Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 119


__ADS_3

"Kenapa sewot sekali? Bukankah aku sering menelpon mu malam-malam begini, dan kamu tidak pernah marah sebelumnya," ucap Gara merasa heran.


"Itukan sebelumnya. Kamu tau, sekarang aku sudah punya istri dan aku sedang menunaikan kewajiban ku sebagai seorang suami," jawab Leon keceplosan.


"Apa?? Ppfftthhhhhh," jawab Gara menahan tawanya.


***


"Maaf Leon, aku tidak tau. Sekali lagi maaf," ucap Gara tak bisa menahan tawanya.


"Ya sudah, tidur sana," ucap Leon lalu mematikan ponselnya.


Leon tak tau saja jika Gara sengaja menghubungi Leon tengah malam seperti ini. Ia tau jika malam ini Leon akan melakukan malam pertama bersama Selin. Gara hanya ingin membalaskan dendamnya yang dulu sempat di ganggu oleh Leon saat ia dan Airin juga sedang melakukan aktifitas ranjangnya.


"Ada apa kak?" tanya Selin melihat wajah Leon yang kesal.


"Tidak ada apa-apa. Ayo kita lanjutkan lagi," ucap Leon yang sudah kembali berwajah manis di depan Selin.


Leon kembali menciumi Selin. Ia mencicipi seluruh tubuh istrinya itu. Meskipun tanpa cinta, tapi Leon berusaha memberikan yang terbaik untuk Selin. Kini tiba saatnya Leon akan memasukkan P nya. Meski berkali-kali gagal, namun Leon tak menyerah. Perlahan tapi pasti, Leon pun berhasil menembus benteng pertahanan Selin yang sangat sempit dan hangat tersebut.


"Aaaauuuu sakit," lirih Selin meremas kuat sprei untuk menahan rasa sakitnya.


Darah pun mengalir dari V milik Selin, pertanda hilangnya perawan yang selama ini Selin jaga.


"Maaf ya Selin. Aku terlalu kasar ya?" tanya Leon merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kak. Aku baik-baik saja," jawab Selin mengusap air matanya.


Ia tak mau membuat Leon kecewa di malam pertama mereka.


"Terima kasih Selin. Aku tak akan menyia-nyiakanmu," bisik Leon saat ia tau jika V milik Selin mengeluarkan darah.


Selin tak menjawab. Ia hanya diam hingga Leon memutuskan untuk kembali melanjutkan permainannya.


Baru pertama kali Selin merasakan di sentuh laki-laki hingga sejauh ini. Ia benar-benar menikmatinya.


Satu jam lebih bergulat, Leon akhirnya melakukan pelepasan di dalam rahim sang istri.

__ADS_1


"Semoga saja, punyaku dan punyamu ini bersatu dan menjadi adik untuk Clara," ucap Leon mengusap-usap perut rata Selin.


"Amin," jawab Selin yang juga mengharapkan ia segera hamil anak Leon.


Keesokan paginya, seperti biasa, Gara sudah duduk manis di ruangannya, sedangkan Leon belum juga datang untuk bekerja.


"Kemana dia? Kenapa jam segini belum juga datang sih? Gak tau apa hari ini kita ada meeting," ucap Gara pada dirinya sendiri.


Sedangkan di apartemen, Leon dan Selin masih saja tertidur dengan lelapnya. Mereka ternyata tidak tidur sepanjang malam karena Leon terus meminta jatah lagi, dan lagi.


Mereka berdua akhirnya terbangun karena Clara yang tiba-tiba saja menarik-narik selimut yang di gunakan Selin dan juga Leon menutupi tubuh polosnya.


"Astaga sayang, kamu sudah bangun ya? Jam berapa sih ini?" ucap Selin yang baru saja di bangunkan oleh anaknya Clara.


Selin pun melihat jam yang ada pada layar ponselnya. Ia pun kaget dan langsung membangunkan Leon dengan tergesa-gesa.


"Kak bangun kak. Sudah siang. Kakak gak kerja?" tanya Selin mengguncang-guncang tubuh suaminya itu.


