Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 86


__ADS_3

"Apa? Nanti malam? Kamu lupa, aku baru saja melahirkan," jawab Airin memegang perutnya yang sudah kempes.


"Memang kenapa? Bagus dong jika sudah lahiran, itu artinya kita bebas dengan berbagai gaya," ucap Gara kembali oon.


***


"Ya ampun mas. Wanita yang baru saja melahirkan itu ada masa nifasnya selama empat puluh hari, bahkan bisa lebih. Selama itu pula, kamu tidak boleh menyentuhku," jelas Airin kepada suaminya itu.


"Apa? Jadi aku harus puasa selama empat puluh hari lebih gitu?" tanya Gara tak percaya.


"Ya seperti itulah," jawab Airin santai.


"Tidak.. Tidak..bIni tidak mungkin. Ayolah sayang, aku sudah libur selama hampir satu Minggu. Masa harus libur lagi selama itu?" protes Gara frustasi.


"Ya, mana ku tau. Memang itu aturannya," jawab Airin santai.


"Tapi kenapa? Bukankah tidak masalah jika kita melakukannya?" tanya Gara masih belum faham.


"Loh, bagaimana tidak masalah. Selama empat puluh hari ke depan, aku akan mengeluarkan darah kotor yang selama ini terhenti. Lalu bagaimana kamu akan melakukannya?" jawab Airin kembali bertanya.


"Da.. Darah? Maksud kamu darah haid?" tanya Gara menaikkan alisnya.


"Ya seperti itulah. Bahkan lebih banyak dan lebih lama dari haid yang hanya satu Minggu," jawab Airin.


"Hhhhhhh, baiklah. Aku akan menunggu. Kalau begitu, aku akan menikmati hari-hariku dengan bermain bersama si kembar," jawab Gara mengalah lalu pergi meninggalkan Airin sendiri di kamarnya.


Airin hanya bisa tersenyum geli menatap kepergian suaminya itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika akan mendapatkan suami seperti Gara. Suami yang membeli keperawanannya waktu itu.


.


.


"Selamat siang pak? Maaf saya terlambat. Saya benar-bemar harus mengantar istri saya pulang dari rumah sakit dahulu," ucap Gara tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak. Kalau begitu, mari kita langsung saja menemui pelakunya untuk menanyakan secara langsung agar bapak yakin," ucap polisi tersebut sembari berjalan menuju ruang tahanan.


Setibanya di depan sel pelaku begal tersebut, polisi langsung memerintahkan tahanan tersebut untuk menceritakan siapa saja dalang di balik semua kejadian ini. Awalnya dia ragu, namun Gara mengatakan jika dia akan menjamin hidup keluarganya yang ada di rumah. Disitulah tahanan tersebut bersedia menceritakan apa yang semua ia ketahui.


"Jadi maksud anda, Liona adalah dalang dari begal yang menimpa mertua saya ini?" tanya Gara kaget.


"I.. Iya pak. Beliaulah otak dari semua rencana ini. Tak hanya itu, Ibu Liona juga memiliki mata-mata yang bertugas sebagai pengawal di rumah bapak. Ia bertugas untuk menyampaikan semua informasi dan juga memberi celaka semua anggota keluarga yang ada di rumah bapak setiap kali ada kesempatan," jawab tahanan tersebut benar-venar membuat Gara naik darah.


"Pengawal? Berarti yang di katakan Ibu Zaki kepada Airin itu benar adanya. Lalu, apa dia juga dalang di balik kecelakaan yang menimpa saya dan juga Leon?" tanya Gara kembali.


"Benar pak. Tapi saya mohon, jangan katakan jika saya yang memberi tahukan semuanya. Ibu Liona itu sangat berbahaya, saya takut jika dia akan berbuat macam-macam kepada keluarga saya," jawab tahanan itu lalu memohon kepada Gara.


"Baiklah, saya tidak akan mengatakannya. Hmmm. Pak, kalau seperti ini, bisakah bapak segera menangkap pengawal yang ada di rumah saya, sekalian menangkap dan memenjarakan Liona?" tanya Gara kepada polisi tersebut.


"Kami bisa saja melakukan penangkapan kepada pengawal di rumah bapak, namun kami belum bisa melakukan penangkapan terhadap saudari Liona," jawab polisi tersebut.


