
Tak lama kemudian, Liona masuk dengan menenteng minuman dingin yang ada di tangannya.
"Permisi dokter, maaf tadi saya keluar membeli minum," jawab Liona kepada dokter Dimas.
"Tidak masalah, saya hanya melakukan pemeriksaan pasca operasi. Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada apa-apa, silahkan hubungi saya kembali," jawab dokter Dimas melihat Lyra sekilas lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Lyra terus menatap punggung dokter Dimas. Ia benar-benar berharap keajaiban itu akan datang melalui bantuan dari dokter Dimas.
"Kenapa kak? Apa kakak menyukai dokter tampan itu?" tanya Liona sinis.
Lyra hanya diam saja menanggapi pertanyaan dari adiknya itu. Tak ada gunanya juga Lyra menjawab pertanyaan yang tidak bermutu tersebut.
"Aku bilangin ya kak, kakak jangan terlalu banyak bermimpi. Ingat, kakak itu lumpuh, jadi buang jauh-jauh mimpi kakak itu," jawab Liona membuat Lyra sakit hati.
'Awas saja kamu dek. Jika nanti kakak sembuh, kakak akan membalaskan semua dendam kakak padamu dan juga pada Mas Samuel. Kalian bersenang-senanglah dulu di atas penderitaan ku,' batin Lyra menatap keluar jendela kamar tersebut.
Di tempat perlengkapan bayi, Gara dan juga Airin sibuk memilih pakaian untuk calon bayi mereka yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Tak hanya Gara dan juga Airin. Leon yang menggendong Clara dengan alat gendong pun tampak sibuk dan antusias memilihkan pakaian yang lucu-lucu buat putri semata wayangnya itu.
"Hai Leon, kau beli apa? Kenapa banyak sekali?" tanya Gara melihat Leon membeli banyak baju.
"Habis aku bingung sekali. Baju anak perempuan ini semuanya lucu-lucu dan juga bagus-bagus. Tapi sekali-kali tidak apalah. Kapan lagi kau akan membelikan baju buat putriku," jawab Leon melanjutkan belanjanya.
"Kau bilang apa? Kau yang belanja, ya kau yang harus membayarnya sendiri. Itukan anakmu, bukan anakku," jawan Gara kesal.
"Tega sekali kau Gara. Sebegitu pelitnya kau padaku hmmm? Kau tak ingat atas semua perjuanganku selama ini? Kau kejam Gara.. Kau kejam," ucap Leon kembali bermain drama.
Para pelanggan yang melihat Gara dan Leon berdebat pun hanya tertawa dan saling berbisik satu sama lain.
Berkali-kali kedua sahabat itu mendapatkan predikat gay dari orang-orang yang sesekali bertemu dengannya.
__ADS_1
"Kau jangan berulah lagi Leon. Kau tak dengar mereka kembali mengatakan kita pasangan sesama jenis," bisik Gara di telinga Leon.
"Aku akan berhenti jika kau mau membayarkan belanjaan ku," ancam Leon mengedipkan sebelah matanya.
"Kau mengancam ku?" balas Gara.
"Yaps," jawab Leon santai.
"Baiklah. Aku akan membayarkan mu," jawab Gara lalu berjalan meninggalkan Leon dan kembali menyusul Airin.
Mereka memanglah sahabat yang aneh. Tak hanya itu, mereka selalu ada dalam satu sama lainnya.
Keesokan paginya, Airin yang baru saja bangun dari tidurnya.
Ia berniat untuk memasak sarapan pagi seperti biasanya. Namun saat Airin hendak ke dapur, saat ia melewati ruang makan, ia tak sengaja mencium aroma masakan yang memang sudah sangat lama sekali ia tidak rasakan.
Dengan penasaran, Airin pun akhirnya melangkah ke meja makan, lalu dengan perlahan tapi pasti wanita hamil itu membuka meja tudung saji yang ada di atas meja tersebut.
"I... Ini... Ini sama seperti masakan Ibu. Baunya juga sama.. Ini masakan kesukaan ku. Hanya Ibu yang bisa membuat masakan ini. Tapi kenapa sekarang berada di sini?" gumam Airin bertanya-tanya.
