Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 95


__ADS_3

"A.. Apa resikonya dokter?" tanya Leon penasaran.


"Beberapa resikonya adalah kebutaan permanen, kelumpuhan total, hilangnya ingatan, atau amnesia, dan lebih parahnya lagi itu kematian di meja operasi," jawab dokter tersebut membuat Leon bergidik ngeri.


***


Sedangkan Gauri terlihat lebih tenang karena ia sudah sering mendengar penjelasan seperti itu sebelumnya.


"Baik, kalau begitu kami permisi dulu ya dokter," pamit Gauri kepada dokter tersebut.


"Baik. Ini saya beri resep obatnya," ucap dokter tersebut memberikan selembar kertas berisi resep obat.


"Baik, terima kasih dokter," balas Leon mengambil resep obat dan pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut.


"Sayang, aku berjanji akan mencarikan dokter lain yang lebih hebat untukmu," ucap Leon saat ia tengah antri menunggu obat untuk istrinya Gauri.


"Dokter lain? Untuk apa?" tanya Gauri tersenyum.


"Untuk mengobati penyakitmu," jawab Leon pantang menyerah.


"Haha.. Percuma saja sayang. Semua dokter sudah mengatakan hal yang seperti tadi berkali-kali. Kecil harapannya untuk aku sembuh kembali," ucap Gauri tertawa pilu.


'Aku takut Gauri.. Aku takut jika kamu pergi meninggalkan aku dan juga Clara,' batin Leon menatap Gauri.


'Ya tuhan, aku takut jika harus segera pulang ke pangkuan mu. Aku belum siap meninggalkan Leon dan juga Clara. Aku mohon beri aku waktu sedikit saja untuk hidup lebih lama lagi,' batin Gauri pilu.


Sementara itu, Paman Sam kini baru saja tiba di kota tempat istri keduanya berada.


Seperti biasanya, Kamelia yang di temani oleh temannya meminta izin kepada Yuni untuk menginap di rumah temannya setiap akhir pekan dan Yuni selalu mengizinkan putrinya itu.


"Bu, Kamelia pamit ya. Ibu jaga diri baik-baik," ucap Kamelia menyalami Ibunya lalu diikuti oleh temannya itu.


"Baik, hati-hati ya nak," jawab Yuni mengusap kepala putrinya itu.


Tak lama kemudian, Kamelia pun bertemu dengan Paman Sam. Ia langsung memeluk suaminya itu dengan sangat erat saat dirinya telah duduk di dalam mobil.


"Bagaimana kabar kamu sayang?" tanya Paman Sam mengecup pucuk kepala istrinya itu.


"Aku baik, cuma akhir-akhir ini kepalaku sedikit pusing," jawab Kamelia memegang kepalanya.


"Oh ya? Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Biar dokter yang memeriksa mu," ucap Paman Sam khawatir.

__ADS_1


"Tidak usah. Palingan ini hanya kelelahan saja," tolak Kamelia menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


Tak butuh waktu lama, kini Kamelia dan Paman Sam sudah tiba di rumah yang dibelinya waktu itu.


Saat Kamelia akan baru saja turun dari mobil, tiba-tiba saja wanita cantik itu jatuh pingsan tak sadarkan diri menghempas lantai.


"Kamelia? Kamu kenapa?" ucap Paman Sam kaget segera berlari ke arah Kamelia.


Karena Kamelia tak kunjung sadar, Paman Sam langsung membawa Kamelia kembali ke dalam mobil dan memerintahkan supirnya untuk segera ke klinik atau rumah sakit terdekat.


Tak butuh waktu lama, kebetulan ada sebuah klinik yang tak jauh dari rumah mereka saat ini.


Paman Sam langsung menurunkan Kamelia dan membawanya masuk ke dalam klinik tersebut.


"Ada apa ini?" tanya dokter yang ada di klinik tersebut.


"Ini, istri saya tiba-tiba pingsan. Tolong bawa dan segera periksa dia. Saya tidak mau dia kenapa-napa," jawab Paman Sam panik.


"Baik, sebentar, bapak bisa menunggu di luar sebentar ya," ucap dokter tersebut ramah.


