Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 132


__ADS_3

"Yuni yang merasa kasihan pun akhirnya memutuskan untuk menelpon menantunya Ustadz Gibran dan memanggilkan Kamelia lewat panggilan video.


Beberapa saat kemudian, di saat Paman Sam masih dalam sakratul maut nya........


"Samuel lihat lah, ini Kamelia putri mu.," ucap Yuni memperlihatkan wajah Kamelia yang sudah ada di dalam layar ponsel milik Yuni.


***


Mendengar nama Kamelia, Paman Sam berusaha menggerakkan kepalanya menghadap ponsel untuk dapat melihat wajah putrinya itu.


"Ka.. Kamelia, ma.. Maafkan Ayah," ucap Paman Sam bersusah payah.


Melihat keadaan Paman Sam, ada rasa ngilu dan pedih di hati Kamelia. Ia sendiri tidak tau entah rasa apa itu.


Dengan menarik nafas panjang, Kamelia mengatakan "aku memaafkan semua kesalahan Ayah," kata itu ia ucapkan dengan air mata yang berlinang.


Semua orang menyaksikan momen haru tersebut ikut terbawa suasana. Contohnya saja Airin, ia tak kuasa menahan air matanya menyaksikan momen haru dan yang tengah berlangsung di depan matanya itu.


Setelah mendapatkan kata maaf dari putrinya, seketika Paman Sam tersenyum pilu dan ia pergi untuk selamanya.


Tangis Emanuel pecah saat adik satu-satunya pergi meninggalkan dunia ini dengan cara yang seperti ini.


"Kenapa Bu?" tanya Kamelia yang mendengar Emanuel setengah berteriak memanggil nama adiknya itu.


"Ayah mu nak. Dia.. Dia baru saja meninggal," jawab Yuni dengan syara bergetar.


"A.. Apa.. Innalillah. Ayah," ucap Kamelia meneteskan air matanya.


Emanuel kemudian bergegas memanggil dokter untuk penanganan lebih lanjutnya lagi.


Dokter yang datang pun memeriksa apakah Paman Sam masih bisa di selamatkan atau tidak, namun sayang, Paman Sam benar-benar telah pergi untuk selamanya.


"Sudah, ikhlaskan Samuel pa," ucap Lena pada suaminya itu.


Sedangkan Gara yang merupakan satu-satunya keponakan Paman Sam juga terlihat hancur sekali melihat tubuh Pamannya itu sudah terbujur kaku. Tak ada lagi Paman Sam yang tampan, mapan dan perkasa itu.

__ADS_1


Yang ada saat ini hanyalah seonggok tubuh tanpa jiwa yang terbujur kaku.


"Paman," ucap Gara getir dengan air mata yang mulai menetes.


"Mas.. Sabar.. Kuatkan hati mu," ucap Airin menenangkan.


"Kami telah mencatat waktu kematian pasien. Silahkan perwakilan keluarga untuk mengurus kepulangan jenazah ke rumah duka ya. Saya permisi dulu," jawab dokter tersebut lalu pergi meninggalkan ruang rawat yang tengah berduka tersebut.


Beberapa jam kemudian, jenazah Paman Sam dibawa pulang ke rumah Emanuel sebagai perwakilan keluarga. Niat Yuni yang hanya sebentar saja, kini ia harus bermalam di rumah Emanuel untuk beberapa malam.


Di pondok pesantren, Kamelia yang baru saja mendengar kabar kematian Paman Sam hanya bisa terdiam sambil menangis pilu di bangku taman ponpes tersebut.


Kiyai Sodikin yang kebetulan lewat pun menghampiri Kamelia yang tengah menangis tersedu-sedu.


"Ada apa nak?" tanya Kiyai Sodikin menatap Kamelia.


"A.. Ayah ku Kiyai.. Dia.. Dia baru saja meninggal dunia," jawab Kamelia menundukkan kepalanya sembari mengusap air matanya.


"Innalillah," ucap Kiyai Sodikin turut berduka cita.


"Ya sudah, kalau begitu pergilah. Temui Ayah mu untuk terakhir kalinya. Ingat nak, kamu tak akan ada di dunia ini jika tanpa dirinya. Pergilah sekarang juga, saya akan meminta Ustadz Gibran untuk menemani mu," ucap Kiyai Sodikin kepada Kamelia.


"Baiklah Kiyai. Saya akan bersiap-siap sekarang," jawab Kamelia pamit menuju asramanya.