"Ibu.. Masakan ini sama persis dengan masakan yang Ibu buatkan untuk Airin. Airin kangen Ibu.. Airin kangen Ayah," ucap Airin sambil menangis.
"Ibu sama Ayah juga kangen kamu Airin," jawab suara perempuan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Airin.
Mendengar suara yang sudah cukup lama tidak ia dengar, dengan perlahan Airin menoleh ke arah suara tersebut.
"I... Ibu.. Ayah," ucap Airin tak menyangka jika saat ini Ayah dan Ibunya tengah berdiri di hadapannya.
"Iya nak, ini Ibu sama Ayah. Maafkan kami nak. Maafkan kami," jawab Ibu Hany, ibunya Airin.
"Ayah juga minta maaf nak. Seharusnya Ayah percaya sama percaya sama kamu. Ayah seharusnya membela kamu waktu itu. Gara-gara penyakit Ayah, kamu rela berkorban sejauh itu nak. Maafkan Ayah," ucap Ayah Aidil dengan mata berlinang.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, tidak apa-apa. Ini bukan salah kalian. Ini sudah jalan takdir Airin Ayah, Ibu," jawab Airin menyeka air matanya.
"Airin, boleh Ibu peluk kamu nak?" tanya Ibu Hany membentangkan tangannya.
"Tentu Ibu. Tentu," jawab Airin yang langsung berhambur ke dalam pelukan sang Ibu.
Tak hanya Ibu Hany. Ayah Aidil pun juga ikut memeluk dua wanita yang telah memberi warna dalam hidupnya itu.
Mama Lena yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat keluarga kecil itu berpelukan dan saling melepas rindu itu, hanya berdiri melihat momen haru tersebut. Ia tak mau masuk dan mengganggu temu kangen antar orang tua dan anak tersebut.
"Airin, calon mertua kamu itu orang baik nak. Ayah pesan sama kamu, hormati mereka seperti kamu menghormati Ayah dan Ibumu. Sayangi mereka seperti kamu sayang Ayah dan Ibu," ucap Ayah Aidil di sela-sela isak tangisnya.
Bukan tanpa sebab Ayah Aidil mengatakan hal seperti itu. Saat kedua orang tua Gara baru saja tiba di kampung halaman Airin, banyak warga yang mengiringi mobilnya, karena tak biasanya mobil mewah masuk ke kampung mereka.
Saat mobil itu berhenti di balai warga yang kebetulan saat itu ada rapat acara penggalangan dana untuk pembangunan masjid dan juga sekolah, mereka tiba-tiba saja masuk dan mengatakan jika mereka siap menjadi donatur untuk pembangunan tersebut sampai selesai.
Ayah Aidil yang kebetulan juga ikut dalam rapat tersebut langsung tercengang melihat kedua orang dari kota tersebut.
Para warga juga tak kalah kaget dan tercengang.
Saat di tanya oleh pak kades, mereka menjelaskan jika mereka sedang mencari alamat Ayah dan Ibu selaku orang tua kamu nak.
Ayah Aidil sangat kaget sekali waktu itu. Akhirnya kedua calon mertua Airin menjelaskan semuanya kepada Ayah Aidil dan juga warga lainnya.
Warga kampung halaman Airin sangat menyesal karena telah mengusir dara cantik itu, dan akhirnya menitipkan permohonan maafnya kepada kedua orang tua Airin.
"Ayah benar, Ibu Lena dan Bapak Samuel sangatlah baik sekali. Airin beruntung jika mereka ternyata adalah calon mertuanya Airin," jawab Airin yang masih di dalam pelukan Ibu dan Ayahnya.
"Ya sudah, kalau begitu kamu kembalilah ke kamarmu nak. Buruan mandi dan kembalilah kesini buat sarapan pagi," ucap Ibu Hany melepas pelukannya.
Beberapa saat kemudian, Ibu Lena dan suaminya sudah duduk di meja makan. Tak hanya mereka, Zaki dan Ibunya juga telah ada di sana. Di tambah lagi dengan Leon dan Clara beserta Ayah dan Ibunya Airin. Mereka semua berkumpul layaknya keluarga besar yang bahagia.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, Gara pun ikut menyusul di tambah lagi dengan Airin yang baru saja keluar dari kamarnya.
(Gara dan Airin kan belum menikah, jadi mereka beda kamar ya sayyy..)