
Karena masih ngantuk dan juga lelah, setelah solat, Kamelia memutuskan untuk kembali tidur ke ranjangnya.
Sedangkan Ustadz Gibran memilih untuk membaca Alqur'an terlebih dahulu seperti kebiasaannya.
***
"Mas bangun," panggil Airin kepada suaminya Gara yang masih tertidur dengan nyenyak nya.
"Iya sebentar lagi sayang, aku masih mengantuk," jawab Gara masih dengan mata tertutup.
"Emang kamu gak kerja apa?" tanya Airin lagi.
"Kerja, tapi lima menit lagi aja. Nanggung nih, aku lagi mimpi," jawab Gara membuat Airin menautkan kedua alisnya.
"Mimpi apa sih? Ayo bangun, nanti telat lo," ucap Airin terus membangunkan Gara.
"Ini, mimpi aku punya istri dua, dan dua-duanya akur," jawab Gara seketika membuat Airin berapi-api.
"Dasar laki-laki kurang ajar. Bangun gak. Banguuuunnn, kalo kamu gak bangun, aku bakalan nikah lagi," ucap Airin memukul-mukul Gara menggunakan bantal dengan emosinya.
"Awww, sakit, kamu kenapa? Kenapa marah-marah gitu sih sayang?" tanya Gara yang tak sadar jika ia ngelantur akibat mimpinya.
"Masih tanya kenapa? Bukannya kamu mimpi punya istri dua dan dua-duanya akur haa.. Berani ya kamu mas," teriak Airin menjadi sarapan pagi untuk Gara.
"Kamu tau dari mana aku mimpi itu? Jangan bilang kamu itu bisa baca mimpi orang ya," ucap Gara heran.
"Kan kamu yang bilang mas barusan. Pokoknya sekarang kamu bangun, mandi, ganti baju sendiri, sarapan sendiri, urus semuanya sendiri. Aku gak mau lagi ngurusin kamu," jawab Airin ngambek.
'Astaga, dasar mulut, pakai acara ngomong-ngomong lagi. Diam aja kenapa?,' batin Gara memegangi mulutnya.
"Jangan gitu dong sayang. Kalo kamu gak ngurusin aku, yang ngurus kamu siapa dong?" tanya Gara mencoba membujuk istrinya.
"Gampang, aku tinggal nikah lagi," jawab Airin lalu pergi meninggalkan Gara yang masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Apa? Nikah lagi? Enggak.. Enggak boleh. Airin tunggu, kamu mau kemana? Aku gak mau urus diri aku sendiri, aku mau nya sama kamu," teriak Gara namun tak di dengar oleh Airin.
Dengan kesal Airin berlalu ke kamar bayi kembarnya yang ada di sebelah kamarnya.
Ia melihat ketiga bayinya tengah di mandikan oleh pengasuh mereka masing-masing.
__ADS_1
Kini, ketiga bayi kembar itu sudah bisa menelungkup sendiri, mereka tumbuh dengan sehat dan memiliki wajah yang mirip sekali dengan Gara.
"Hai Anggara sayang, anak Mommy baru selesai mandi ya.. Wangi banget.. Gendong sama Mommy yuk sayang," ucap Airin menyapa Anggara, putra pertama mereka yang baru saja selesai mandi dan berpakaian.
Sementara itu, Leon yang sedang meneguk manisnya berumah tangga dengan Selin, baru saja selesai menikmati sarapan paginya.
Semenjak ia memberikan nafkah batinnya kepada Selin, Leon terlihat lebih cerah dan semangat. Meskipun menurut Leon dirinya belum mencintai Selin, namun perlakuannya kepada sang istri sangatlah manis sekali.
Hampir setiap malam dan setiap ada kesempatan Leon selalu menunaikan kewajibannya kepada sang istri, sehingga V milik Selin terasa perih dan kebas.
Namun, meskipun seperti itu, Selin tidak mau mengatakannya kepada Leon, karena ia tak mau membuat suaminya itu merasa kecewa.
"Selin, aku berangkat kerja dulu ya. Nanti sore, kamu dan Clara bersiap-siaplah. Kita akan pergi ke pasar malam. Kasihan Clara di rumah terus," ucap Leon berdiri dari tempat duduknya.
"Ah, iya baik kak. Kakak hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan siang," jawab Selin merasa senang sekali.
"Makasih sayang. Aku pergi dulu," balas Leon spontan memanggil Selin dengan sebutan sayang.
"Sa... Sayang?" ucap Selin tak menyangka jika Leon akan memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Ya sayang?" jawab Leon mengusili istrinya yang tengah menggendong Clara itu.
