
"Tau. Sekarang mereka sedang di obati oleh kakek dan nenek Purwadi. Setelah itu mereka akan menjadikan calon suami kakak dan juga temannya untuk tumbal kebangkitan anak kandung mereka yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Jika kakak berhasil menolong Ibuku, aku janji akan memberi tau bagaimana cara untuk menyelamatkan calon suami dan temannya itu," jawab Anak kecil pucat tersebut.
"Apa? Kamu jangan bercanda sayang. Ini tidak lucu," jawab Airin tak percaya.
"Aku serius kak. Ayo, lebih cepat lebih baik," jawab anak kecil tersebut berlalu meninggalkan Airin. Airin pun segera menyusul anak tersebut masuk jauh ke dalam hutan larangan.
***
Akhirnya Airin mengikuti kemana bocah pucat pasi itu membawanya.
Setelah berjalan cukup jauh, anehnya Airin tidak merasakan capek atau pegal sama sekali.
Tak lama kemudian Airin dan bocah pucat itu tiba di sebuah gubuk kayu yang sudah usang dan lapuk. Tepat di sebelahnya terdapat sumur tua yang di jaga oleh pohon beringin yang banyak sekali memiliki akar gantung. jujur saat ini Airin sangat takut sekali. Namun ia harus memperkuat dirinya agar bisa kembali bertemu dengan Gara dan juga Leon.
"Ayo kak masuk," ucap anak kecil itu memegang tangan Airin. Terasa sekali tangan anak itu sangat dingin sekali.
'Kenapa tangannya dingin sekali ya?' batin Airin penasaran sambil masuk memasuki gubuk lapuk itu.
"Mana Ibumu sayang?" tanya Airi lembut tak melihat keberadaan ibunya.
"Ibuku di sini kak. Ayo sini ikut aku," ajak anak kecil tersebut menuju ke sebuah kamar kecil di sudut ruangan itu.
Saat memasuki kamar tersebut, seketika Airin merasakan ada hawa yang tidak enak dan saat itu juga ia seakan mau muntah.
__ADS_1
Di sudut kamar ada seorang wanita paruh baya yang kakinya di pasung, dan tangannya di ikat ke atas menggunakan tali coklat seperti akar gantung halus.
"Dek, inikan talinya kecil sekali, kenapa tidak kamu saja yang membukanya? Kasihan Ibumu tangannya seperti itu," ucap Airin menatap bocah tersebut.
"Aku sudah berkali-kali membukanya kak, tapi tidak bisa. Dulu sebelum Ayah meninggal, dia bilang jika tali itu terlepas, maka pasung itu juga akan terlepas. Tak hanya itu, Ibu akan kembali sembuh seperti sedia kala," jelas bocah kecil itu.
"Siapa yang melakukan ini kepada Ibumu?" tanya Airin mulai mengerti dengan keadaannya.
"Ini semua ulah kakek dan nenek Purwadi kak, kakek dan nenekku. Dia ingin menjadikan Ibuku tumbal, tapi berhasil di gagalkan oleh Ayah, sebab itulah Ayah meninggal dan Ibu jadi seperti ini.
"Ja.. Jadi mereka kakek dan nenekmu? Lalu bagaimana caraku untuk melepaskannya? Kalau aku gagal bagaimana?" tanya Airin cemas.
"Yang penting kakak yakin. Aku bermimpi kalau akan ada wanita hamil yang akan membebaskan ibuku. Dan aku yakin pasti kakak orangnya," jelas bocah itu menjawab pertanyaan Airin.
Saat Airin menyentuh tali itu, tiba-tiba saja petir berbunyi sahut-sahutan. Kilat dimana-mana, dan terdengar banyak sekali suara tawa kuntilanak dari luar gubuk tersebut. Tak hanya itu, tali yang di sentuh Airin juga terasa sangat panas sekali. Karena Airin hidup di desa yang juga masih terpencil, maka ia sangat percaya dengan hal-hal seperti itu.
Airin kemudian membaca beberapa ayat kursi dan ayat-ayat lainnya yang ia hafal sembari melepas ikatan tali tersebut yang lilitannya sangat banyak sekali.