"Hmmmm apa sayang? Aku capek banget, jadi maaf ya, kamu gak bisa nambah lagi," gumam Leon dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Apaan sih? Kok aku? Bukannya kakak yang minta lagi dan lagi? Ayo bangun," ucap Selin kesal.


"Kak, ini udah jam delapan lo. Nanti kak Gara bisa marah jika kakak datangnya telat banget," ucap Selin membuat Leon seketika terbangun.


"Apa? Jam delapan? Kamu kenapa gak bilang dari tadi sih? Kakak ada jadwal meeting pagi ini tau gak," ucap Leon bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Ih kak, pake baju dulu kenapa sih? Kan malu diliatin sama anaknya sendiri," teriak Selin menutup mata Clara.


Lima belas menit kemudian, Gara sudah selesai dengan aktifitas mandinya.


Saat ini, Selin tengah memasangkan dasi untuk Leon, sedangkan Leon, hanya menatap istrinya itu dengan tatapan penuh arti.


"Kenapa kak?" tanya Selin yang sadar jika sedari tadi Leon menatapnya.


"Gak kenapa-kenapa. Selin, aku sepertinya mau lagi deh," ucap Leon mengedipkan matanya.


"Apaan sih kak. Jangan macam-macam," ucap Selin malu.

__ADS_1


"Macam-macam apanya? Hanya satu macam kok," jawab Leon memeluk pinggul istrinya.


"Ih kak, lepasin. Malu tau dilihat sama Clara," ucap Selin merasa risih dengan kelakuan suaminya itu.


"Mana ada Clara Selin Dia baru saja keluar," ucap Leon akan mencium istrinya.


Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Selin segera melepaskan pelukan Leon dan merapikan selimut serta kasur yang berantakan akibat ulah mereka semalam.


"Ada apa lagi sih Gara?" jawab Leon di dalam teleponnya.


"Ada apa, ada apa. Kamu dimana? Ini udah jam setengah sembilan loh Leon, dan sebentar lagi kita akan ada meeting," ucap Gara menye-menye.


"Iya maaf aku ketiduran. Ini aku akan segera berangkat ke kantor," jawab Leon mematikan ponselnya.


"Sialan, punya anak buah tapi sifatnya seperti bos. Masak jam segini baru bangun? Mentang-mentang malam pertama," umpat Gara lalu meminum kopinya yang sudah tersedia di atas meja.


"Selin aku berangkat ke kantor duluan ya," panik Leon pada istri nya dan juga anaknya.


"Ya sudah, hati-hati dijalan ya kak," jawab Selin menciumi punggung tangan Leon, suaminya.


"Baik, sampai jumpa nanti. Nanti dandan lah yang cantik dan seksi. Aku akan menemui mu dan memberikan hak mu lagi sebagai istri," ucap Leon lalu pergi meninggalkan apartemennya tersebut.


Satu jam lebih, akhirnya Leon tiba di kantor Gara. ia langsung masuk menuju ruangannya...


"Hai pengantin baru, enak ya tidur-tiduran sambil pelukan hingga kamu lupa waktu," ledek Gara pada sahabatnya itu.


"Enak dong. Kamu mau coba?" jawab Leon mengejek.


"Ya mau lah, sama istriku Airin tapi," jawab gara tak mau kalah.


"Palingan kamu cuma tahan dua menit saja, secara, umurmu sudah tua," ucap Leon balas meledek Gara


"Apa kamu bilang? Dua menit?' balas Gara kesal.


"Ya, paling lama lima menitan lah. Hahaha," balas Leon mengejek balik.


"Enak saja kamu ya. Aku ini masih kuat tau. Kalau kamu gak percaya, tanyakan saja Airin. Dan aku yakin, palingan kamu mainnya cuma lima belas menit langsung tepar. Karena apa? Karena punya kamu itu sudah lama pensiunnya. Hahaha," balas Gara tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Lima belas menit? Kamu gak liat apa aku datang saja telat. Itu artinya aku bermain lama dan banyak ronde. Aku ini laki-laki sejati. Gak kayak kamu..." ucap Leon terputus kemudian menutup mulutnya menggunakan tangan.


__ADS_2