"Ah, enggak. Aku nggak manggil kakak sayang kok. Bukannya kakak yang manggil aku sayang barusan?" ucap Selin gelagapan.
"Sudah kak, lupakan saja," jawab Selin menundukkan kepalanya.
'Mungkin kak Leon sedang teringat kepada kak Gauri,' batin Selin berpikiran positif.
"Aku memang menyayangimu Selin. Semakin hari kamu berhasil menggeser posisi Gauri di hatiku. Namun bukan berarti aku sudah tidak mencintai kakakmu lagi. Kamu berhasil menggeser posisi Gauri ke dalam museum cinta dalam hatiku," jawab Leon membuat Gauri menatap Leon tak percaya.
"Mak.. Maksud kakak? Kakak menyayangiku?" tanya Gauri memberanikan dirinya.
"Tak hanya menyayangimu, aku sepertinya telah jatuh cinta kepada mantan adik ipar ku ini," jawab Leon manis membuat mata Selin berkaca-kaca.
"Makasih kak," jawab Selin memeluk Leon dengan sebelah tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi masih menggendong Clara.
"Sama-sama sayang. Harusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Berkat kamu, aku tetap bisa menjalani hidupku dengan baik setelah di tinggal Gauri," jawab Leon mencium pucuk kepala Selin.
"Ya sudah, sekarang kakak berangkat gih. Nanti telat," ucap Selin melepas pelukannya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pergi dulu ya. Jangan lupa nanti malam. Dada sayang, Dady kerja dulu ya," ucap Leon menciumi putrinya.
Saat Leon sudah di perjalanan, Gara masih saja berada di rumah. Ia kerepotan dalam memilih dan mempersiapkan pakaiannya sendiri.
"Airin kemana sih? Tega sekali dia membiarkan ku kerepotan seperti ini," gumam Gara yang sibuk mencari kaos kakinya.
Lima menit kemudian, setelah Gara selesai dengan pakaiannya, ia kemudian keluar dan mengecek putra-putrinya sekaligus pamit untuk berangkat ke kantor.
Selanjutnya, Gara turun ke meja makan untuk menikmati santap paginya.
"Itu dia Ibu negara. Kenapa dia sarapan terlebih dahulu dan tidak menungguku? Apa dia tidak mencintaiku lagi?" tanya Gara pada dirinya sendiri.
"Airin, kamu makan duluan? Apa kamu tidak menungguku?" tanya Gara duduk di sebelah istrinya.
"Memang kenapa kalau aku makan duluan. Bukannya kamu sedang menikmati mimpimu yang sedang memiliki istri dua? Aku keburu lapar menunggu mimpimu itu," jawab Airin ketus.
"Ayolah sayang, maafkan aku. Itukan hanya mimpi. Aku janji tak akan memimpikan itu lagi," jawab Gara memelas.
"Kamu pasti sengaja kan menghayal sebelum tidur?" tuduh Airin membuat Gara tertunduk.
'Airin kok tau-tau aja sih, kalau aku mengkhayal sebelum tidur,' batin Gara mengakui perbuatannya.
"Enggak kok, siapa yang mengkhayal?" jawab Gara gelagapan.
"Kualat lo kamu mas kalo bohong sama aku," ucap Airin membuat Gara tetap tidak mau mengaku.
"Ok, aku gak takut karena aku gak bohong," ucap Gara duduk dan menyalin nasi goreng ke dalam piringnya.
"Ok," jawab Airin melanjutkan makannya.
Namun saat Gara tengah mengunyah makanannya, tiba-tiba saja ia keselek dan sulit bernafas. Ia segera minum air yang banyak untuk meredakan sakit pada tenggorokannya.
"Tuh kan, kualat. Makanya jangan bohong," ucap Airin melanjutkan makannya.
Uhuk.. Uhuk..
Gara tak berani lagi menjawab ucapan Airin. Ia akhirnya makan dengan diam sampai nasi yang ada di piringnya itu habis.
"Sayang maafkan aku. Aku janji gak bakalan mengkhayal lagi. Alu berangkat kerja dulu ya," ucap Gara mencium pipi kiri dan kanan Airin.
__ADS_1
Airin hanya diam tak menjawab apapun yang di katakan Gara. Ia masih kesal dengan kelakuan suaminya itu.
Karena ia sudah telat, Gara akhirnya berangkat. Ia akan memikirkan cara bagaimana untuk membujuk istrinya itu agar tidak marah lagi padanya.