
Saat Gara keluar dari kamar Airin, para pengawal dan pekerja rumah itu langsung berusaha menahan tawanya saat mengetahui jika yang sedang ngondek itu adalah majikannya yang terkenal galak dan angkuh.
Gara yang sadar di perhatikan hanya melirik tajam para pekerjanya sambil berjalan ke dapur untuk mencari Airin yang sedang membuatkan susu untuk Clara.
***
Sontak saja para pengawal itu langsung ciut saat melihat tatapan tajam Gara meskipun laki-laki tampan itu berpenampilan seperti banci.
Sesaat kemudian, Gara pun datang menghampiri Airin yang membuat susu untuk Clara. Saat Airin menoleh ke belakang, ia sangat kaget dan terperanjat melihat penampilan Gara.
"Aaaaa... Astaga.. Amit-amit jabang bayi.. Amit.. Amitt," ucap Airin spontan sambil mengelus perutnya yang besar.
Asisten rumah tangga yang juga berada di dapur tampak bersusah payah menahan tawanya.
Mereka memilih izin untuk keluar dari dapur agar bisa melepaskan tawanya dengan bebas.
Sedangkan Gara hanya diam memeperhatiakan Airin mengelus-elus perutnya yang buncit.
"Kenapa? Bukannya kamu yang menginginkan aku seperti ini," tanya Gara mengangkat satu alisnya.
"Iya.. Tapi gak seperti ini juga Tuan. Dan satu lagi, ini baju aku kan?" jawab Airin balik bertanya.
"Ya.. Ya baju kamu. Lalu baju siapa lagi. Mana ada wanita selain kamu di rumah ini," jawab Gara santai.
Airin memperhatikan Gara dari atas sampai bawah, lalu dari bawah sampai atas lagi, namun perhatiannya berhenti tepat di dada bidang Gara yang terlihat membusung seperti dada wanita pada umumnya.
"Ini.. Ini.. Jangan bilang kalau kaku juga memakai punyaku," tanya Airin memegang lalu menekan-nekan dada Gara yang membesar karena memakai bra milik Airin.
"Au.. Jangan di tekan," ucap Gara pura-pura sakit.
"Kenapa? Bukannya ini kosong?" jawab Airin kembali bertanya.
"I... Iya sih.. Hehe," jawab Gara cengengesan.
"Kau lucu sekali Tuan. Tapi aku tidak mau anakku nanti ketularan seperti ini. Lebih baik kau menggantinya sekarang,"
"Apa? Menggantinya sekarang? Kau yakin?" tanya Gara tak habis pikir dengan jalan pikiran Airin.
"Iya," jawab Airin singkat.
"Lalu, apa kau memaafkan aku?" tanya Gara menaikkan satu alisnya.
"Maafkan? Maafkan buat apa?" tanya Airin balik bertanya.
__ADS_1
"Ah.. Gak jadi," jawab Gara tak mau mengingatkan Airin lagi.
Airin pun berlalu meninggalkan Gara berniat untuk memberikan susu kepada Clara.
"Airin?" panggil Gara memegang tangan Airin.
"Ya," jawab Airin lembut sambil tersenyum.
'Leon memang benar. Wanita hamil itu memang tidak bisa di tebak. Kadang galak, kadang judes, kadang manis seperti ini,' batin Gara menatap Airin.
"Sebentar lagi aku akan pergi ke kampung halamanmu bersama Leon. Kalau kamu tidak keberatan, tolong jaga Clara ya. Nanti akan ada seseorang yang akan menemanimu," ucap Gara membuat Airin menyurutkan langkahnya menghadap Gara.
"Asisten pribadi lagi kah?" tanya Airin mulai tidak suka.
"Tidak.. Tidak.. Kali ini aku yakin kamu pasti suka sekali dengan orang itu," jawab Gara mengusap kepala Airin.
"Yakin?" tanya Airin tak percaya.
"Yakin dong," jawab Gara menaikkan dua jarinya.
"Tapiii, apa orang tuaku mau ya untuk menghadiri pernikahan kita," ucap Airin menundukkan kepala sedih.
"Airin sayang. Kamu percaya ya sama aku. Aku jamin, kedua orang tuamu pasti akan hadir di acara pernikahan kita," jawab Gara mengelus-elus kepala Airin.
"Iya, aku janji," jawab Gara yang juga mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Airin.
Gara pun akhirnya pergi dengan Leon menuju kampung halaman Airin tepat sesudah magrib. Sedangkan Clara kini di asuh oleh Airin.
Saat Airin sedang bermain dengan Clara, tiba-tiba ada suara yang sudah beberapa hari ini tidak ia dengar.
Mendengar suara yang cukup dirindukannya itu kembali terdengar di telinganya, Airin dengan cepat berdiri dan melihat ke arah sumber suara tersebut.
