Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 133


__ADS_3

"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Ustadz Gibran yang sedari tadi setia menunggu kesadarannya.


"Su.. Sudah Aby. Bagaimana Ayah? Apa ia masih di rumah ini?" tanya Kamelia teringat dengan Paman Sam.


"Beliau sedang di kafani sayang. Kamu istirahat saja ya. Aby takut kamu akan jatuh pingsan lagi," jawab Ustadz Gibran mengusap kepala istrinya yang di tutupi hijab tersebut.


***


"Tapi By, aku mau mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Apa Aby mengizinkannya?" jawab Kamelia kemudian meminta izin suaminya itu.


"Apa kamu yakin tidak akan pingsan lagi?" tanya Ustadz Gibran mencemaskan istrinya itu.


"Tidak By, aku yakin tidak akan kenapa-napa," jawab Kamelia.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Ustadz Gibran mengizinkan Kamelia untuk ikut ke pemakaman Paman Sam.


Beberapa jam telah berlalu. Paman Sam pun sudah di kuburkan di pemakaman keluarga, tepat di sebelah makam Ibunda tercintanya.


Saat ini Kamelia tengah berpamitan untuk pulang ke kota B. Ia harus sekolah dan Ustadz Gibran harus mengajar kembali.


Begitu juga Yuni, ia juga harus balik karena tidak enak berlama-lama di rumah Emanuel.


Awalnya Emanuel dan keluarganya melarang Kamelia keluarganya untuk pulang. Namun karena Kamelia tetap bersikeras untuk pulang, Emanuel terpaksa mengizinkannya.


"Hati-hati di jalan Kamelia. Sering-seringlah kunjungi keluarga mu yang ada disini. pintu rumah ini selalu terbuka dua luluh empat jam untuk mu dan juga keluarga mu," ucap Emanuel saat Kamelia dan keluarganya akan memasuki mobilnya.


"Baik, terima kasih Om. Kami pulang dulu," jawab Kamelia lalu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Emanuel tersebut.


"Hmmmm pa, apa papa sudah memberi tahukan kepada Liona tentang Paman?" tanya Gara saat mereka tengah duduk di ruang keluarga.


"Belum Gara. Papa lupa. Bagaimana kalau kamu dan Airin saja yang pergi," ucap Emanuel kepada anaknya itu.


"Baiklah. Aku dan Airin akan berangkat sekarang," jawab Gara lalu bangkit bersama istri tercintanya.


Satu jam kemudian, Gara dan juga Airin telah tiba di kantor polisi dan tengah berada di ruang tunggu.

__ADS_1


"Ada apa kalian menemui ku lagi?" tanya Liona judes.


"Liona, kami kesini hanya mau mengatakan jika Paman Sam sudah meninggal dunia. Jika tidak, maka aku tak akan sudi untuk menemui wanita busuk seperti mu," jawab Gara dingin.


"A.. Apa? mas Sam meninggal? Tidak.. Tidak.. Kalian pasti bercanda kan?" tanya Liona tak percaya.


"Untuk apa aku bercanda dengan mu? Lebih baik aku bercanda dengan istriku di atas ranjang," bisik Gara masih bisa di dengar oleh Airin.


Seketika wajah Airin bersemu merah, namun tidak dengan Liona. Ia tampak sakit hati dan menatap Airin dengan tatapan tajam.


"Brengsek kamu Gara. Lihat saja nanti, jika aku keluar dari penjara ini, maka keluargamu lah yang akan aku hancurkan terlebih dahulu," ucap Liona mencoba mengancam Gara.


"Haha.. Kamu mau menghancurkan keluarga ku? Silahkan saja, aku tidak takut," balas Gara dengan tawa yang membuat Liona semakin sakit hati.


Beberapa bulan telah berlalu, kini Kamelia sedang menjalani ujian naik kelas.


Saat tengah mengerjakan tugas ujiannya, tiba-tiba saja Kamelia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Kebetulan yang menjadi pengawas saat itu adalah Ustadz Gibran. Seketika Ustadz Gibran panik dan langsung berdiri dari tempat ia duduk dan menghampiri Kamelia yang sudah di kerubungi oleh murid-murid lainnya.


"Minggir-minggir, saya akan bawa Kamelia ke UKS. Sekarang kerjakan kembali ujian kalian. Ingat, jangan ada yang mencontek," ucap Ustadz Gibran panik, lalu ia bergegas mengangkat tubuh Kamelia ke ruang UKS.


"Tolong Buk, Kamelia pingsan. Tolong periksa dia secepatnya," jawab Ustadz Gibran panik.


