Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 136


__ADS_3

"Begini dokter, akhir-akhir ini kepala saya sering pusing, dan tadi pagi pada saat saya sarapan, tiba-tiba hidung saya mengeluarkan darah yang cukup banyak," jawab Airi menjelaskan keluhan yang ia rasakan kepada dokter tersebut.


***


"Baiklah, kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan dulu. Dan untuk hasilnya bisa di ambil besok sore ya Bu. Sekarang mari Ibu ikut saya," jawab dokter tersebut membawa Airin ke ruangan pemeriksaan.


Setelah hampir lima belas menit melakukan pemeriksaan, Airin pun akhirnya bisa kembali pulang ke rumah mereka. Seperti yang di katakan dokter tersebut, ia harus kembali lagi besok untuk mengetahui hasil dari pemeriksaanya hari ini.


"Sayang, habis ini kamu istirahat saja. Kamu gak usah lagi membantu si Mbok bekerja di dapur," ucap Gara yang masih merasa cemas dengan kesehatan sang istri.


"Baiklah mas. Kamu jangan terlalu memikirkan aku. Aku sama sekali tidak kenapa-kenapa kok," ucap Airin berusaha menutupi kegelisahannya.


Lain halnya dengan Airin, Kamelia yang berada di kota B saat ini tengah berbicara dengan Ustadz Gibran dan Kiyai Sodikin di ruangan Kiyai tersebut.


Mereka membahas kehamilan dan langkah apa yang harus di ambil untuk ke depannya.


"Bagaimana Kamelia? Apa kamu setuju untuk tinggal di rumah Abah?" tanya Ustadz Gibran kepada sang istri yang masih menggunakan pakaian seragam sekolah.


"Aku terserah Aby saja. Bagaimana baiknya saja Aby, Abah," jawab Kamelia menurut kepada suami dan Kiyai Sodikin.


"Baiklah, kalau begitu, nanti Abah akan mengatakannya kepada penjaga asrama mu. Bukannya untuk bermaksud berbohong, tapi nanti jika ada yang menanyakannya padamu, bilang saja jika kamu dan Ustadz Gibran adalah sepupuan. Kamu Abah minta tinggal agar Gibran lebih leluasa menjagamu dan juga kehamilan mu," jelas Kiyai Sodikin di balas dengan anggukan oleh Kamelia dan juga Ustadz Gibran.


"Baik Bah. Terima kasih telah perhatian kepada saya," jawab Ustadz Gibran.


Setelah menemui Kiyai Sodikin, Ustadz Gibran langsung memanggil penjaga asrama Kamelia untuk berhadapan dengan Kiyai Sodikin, sedangkan Kamelia kembali ke asramanya.


"Kamelia kamu bicara apa sama Kiyai Sodikin dan juga Ustadz Gibran?" tanya Siti, teman satu asrama Kamelia.


"Itu, aku di suruh sama Kiyai untuk tinggal di rumahnya. Ibu bilang, ia akan lebih tenang jika aku selalu di dalam pengawasan Kiyai dan juga Ustadz Gibran," jawab Kamelia berbohong.


"Benarkah? Lalu apa kamu bersedia?" tanya Siti kepo.

__ADS_1


"Ya, aku mau-mau saja," jawab Kamelia tersenyum.


"Ih, beruntung sekali kamu Kamelia. Pasti bisa bertemu dengan Ustadz tampan setiap harinya," ucap Siti merasa sedikit iri.


"Haha.. Siti.. Siti.. Biasa aja kali, memang Abang ku itu setampan itu ya?" tanya Kamelia iseng.


"Haha.. Ya tampan lah. Selain tampan, dia juga soleh dan pintar. Benar-benar paket lengkap," jawab Siti membayangkan wajah Ustadz Gibran.


Disaat mereka tengah berbincang sembari mengulangi pelajaran, penjaga asrama pun datang dan menghampiri Kamelia.


Beliau baru saja kembali dari ruangan Kiyai Sodikin.


"Kamelia, mulai malam ini, kamu akan tinggal di rumah Kiyai Sodikin. Ibu sudah memberi tahukannya kepada Ibumu, dan ini surat pindahnya, tolong kamu tanda tangani ya," ucap penjaga asrama tersebut sembari memberikan selembar kertas untuk di tandai oleh Kamelia.


"Baik Bu, terima kasih. Kalau begitu saya akan segera berkemas-kemas sekarang," jawab Kamelia merasa senang. Pasalnya mulai malam ini, ia akan selalu bertemu dengan Ustadz Gibran. Tak bisa di pungkiri, saat ini Kamelia sudah mulai melupakan sosok Paman Sam di hatinya. Ia sudah kembali menjadi Kamelia seperti sedia kala.