"Ibu?" ucap Airin terlihat sangat bahagia karena kedatangan Lena, Ibu angkatnya yang selalu ada.
"Airin sayang," jawab Lena yang tak kalah bahagianya.
Merekapun akhirnya berpelukan beberapa saat dan tak lupa juga bercipika-cipiki satu sama lainnya.
"Ibu kangen sekali sama kamu Airin," ucap Lena saat melepas pelukannya.
"Sama Bu, Airin juga kangen sekali sama Ibu. Oh ya Bu, apa tuan Gara yang mengantarkan Ibu kesini? Dia bilang Ibu tinggal tak jauh dari sini," jawab Airin kembali melontarkan pertanyaannya.
"Maaf ya Airin, sebenarnya Ibu sudah berbohong kepadamu," jawab Ibu Lena tanpa menjawab pertanyaan Airin tadi.
__ADS_1
"Maksud Ibu?" tanya Airin penasaran.
"Mari kita duduk dulu nak, biar Ibu ceritakan semuanya," ajak Lena menyuruh calon menantunya yang sedang menggendong Clara itu duduk.
"Airin, sebenarnya Ibu ini adalah Mama kandungnya Gara," ucap Lena membuat Airin shock lalu menutup mulutnya.
"Mak.. Maksud Ibu?" tanya Airin tak percaya.
"Ya maksud Ibu ya itu nak, Ibu ini adalah orang tua kandung Gara. Dulu Gara bercerita jika dia menghamili seorang perempuan, Ibu sangat marah dan kecewa sekali kepadanya. Ibu kemudian menyuruh Gara untuk bertanggung jawab, namun dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dia takut jika kamu kembali kabur dari dirinya jika dia kembali bertemu denganmu. Jadi Ibu berinisiatif untuk mendekatimu dengan cara ibu sendiri.
"Ja.. Jadi Ibu ini Mamanya Tuan Gara?" ucap Airin tak percaya.
"Iya sayang. Maafkan Ibu ya nak. Ibu bukan bermaksud untuk membohongimu, tapi ibu juga takut jika kamu pergi lagi dari Gara sayang. Kalau masalah sayang Ibu ke kamu, itu memang tulus apa adanya nak. Sekali lagi maafkan Ibu," jawab wanita paruh baya itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ibu, sudah. Kenapa Ibu menangis hmmm? Airin sama sekali gak marah sama Ibu. Airin tau Ibu itu baik orangnya. Dan Airin tau Tuan Gara juga baik, hanya saja Airin sedikit kecewa Bu, kenapa Airin harus masuk ke kehidupan Ibu dan Tuan Gara dengan cara seperti ini. Airin tau Ibu pasti malu kan?" jawab Airin kembali bertanya.
"Sudah sayang, ini memang sudah jalannya. Mungkin Tuhan memang sudah memberi kalian jalan kehidupan seperti ini. Yang terpenting sekarang, kamu dan Gara baik-baik saja. Begitu juga dengan si kembar," jawab Lena mengusap perut buncit calon menantunya itu.
"Iya Bu makasih," jawab Airin tersenyum bahagia.
"Oh ya Airin, kamu gak usah memanggil Gara dengan sebutan Tuan lagi. Dia itu calon suamimu nak, bukan atasanmu," pinta Lena kepada Airin sambil mengusap pipi gembul Clara.
"Baik Bu," jawab Airin singkat.
"Ini anaknya Leon namanya siapa sayang, kok gembul banget sih," tanya Lena memain-mainkan pipi Clara.
"Clara Oma, nama aku Clara," jawab Airin dengan menirukan suara khas anak-anak yang lucu.
Seketika tawa Lena pecah saat mendengar Airin memperkenalkan Clara kepada Lena.
Sedangkan Gara dan Leon yang saat ini lagi di perjalanan tengah menyusuri jalan hutan belantara yang gelap dan jarang di lalui mobil.
Jalan itu sengaja mereka ambil sebagai jalan pintas menuju kampung halaman Airin yang cukup terpencil.
Saat Gara melewati tikungan patah dan menurun, tiba-tiba saja ban mobilnya pecah dan remnya tak berfungsi sama sekali.
Gara dan Leon benar-benar panik, mereka tak menyangka ini akan terjadi kepadanya.
***Apa yang akan terjadi kepada Gara dan juga Leon selanjutnya??? Apakah mereka akan selamat pulang dan pergi??
Lalu bagaimana dengan pernikahan mereka?? Jangan lupa simak terus kelanjutannya yaaaa..
Dan maaf kalo kemaren Author gak Up karena si kecil lagi demam dan rewel banget...
__ADS_1
Salam sayang Author Nyonya Doremi😘***