'Kenapa Ustadz Gibran terlihat begitu panik sekali ya?' batin penjaga Ibu Rini, penjaga UKS tersebut sembari memeriksa keadaan Kamelia.


"Bagaimana? Apa Kamelia baik-baik saja?" tanya Ustadz Gibran masih sangat cemas sekali saat Ibu Rini telah selesai memeriksa Kamelia.


"Hmmmmm, bagaimana ya Ustadz cara memberi tahukannya," ucap Ibu Rini membuat Ustadz Gibran semakin penasaran.


"Kenapa Buk? Ayo katakan saja," jawab Ustadz Gibran tidak sabaran.


"Hmmmmm, begini, sepertinya Kamelia hamil. Untuk hasil lebih jelasnya, Ustadz bisa minta Kamelia untuk memeriksakannya ke dokter ataupun ke klinik kesehatan," jelas Ibu Rini kepada Ustadz Gibran.


"Apa? Ka.. Kamelia hamil?" ucap Ustadz Gibran kaget.


"I...Iya Ustadz. Tapi untuk lebih jelasnya, kita bawa saja Kamelia ke dokter. Jika dia benar-benar hamil, kita akan mengatakannya kepada Kiyai Sodikin untuk di tindak lanjuti.

__ADS_1


"Alhamdulillah.. Semoga saja Kamelia benar-benar hamil," ucap Ustadz Gibran membuat Ibu Rini benar-benar kaget.


"Mak.. Maksud Ustadz apa? Kenapa Ustadz begitu senang sekali?" tanya Ibu Rini menautkan kedua alisnya.


'Astaga, aku keceplosan,' batin Ustadz Gibran baru menyadarinya.


"Hmmmmm, begini Buk, saya mau mengatakan sesuatu, tapi jangan bilang-bilang kepada siapapun ya," ucap Ustadz Gibran mau tak mau harus mengakui semuanya kepada Ibu Rini.


"Baik, saya berjanji tidak akan memberi tahukannya kepada siapapun. Ustadz bisa pegang janji saya," jawab Ibu Rini yang masih penasaran dengan apa yang akan di katakan Ustadz Gibran kepadanya.


"Jadi begini, sebenarnya, Kamelia itu adalah istri saya. Kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu," jelas Ustadz Gibran membuat Ibu Rini benar-benar terkejut.


"A.. Apa? Ja.. Jadi.. Jadi kalian telah menikah? Tapi, apa Kiyai Sodikin mengetahuinya?" tanya Ibu Rini sedikit kepo.


"Tau. Bahkan Kiyai Sodikin lah yang menikahkan kami berdua," jawab Ustadz Gibran benar-benar membuat Ibu Rini shock. Bagaimana tidak, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ibu Rini sebenarnya menyimpan rasa yang berbeda kepada Ustadz Gibran. Tapi, Ibu Rini tidak mau mengungkapkannya.


Bagi dirinya melihat Ustadz Gibran sudah bahagia saja, ia sudah merasa bahagia sekali.


"Baiklah, kalau begitu, selamat Ustadz atas pernikahannya. Dan saya juga mengucapkan selamat kepada kalian berdua jika Kamelia benar-benar hamil. Tapi bagaimana jika murid-murid lainnya tau tentang ini? Apa yang akan mereka katakan nanti?" ucap Ibu Yuni sedikit khawatir dengan nasib Ustadz Gibran dan juga Kamelia.


"Kami akan mencoba menyembunyikannya sebaik dan sebisa mungkin. Yang terpenting, Ibu jangan sampai membocorkan perihal ini kepada siapapun juga," jawab Ustadz Gibran membuat Ibu Yuni mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah, saya tidak akan memberi tahukannya kepada siapa pun juga. Ustadz tenang saja," ucap Ibu Rini.


Beberapa saat kemudian, Kamelia pun akhirnya sadarkan diri. Dengan cepat, Ustadz Gibran memberikan air putih kepada istrinya itu.


"Hmmm, Ustadz, saya pamit keluar dulu ya. Jika ada apa-apa, panggil saja," ucap Ibu Rini meninggalkan sepasang suami istri itu berdua.


"Baik, terima kasih Buk," ucap Ustadz Gibran kembali fokus ke Kamelia.


"A.. Aby.. Apa. Apa Ibu Rini tau jika kita...," tanya Kamelia terputus.


"Beliau sudah tau. Sudah, kamu jangan banyak pikiran. Ibu Rini bilang kemungkinan besar kamu sedang hamil, nanti setelah tugas mengawas ku selesai, aku akan menemanimu ke dokter," jelas Ustad Gibran membuat Kamelia terbelalak.


"A.. Apa? Aku.. Aku hamil?" ucap Kamelia masih tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2