknya telah merubah hidup ku. Bisa dikatakan, kamu telah berhasil membuat tempat baru untuk mu di hatiku. Terima kasih Kanaya, kamu telah mau menikah dengan laki-laki seperti ku. Aku harap kamu tidak pernah bosan untuk mencintaiku," ucap Zilgwin menolehkan kepalanya kearah istrinya itu.
"Yah, dia tidur," ucap Zilgwin mendapati istrinya telah tertidur dengan lelap. Zilgwin terus menatap wajah cantik Kanaya. Ada suatu rasa yang menyelimuti hatinya saat menatap wajah anggun tersebut. Rasa yang membuat Zilgwin merasa tenang dan nyaman.
"Apa yang dikatakan Lee itu benar? Apa benar aku telah mencintainya selama ini?" gumam Zilgwin yang akhirnya juga tertidur sembari memeluk tubuh polos Kanaya.
Beberapa jam kemudian, Kanaya merasakan ada sesuatu yang tengah menggerayangi tubuhnya.
Perlahan, Kanaya mulai membuka matanya perlahan dan mendapati Zilgwin tengah menatapnya dengan tatapan sayu karena nafsu
"Ka.. kak," ucap Kanaya yang juga menatap suaminya itu.
"Kay, kamu bangun? Maafkan aku, tapi aku tidak bisa lagi menahannya. Bolehkan aku memintanya sekali lagi?" pinta Zilgwin dengan nafas yang sudah memburu.
"Bo.. Boleh kak. Si.. Silahkan," jawab Kanaya menganggukkan kepalanya.
Kali ini mereka tidak bermain begitu lama lantaran azan subuh telah berkumandang. Sementara Zilgwin telah tertidur setelah mencapai tujuannya, Kanaya lebih memilih untuk mandi dan membantu si mbok memasak sarapan pagi di dapur.
Tak terasa matahari sudah menyingsing, cahayanya pun juga masuk ke dalam kamar Zilgwin dan juga Kanaya melalui sela-sela udara.
Berkali-kali alarm dari ponsel laki-laki tampan itu berdering, namun tidak membuat Zilgwin terbangun dari tidurnya.
Sementara itu....
"Nay, kamu jalannya kenapa begitu?" tanya si mbok yang memperhatikan jalan Kanaya tidak seperti biasanya.
"Hmmmmm, itu.. Itu karena.. Karena...," jawab Kanaya terbata-bata.
__ADS_1
"Ooooo mbok tau. Kalian sudah melakukan malam pertama kan? Ayo jangan bohong sama si mbok," pungkas si mbok membuat pipi Kanaya merah merona.
"Ih, mbok apaan sih," balas Kanaya malu-malu.
"Aduh, mbok senang sekali. Akhirnya setelah sekian tahun kalian menikah, akhirnya suami mu itu mau menyentuhmu. Selamat ya nak. Mbok doakan kamu cepat mendapatkan momongan," ucap si mbok memeluk Kanaya.
"Terima kasih mbok. Terima kasih doanya," balas Kanaya memperat pelukannya.
"Oh ya, apa itu mu masih sakit? Jika iya, kamu istirahat saja di kamar," ucap si mbok yang mengerti dengan keadaan majikannya itu.
"Enggak sakit kok mbok. Hanya ngilu sedikit saja. Mbok gak usah khawatir," balas Kanaya menolak untuk beristirahat.
Beberapa saat kemudian, semua masakan telah tertata rapi di atas meja makan. Si mbok dan Kanaya hanya perlu menunggu Zilgwin untuk turun sarapan pagi. Tapi, setelah menunggu cukup lama, Zilgwin tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Nay, sepertinya suami mu itu tertidur. Dia pasti kelelahan karena habis bertempur dengan gadis perawan seperti mu," ledek si mbok membuat pipi Kanaya kembali bersemu merah.
"Ih si mbok apaan sih. Coba sebentar aku susul kak Zilgwin ke kamarnya. Siapa tau dia lagi mandi," ucap Kanaya setengah berlari karena takut akan di ledek si mbok lagi.
Setibanya di kamar, Kanaya melihat Zilgwin masih saja tertidur dengan begitu lelapnya. Sebenarnya Kanaya tidak tega membangunkan suaminya itu, tapi, mau tak mau, ia harus membangunkan Zilgwin karena hari ini, Zilgwin akan bekerja.
"Kak.. Kak.. Kak bangun kak.. Kak bangun, ini sudah jam tujuh lewat loh kak," Kanaya mengguncang tubuh Zilgwin dengan pelan.
"Mmpphhh, sebentar lagi ya Nay. Aku masih lelah dan capek," gumam Zilgwin masih dengan mata tertutupnya.
"Tapi ini udah jam tujuh lewat loh kak. Kakak gak ke kantor apa? Bukannya kakak bilang besok akan berangkat ke Sidney?" ucap Kanaya lagi. Mendengar kata Sidney, seketika mata Zilgwin terbelalak. Ia langsung bangun karena ingat ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.
"Hhhh, aku akan mandi sebentar. Kanaya kamu tau, karena ulah mu, aku menjadi sangat lelah sekali pagi ini," ucap Zilgwin yang tiba-tiba saja menjadi nyinyir dan banyak bicara.
"Aku? Kenapa aku?" tanya Kananya bingung.
__ADS_1
"Karena kamu membuat ku selalu menginginkannya lagi dan lagi," jawab Zilgwin memberi satu kecupan manis di bibir indah Kanaya.
"Kenapa dia bisa berubah dalam satu malam begini? Dan.. Ini.. Ini darah apa?" Kanaya yang seketika kaget melihat seprai putih yang menjadi saksi bisu permainan panasnya dengan Zilgwin ternoda bekas darah.