Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 126


__ADS_3

"Lalu, bagaimana dengan sekolahku? Apa yang akan teman-temen katakan jika mereka tau aku hamil nantinya," tanya Kamelia lagi.


"Jangan dipikirkan. Nanti pasti ada jalan. Sekarang ayo kita bebersih dulu, sehabis itu istirahat. Besok, istri Aby yang cantik luar dalam ini akan kembali menjadi anak sekolah," ucap Ustadz Gibran membuat pipi Kamelia merah merona.


Kamelia dan Ustadz Gibran akhirnya membersihkan tubuh mereka di kamar mandi bersama-sama.


Sebenarnya, Ustadz Gibran ingin melakukannya sekali lagi, namun ia tidak tega pada istrinya yang akan berangkat ke pondok pada pagi harinya.


"Aby, berarti kita nyampe di pondoknya siangan dikit dong. Mau gak mau, aku terpaksa izin tidak masuk kelas. Jika kita tetap tinggal di rumah Ibu, pasti akan sangat melelahkan sekali harus berangkat subuh-subuh agar tidak telat masuk kelas," ucap Kamelia karena jarak dari rumah Ibunya ke pondok memakan waktu lebih dari dua jam.


"Kamu benar, kalau begitu, Aby akan konsultasikan ini pada Abah nantinya. Biar beliau yang membantu mencarikan solusi untuk kita," jawab Ustadz Gibran mengusap kepala istrinya, dan tak lama kemudian, mereka tertidur lelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


Waktu subuh telah berkumandang di musholla yang berada di dekat rumah Yuni. Karena sudah terbiasa, Ustadz Gibran pun langsung terbangun dan seketika itu juga ia membangunkan istrinya Kamelia untuk melaksanakan solat subuh berjamaah.


"Kamelia," panggil Ustadz Gibran menatap istrinya yang masih menggunakan mukena tersebut.


"Ya Aby," jawab Kamelia lembut.


"Kita ulangi lagi yuk. Sebentar saja. Dari semalam Aby benar-benar ingin melakukannya lagi," ucap Ustadz Gibran membelai pipi istrinya itu.


"Tapi kan semalam udah Aby. Hampir dua jam lo kita melakukannya. Emang Aby gak capek apa?" jawab Kamelia kembali bertanya.


"Enggak sama sekali. Itu kan pahala. Lagi pula, kita ini masih pengantin baru, Aby juga baru pertama kali melakukannya, dan aroma tubuhmu itu selalu membuat Aby mau lagi.. Dan lagi.. Boleh ya sayang," jawab Ustadz Gibran merengek seperti anak kecil.


"Ih, Aby ini Ustadz kok kelakuannya kayak gitu sih," ucap Kamelia merasa geli dengan sifat suaminya itu.


"Ustadz kan juga manusia biasa sayang. Punya rasa dan punya nafsu. Boleh ya Kamelia, istri Aby yang paling Aby cinta dan paling Aby sayang," ucap Ustadz Gibran terus membujuk Kamelia


"Dasar Ustadz omes," balas Kamelia sembari membuka mukenanya.


"Omes apa sayang? Artis ya?" tanya Ustadz Gibran penasaran.

__ADS_1


"Bukan Omes itu. Omes ini beda lagi," jawab Kamelia mengulum senyumannya.


"Emang omes yang di kamu apa?" tanya Ustadz Gibran semakin penasaran.


"Otak mesum," jawab Kamelia berdiri menuju ranjangnya.


"Ih, kok suami sendiri dikatain omes sih. Tapi Aby suka juga mendengarnya. Rasanya geli-geli gimana gitu," balas Ustadz Gibran menyusul Kamelia ke ranjang mereka.


"Ihh Aby gak waras. Masak suka di katain omes," ucap Kamelia tertawa.


'Teruslah tertawa Kamelia. Lupakan masa lalu mu dan gantikan dia dengan posisi Aby. Aby akan menunggu waktu itu datang dengan sendirinya,' batin Ustadz Gibran menatap istrinya itu.


Karena merasa kasihan, Kamelia pun akhirnya menuruti permintaan suaminya itu.


Selesai solat, mereka kembali melakukan hubungan suami istri, karena Ustadz Gibran yang merengek meminta jatah pada istrinya itu.


Hampir satu jam mereka bermain, Kamelia dan Ustadz Gibran pun memutuskan untuk menyudahinya dan kembali membersihkan tubuh mereka masing-masing.


.


"Sudah Bu," jawab Kamelia dan Ustadz Gibran bersamaan.


"Kompak sekali ya pengantin baru ini. Ibu senang lihat kalian cerah-ceraj seperti ini," ledek Yuni membuat Ustadz Gibran dan Kamelia malu.