"Kenapa pak?" tanya Gara heran.


"Kalau begitu, lakukan saja secepatnya pak. Kalau bisa hari ini juga," ucap Gara tidak sabar untuk menangkap Liona.


"Kalau hari ini belum bisa pak. Kita harus memiliki bukti dulu untuk melakukan penangkapan," balas polisi tersebut.


"Bukti apa lagi pak? Bukankah pengakuan dari tahanan ini sudah cukup?" tanya Gara tidak sabar.


"Bukti berupa ucapan saja tidaklah cukup pak. Kita harus memiliki bukti yang jelas bisa di tunjukkan. Misalnya, rekaman atau foto kejahatannya," jelas polisi itu lagi.


"Baiklah, kalau begitu saya akan berusaha menemukan buktinya secepat mungkin," ucap Gara benar-benar sudah emosi.


"Baiklah kalau begitu pak. Kami juga akan berusaha menemukan bukti untuk mempermudah penangkapan beliau," jawab polisi tersebut.


"Baik terima kasih pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Gara yang sudah mengantongi siapa dalang dari semua kejadian buruk yang menimpa keluarganya.


Satu jam kemudian, Gara pun akhirnya tiba di rumah. Sebelum masuk ke kamarnya, Gara memutuskan untuk menemui bayi kembarnya dulu. Saat Gara akan memasuki kamar si kembar di lantai satu, ia melihat pengawal yang menjadi mata-mata Liona baru saja keluar dari dapur rumahnya.

__ADS_1


Pengawal itu tampak gugup saat berpapasan dengan Gara, tapi Gara sendiri mencoba terlihat setenang dan sesantai mungkin. Ia tidak mau, pengawal tersebut menaruh curiga padanya.


"Pak Budi, kenapa kaget?" tanya Gara berusaha meredam amarahnya.


"Ah.. Anu pak, saya.. Saya hanya kaget karena bapak tiba-tiba berada di hadapan saya. Saya orangnya memang suka kagetan pak. Maafkan saya," jawab pengawal yang bernama Budi tersebut.


"Oh, saya kira ada apa. Tidak masalah. Saya yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuat bapak kaget," jawab Gara setenang mungkin.


"Tidak apa-apa pak. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap pak Budi meninggalkan Gara yang masih berdiri depan pintu anaknya itu.


Setelah memastikan pengawal itu pergi, Gara kemudian mengurungkan niatnya ke kamar si kembar. Ia kemudian berjalan ke dapur dan memeriksa semua benda yang ada di sana.


Saat Gara mendekati kompor gas, ia mendapati bunyi gas yang mendesis. Gara kemudian mendekatkan telinganya ke gas tersebut untuk memastikan pendengarannya.


"Ini benar-benar bocor. dan ini.. Ini sepertinya bau gas deh," gumam Gara yang masih belum sadar jika tabung gas itu benar-benar bocor.


Gara pun berdiri dan hendak menghidupkan kompornya untuk mengetahui jika gas tersebut benar-benar bocor.


Namun saat Gara hendak menyentuh pemutarnya, untung saja asisten rumah tangga itu langsung menghentikannya.


"Tuan jangan, gasnya bocor," pekik ART tersebut berlari ke arah Gara dan bergegas mencabut selang regulatornya dan membuka semua jendela yang ada di dapur rumah tersebut.


Tak hanya itu, ART tersebut juga menutup tabung dengan kain basah untuk menghindari bahaya.


"Apa? Gasnya bocor? Tau dari mana mbok?" tanya Gara kepada ART nya itu.


"Tuan tidak mencium bau gas bocor? Ini baunya sudah menyengat sekali lo tuan," jawab ART tersebut menutup hidung.


"Iya, saya dari tadi sudah mencium bau ini, dan saya tadi juga sudah mendengar tabung ini mendesis," jawab Gara menunjuk tabung gas yang ditutupi kain basah tersebut.


"Lalu, kenapa tuan menghidupkan kompornya jika sudah tau gasnya bocor?" tanya ART tersebut heran.


"Ya, saya hanya memastikan jika tabung gasnya benar-benar bocor," jawab Gara membuat ART itu geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2