Beberapa jam kemudian, dokter yang memeriksa Kamelia pun akhirnya keluar. Dengan segera, Paman Sam datang menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Paman Sam panik. Terlihat jelas wajah kepanikan dari wajah tampan tersebut.


"Aa.. Apa Istri saya hamil dokter?" tanya Paman Sam tak percaya.


"Ya, istri bapak hamil. Untuk usia kehamilannya, bapak silahkan mengunjungi dokter kandungan untuk pemeriksaan melalui USG," jawab dokter tersebut sekali lagi.


"Hhh.. Haha.. Terima kasih dokter. Terima kasih. Saya sangat senang sekali. Apa saya boleh menemui istri saya?" ucap Paman Sam senang sekali.


Akhirnya, mimpinya untuk memiliki anak lagi terwujud melalui Kamelia.


"Boleh, silahkan saja. Kalau begitu, saya permisi dulu," balas dokter tersebut lalu pergi meninggalkan Paman Sam.


.


.


"Kamelia, sayang," sapa Paman Sam saat sudah berada di sebelah Kamelia tengah terbaring.


"Bang, bang aku kenapa? Dokter bilang apa?" tanya Kamelia dengan suara lemah.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa sayang. Dokter bilang, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu," jawab Paman Sam mengusap-usap kepala istrinya.


"I.. Ibu.. Aku.. Aku hamil bang?" tanya Kamelia tak percaya.


"Iya, kamu hamil. Selamat ya sayang," jawab Paman Sam tak henti-hentinya menciumi tangan istrinya itu.


Kamelia pun mengusap perutnya. Ia juga senang sekali karena ada darah daging Paman Sam di dalam rahimnya.


"Kamu senang?" tanya Paman Sam kepada istrinya.


"Tentu.. Tentu aku senang. Aku akan beri tahukan ini secepatnya kepada Ibu bang. Tak hanya itu, aku juga akan membawa Abang bertemu dengannya. Apa Abang siap?" jawab Kamelia senang


"Tentu Abang siap. Abang ini laki-laki sejati. Jika nanti Ibumu marah, Abang janji tak akan mundur walau hanya selangkah saja," jawab Paman Sam.


"Permisi, saya mau memberitahukan jika istrinya sudah boleh pulang ya pak. Ini resep obatnya berupa vitamin dan penguat kandungannya mohon di tebus di apotik depan ya pak," ucap dokter tersebut memberikan selembar kertas berisikan resep obat kepada Paman Sam.


"Baik.. Terima kasih dokter," jawab Paman Sam mengambil kertas tersebut.


"Sama-sama, kalau begitu, saya permisi dulu," balas dokter tadi meninggalkan ruangan Kamelia.


"Hmmmm dokter," panggil Paman Sam saat dokter itu hampir tiba di dekat pintu hendak mau keluar.


"Ya, kenapa?" tanya dokter tersebut berbalik arah.


"Dokter saya mau tanya, amankah bagi kami untuk melakukan hubungan badan saat ini?" tanya Paman Sam tanpa malu-malu. Seketika itu juga wajah Kamelia berubah menjadi merah.


Ia tak menyangka jika suaminya itu akan melontarkan pertanyaan seperti itu kepada sang dokter.


"Aman-aman saja asal si Ibu merasa nyaman dan aman. Tapi jika bapak dan istrinya akan melakukan hubungan itu, sebaiknya kekuatannya agak sedikit di kurangi," jawab dokter menjelaskan.


"Oh begitu ya dokter. Baik, terima kasih atas saran dan jawabannya," balas Paman Sam menyatukan kedua telapak tangannya.


"Sama-sama pak," ucap dokter tersebut lalu kembali berbalik.


.


.


"Abang apaan sih nanya-nanya seperti itu sama Bu dokternya. Kan malu bang," protes Kamelia saat dokter tersebut sudah tidak ada lagi di sana.


"Haha.. Kenapa malu sayang. Biasa dong Abang menanyakan itu padanya," jawab Paman Sam terkekeh.

__ADS_1


"Kan malu bang," balas Kamelia menatap memanyunkan bibirnya.


"Haha.. Biarkan saja. Abang sudah tidak punya lagi urat malu jika itu menyangkut dengan masalah ranjang," jawab Paman Sam membuat wajah Kamelia semakin memerah.


__ADS_2