Perlahan tapi pasti, setiap tali yang berhasil di buka berubah menjadi tali pocong yang di sambung masing-masing ujungnya. Hingga di lilitan terakhir, Airin merasakan ada seseorang yang memegang tangannya dan ia juga merasakan ada yang mengusap-usap perutnya dengan sangat keras sekali. Keringat basah mulai berjatuhan dari wajah Airin. Ia berusaha menahan sakit yang teramat sangat sambil terus melafalkan doa-doa yang ia hafal.
Sedangkan Ibu bocah tersebut tertawa cekikikan seperti suara kuntilanak yang berbunyi di luaran sana.
Beberapa saat kemudian, bertepatan dengan terbitnya mentari, Airin pun berhasil melepaskan semua ikatan tali yang ada pada tangan ibu-ibu tersebut. Seperti apa yang di ucapkan bocah tadi, saat tali itu terlepas, maka pasung nya juga akan lepas dengan sendirinya.
__ADS_1
"Ibu," panggil bocah tersebut sangat girang.
"Zaki," jawab ibu itu yang ternyata sudah sadar kembali seperti normal.
Bocah pucat yang ternyata bernama Zaki itu langsung berlari ke dalam pelukan ibunya. Tak hanya itu, Zaki kini terlihat lebih fresh, tidak pucat pasi lagi seperti sebelumnya.
"Ibu, ini kakak yang ada dalam mimpi Zaki. Dia telah menyelamatkan Ibu dari tali terkutuk itu. Tapi Bu, calon suami dan juga teman kakak ini sekarang lagi di rumah kakek dan juga nenek. Kita harus membantunya Bu. Kasihan, kakak ini sedang hamil," ucap Zaki kepada Ibunya.
"Baiklah, kalau gitu ayo kita ke rumah kakek dan nenekmu sekarang, tapi sebelum ke sana, masing-masing dari kita harus mandi menggunakan air garam dulu," jelas Ibu-ibu tersebut.
"Me.. Memang kenapa Bu?" tanya Airin penasaran?
"Karena, jika kita mandi menggunakan air garam, mereka tidak akan bisa lagi menyerang kita. Selain itu kita juga harus membawa beberapa garam untuk menyelamatkan calon suami dan juga temanmu tadi," jawab Ibu tersebut.
Akhirnya mereka bertiga segera mandi dengan air garam. Selanjutnya mereka bertiga pergi ke gubuk kakek dan juga neneknya Zaki.
Setibanya di sana mereka melihat Gara dan juga Leon sedang di mandikan menggunakan kain panjang yang menutupi masing-masing tubuhnya. Saat kakek dan nenek itu hendak mengambil airnya dengan tempurung, dari belakang Zaki datang dan langsung menendang tempat itu hingga jatuh dan pecah ke tanah. Zaki juga menyiram kakek dan neneknya menggunakan garam yang sebelumnya sudah di bakar seperti yang Ibunya perintahkan saat akan berangkat dari rumah tadi. , wadah air penampung kembang yang terbuat dari tanah liat itupun jatuh pecah berserakan ke lantai.
Seketika kakek dan nenek Purwadi sangat murka dengan kelakuan cucunya tersebut.
Namun saat ia hendak memegang tubuh Zaki, tiba-tiba saja pasangan tua itu terjatuh ke lantai. Semua tubuhnya yang telah keriput, kini bertambah keriput lagi, di tambah dengan seluruh wajah yang menghitam dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kurang ngajar kau Zaki. Berani-beraninya kau menghancurkan semua persiapanku. Kau lihat saja, aku akan membuat Ibumu semakin tak bisa berbuat apa-apa lagi," ancam nenek Purwadi dengan suara yang sudah mulai bergetar.
__ADS_1
Saat kakek Purwadi akan bangkit berdiri untuk menusukkan kerisnya ke arah Zaki, dengan sigap Airin melindungi Zaki dengan punggungnya sehingga keris itupun langsung menancap di punggung Cella..