Tiga puluh menit kemudian, Kamelia telah berada di rumah Kiyai Sodikin untuk menunggu kedatangan suaminya Ustadz Gibran. Sebelumnya ia telah memberi tahukan kepada Ibunya jika dirinya dan juga suami akan segera berangkat. Yuni sama sekali tidak melarang putrinya itu.


Diperjalanan menuju Jakarta, Kamelia terlihat murung dan juga tak bersemangat.


Sebagai suami, tentu Ustadz Gibran merasa tidak tega melihat sang istri yang bersedih seperti ini.


"Sabar ya sayang. Kuatkan hatimu dan ikhlaskan kepergian ayah mu. Ini sudah kehendak dari yang maha kuasa," ucap Ustadz Gibran menggenggam tangan istrinya itu.


"Terima kasih Aby. InsyaAllah aku iklhas," jawab Kamelia membalas genggaman tangan suaminya itu.


Beberapa jam kemudian, Kamelia pun akhirnya tiba di rumah duka. Kedatangannya langsung di sambut oleh Yuni dan juga keluarga lainnya.

__ADS_1


Mereka yang berada di Jakarta benar-benar penasaran dengan sosok wajah Kamelia yang merupakan putri mendiang Paman Sam tersebut.


"Assalamualaikum," ucap Kamelia dan juga Ustadz Gibran bersamaan.


"Walaikumsalam," ucap keluarga Paman Sam.


Semua anggota keluarga sedikit kaget saat melihat Kamelia dan juga Ustadz Gibran, pasalnya, mereka belum pernah bertemu dengan Kamelia dan juga Ustadz Gibran sebelumnya.


"Kamelia, Gibran, ayo masuk nak," ucap Yuni membuat semua orang tercengang.


Bagi keluarga Emanuel, Kamelia begitu cantik. Ia mirip sekali dengan Paman Sam.


"Kamu.. Kamu Kamelia?" tanya Emanuel yang berjalan menghampiri Kamelia dan Ustadz Gibran.


"I.. Iya. Saya Kamelia," jawab Kamelia gugup.


Seketika Emanuel langsung memeluk keponakannya itu. Ustadz Gibran sendiri hanya bisa diam menyaksikan istrinya di peluk di depan matanya.


"Kenalkan, saya ini Om mu. Saya kakak dari Samuel. Kamelia kamu tau, kamu adalah satu-satunya wanita dalam keluarga kami. Dan dia adalah Gara, kakak sepupumu, dia anak Om dan ini istrinya Airin," ucap Emanuel yang senang sekali saat bertemu dengan Kamelia. Sudah lama keluarga besar dari Emanuel dan juga Samuel tidak memiliki keturunan perempuan, hanya anak Gara lah satu-satunya perempuan di keluarga mereka, maka tak heran jika ia senang sekali saat bertemu dengan Kamelia.


"I.. Iya Om. Oh ya, kenalkan ini suami saya Gibran," ucap Kamelia yang tak lupa mengenalkan Ustadz Gibran kepada keluarga dari Ayahnya tersebut.


Setelah berkenalan, Kamelia pun meminta izin untuk melihat jasad ayahnya.


Seketika, tangisnya pecah saat melihat Paman Sam terbujur kaku dengan keadaan yang pucat dan kurus kering.


Ada sedikit penyesalan di hati Kamelia, kenapa ia tak ikut dengan Ibunya waktu menemui Paman Sam di rumah sakit. Namun semuanya telah lalu, Kamelia menatap dalam laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu. Ia tak mau lagi mengenang masa-masa tersebut, hanya saja, ingatan itu terus menari-nari di dalam pikirannya.


Seketika Kamelia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Untung saja, dengan sigap Ustadz Gibran langsung menyambut dan segera membawanya ke kamar sesuai apa yang di perintahkan oleh Gara.


Beberapa saat kemudian Kamelia akhirnya sadarkan diri, ia pun kembali ingat jika saat ini ia tengah berada di rumah keluarga Ayahnya di Jakarta.


"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Ustadz Gibran yang sedari tadi setia menunggu kesadarannya.


"Su.. Sudah Aby. Bagaimana Ayah? Apa ia masih di rumah ini?" tanya Kamelia teringat dengan Paman Sam.

__ADS_1


"Beliau sedang di kafani sayang. Kamu istirahat saja ya. Aby takut kamu akan jatuh pingsan lagi," jawab Ustadz Gibran mengusap kepala istrinya yang di tutupi hijab tersebut.


__ADS_2