Tak bisa di pungkiri juga, Kamelia mulai mencintai suaminya itu, apalagi saat ini Kamelia tengah hamil anak dari Ustadz Gibran..


Sementara itu, Rahma yang kebetulan lewat di depan kamar Kamelia tak sengaja mendengar ucapan para santriwati mengenai kepindahan Kamelia ke rumah Kiyai Sodikin. Seketika sifat iri nya itu muncul. Ia tak terima jika Kamelia semakin hari semakin dekat dengan Ustadz Gibran.


'Beruntung sekali kamu Kamelia, meskipun kamu sepupunya Ustadz Gibran, tapi aku tidak rela jika kamu dekat-dekat dengan jodohku itu. Aku akan mencari cara supaya kamu tidak betah di pondok ini,' batin Rahma menatap tajam kepada Kamelia yang sedang mengemas seluruh pakaiannya.


"Assalamualikum," sapa Ustadz Gibran mengejutkan Rahma.


"Wa.. Walaikum salam Ustadz," jawab Rahma kaget lalu menundukkan kepalanya.


"Kamu kenapa tidak masuk ke dalam Rahma?" tanya Ustadz Gibran menautkan kedua alisnya.


"Ma.. Maaf Ustadz, tapi ini bukan kamar saya," jawab Rahma gugup.


"Lalu, kenapa kamu terus melihat ke dalam? Apa kamu sedang mencari atau menunggu teman mu?" tanya Ustadz Gibran heran.

__ADS_1


"Ti.. Tidak Ustadz, saya hanya kebetulan lewat dan melihat Kamelia sedang mengemas-ngemas pakaiannya. Apa Kamelia tidak sekolah di sini lagi?" tanya Rahma pura-pura bodoh.


"Tidak. Kamelia akan pindah ke rumah Kiyai Sodikin mulai malam ini atas permintaan orang tuanya dan juga Kiyai Sodikin," jawab Ustadz Gibran lalu tak lama setelah itu, Kamelia keluar dengan menenteng dua koper berisi perlengkapannya.


"Hmmmn, Abang ayo," ucap Kamelia melirik ke wajah Rahma sekilas.


"Baiklah, ayo, sini koper-kopermu, biar Abang yang membawakannya," jawab Ustadz Gibran sembari menyambar koper-koper Kamelia dan mendorongnya berjalan menuju rumah Kiyai. Rahma, saya permisi dulu," ucap Kamelia senang usai melihat wajah kecemburuan di wajah Rahma.


"Sialan kamu Kamelia. Kamu lihat saja nanti, Ustadz Gibran pasti akan menjadi milikku," gumam Rahma mengepalkan tangannya.


"Kalian beristirahatlah. Abah tinggal ke kamar dulu," ucap Kiyai Sodikin keluar dari kamar bujang Ustadz Gibran.


"Baik Abah. Terima kasih telah mengizinkan kami tinggal disini," jawab Kamelia masih merasa sungkan.


"Sama-sama nak. Jaga cucu Abah yang ada di kandungan mu itu baik-baik," balas Kiyai Sodikin lalu menutup pintu kamar suami istri tersebut.


"Hmmmm Aby? Apa ini kamar Aby sebelum menikah dulu?" tanya Kamelia memperhatikan seluruh sudut ruangan tersebut.


"Iya, dan sekarang, kamar ini memiliki penghuni baru. Dia adalah Istri Aby tercinta. Wanita yang paling cantik dan juga soleha" jawab Ustadz Gibran memuji istrinya tersebut.


"Aby jangan puji-puji begitu. Aku malu tau," jawab Kamelia dengan wajah yang telah merah merona.


"Haha. Aby suka jika kamu malu-malu seperti ini. Sekarang, kita istirahat yuk. Nanti baju-bajunya biar Aby yang menyusunnya di lemari," ucap Ustadz Gibran mengajak istrinya itu untuk beristirahat.


"Baiklah Aby. Aku ganti baju dulu," ucap Kamelia membuka salah satu kopernya.


"Kamelia, sudah, kamu duduk saja. Biar Aby yang menyiapkan pakaian tidur mu. Kamu duduk saja di atas ranjang kita," ucap Ustadz Gibran lalu berjalan menuju koper Kamelia dan mencarikan baju tidur untuk istrinya.


Setelah mendapatkannya, Ustadz Gibran membuka hijab istrinya. Selanjutnya, ia membuka pakaian sang istri dan menggantikannya.


Kamelia sendiri sudah melarangnya, namun Ustadz Gibran tetap kekeh untuk menggantikan pakaian istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2