"Ibu apaan sih. Biasa aja kok Bu," ucap Kamelia malu-malu.


"Iya.. Iya biasa aja. Ya udah, ayo sarapan dulu. Setelah itu baru kita berangkat ke pondok pesantren," ucap Yuni mengulum senyumannya. Ia senang saat melihat Kamelia cerah dan banyak senyum lagi. Tidak seperti yang sebelum-sebelumnya, Kamelia hanya diam dan sering melamun.


"Oh ya, Gibran, rencananya Ibu mau menggunakan hijab. Bagaimana pendapat mu sebagai seorang Ustadz?" tanya Yuni membuat Ustadz Gibran menghentikan makannya sesaat.


"Syukur Alhamdulillah Bu. Itu artinya Ibu sudah mendapatkan hidayah dari yang maha kuasa. Kapan Ibu akan mengenakan hijab?" jawab Ustadz Gibran kembali bertanya.

__ADS_1


"Rencananya mulai hari ini. Ibu minta doa kalian berdua ya," jawab Yuni menatap Ustadz Gibran dan Kamelia bergantian.


"Baik Bu. Kami pasti akan mendoakan Ibu," jawab Ustadz Gibran mewakili istrinya yang hanya senyum dan menganggukkan kepala karena mulutnya yang berisi makanan.


Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya berangkat ke pondok pesantren.


Hampir dua jam lebih, akhirnya mobil Yuni tiba di pelataran pondok pesantren dan langsung di sambut oleh Kiyai Sodikin sebagai pemilik ponpes.


Kiyai Sodikin begitu tercengang saat melihat Yuni menggunakan pakaian syar'i berwarna navy tersebut. Ia begitu cantik dan anggun sekali.


Sementara di sudut lain, ada seorang santriwati yang tak sengaja melihat Kamelia turun dari mobil dan diiringi oleh Ustadz Gibran di sebelahnya.


Ditambah lagi, Ustadz Gibran dan Kamelia sering melempar senyuman satu sama lainnya.


"Silahkan masuk dulu Ibu Yuni. Saya sampai pangling melihat anda menggunakan pakaian seperti ini," ucap Kiyai Sodikin mempersilahkan Yuni beserta anak dan mantunya itu masuk ke rumah Kiyai Sodikin.


"Ah, Kiyai bisa saja. Apa saya tidak cocok menggunakan pakaian ini?" jawab Yuni merasa tidak pede dengan pakaian dan penampilan barunya.


"Saya tidak mengatakan begitu. Ibu Yuni terlihat cantik dan anggun sekali. Saya suka melihatnya," balas Kiyai Sodikin tertawa dan berjalan masuk ke rumahnya diiringi Ustadz Gibran dan Kamelia.


"Terima kasih kalau begitu Kiyai. Saya memang memutuskan untuk menutup aurat saya. Saya malu kepada menantu dan juga anak saya. Selain itu, saya juga malu pada tuhan dan diri saya sendiri" ucap Yuni menjabarkan alasannya untuk mengenakan hijab.


"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga Ibu Yuni tawakal ya dalam berhijrah nya," balas Kiyai Sodikin tersenyum.


"Amin.. Terima kasih Kiyai," jawab Yuni malu-malu.


"Oh ya Abah, menurutku, bukankah terlalu kejauhan untuk pulang pergi ke pondok jika kami tinggal di rumah Ibu. Jarak dari ponpes ke sana kira-kira memakan waktu kurang lebih dua jam," ucap Ustadz Gibran kepada ayah angkatnya itu.


"Kamu benar juga nak. Tapi tidak mungkin juga jika kamu dan Kamelia tinggal di rumah Abah. Nanti apa kata santri yang lainnya?" jawab Kiyai Sodikin kepada Ustadz Gibran.


"Untuk membeli atau menyewa rumah di sekitaran sini juga tidak mungkin, cepat atau lambat anak-anak lainnya pasti akan mengetahuinya. Bagaimana kalau Kamelia tetap tinggal di pondok, dan Ustadz Gibran tetap tinggal di rumah ini. Nanti kalian bisa pulang ke rumah Ibu tiap libur atau akhir pekan," ucap Yuni memberikan pendapatnya.

__ADS_1


Ustadz Gibran dan juga Kamelia saling pandang satu sama lainnya. Begitu juga dengan Kiyai Sodikin.


"Abah setuju. Cuma itu jalan satu-satunya. Kalian harus bersabar hingga Kamelia menamatkan pendidikannya," ucap Kiyai Sodikin beberapa saat kemudian.


__ADS_2