Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 137


__ADS_3

"Kamelia, sudah, kamu duduk saja. Biar Aby yang menyiapkan pakaian tidur mu. Kamu duduk saja di atas ranjang kita," ucap Ustadz Gibran lalu berjalan menuju koper Kamelia dan mencarikan baju tidur untuk istrinya.


Setelah mendapatkannya, Ustadz Gibran membuka hijab istrinya. Selanjutnya, ia membuka pakaian sang istri dan menggantikannya.


Kamelia sendiri sudah melarangnya, namun Ustadz Gibran tetap kekeh untuk menggantikan pakaian istrinya itu.


***


Namun sebelum mengganti pakaian sang istri, Ustadz Gibran terlebih dahulu menyicipinya. Seperti laki-laki biasa, Ustadz Gibran pun mulai menciumi setiap inci tubuh istrinya itu. Kamelia yang masih labil tersebut, mulai terbawa suasana. Ia mulai menikmati nafkah batin yang di berikan oleh Ustadz Gibran untuknya.


Karena mengingat Kamelia yang tengah hamil muda, Ustadz Gibran tidak mau berlama-lama dalam menjalani tugasnya. Ia teringat akan bayi yang ada di dalam kandungan sang istri.


"Sayang maafkan Aby ya, kita mainnya sebentar saja, Aby takut kandungan kamu kenapa-napa nantinya," ucap Ustadz Gibran merasa tidak enak pada sang istri.


"Tidak apa-apa kok By," jawab Kamelia singkat sembari tersenyum kepada suaminya itu.


"Terima kasih sayang. Kalau begitu, Aby mandi dulu ya," balas Ustadz Gibran bangkit dari tempat tidurnya


Keesokan harinya, di rumah Gara dan juga Airin, sepasang suami istri itu tengah bersiap-siap untuk mengambil hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh Airin kemari.


Mereka berharap semoga hasilnya seperti yang di inginkan.


"Ayo sayang, kita berangkat," ajak Gara pada sang istri.


Satu jam kemudian, pasangan suami istri itu akhirnya tiba di rumah sakit tempat mereka melakukan pemeriksaanya kemarin.


"Sayang aku takut," ucap Gara yang sedari tadi menggenggam erat tangan istrinya sembari menunggu nama sang istri di panggil oleh perawat.

__ADS_1


"Takut kenapa hmmm?" tanya Airin mencium tangan yang menyatu dengan tangannya.


"Aku takut jika kamu mendapatkan penyakit seperti Gauri. Perasaanku tidak enak Airin. Aku takut jika kamu kenapa-napa," jawab Gara benar-benar merasa gelisah.


"Kamu tenang ya mas. Semua sudah ada yang mengatur. Kita sama-sama berdoa saja supaya tidak terjadi apa-apa kepada ku," jawab Airin yang saat ini juga merasakan kecemasan yang sama dengan suaminya itu.


Tak lama kemudian, perawat pun memanggil nama Airin, dan dengan cepat, Gara dan juga Airin bergegas memasuki ruangan dokter yang memeriksanya kemaren.


"Selamat siang dokter. Bagaimana hasil pemeriksaan saya yang kemarin?" tanya Airin mencoba untuk tetap tenang.


"Sudah, dan ini hasilnya, silahkan di buka dulu," jawab dokter tersebut sembari memberikan sebuah kertas berwarna putih kepada Airin.


"Baik dokter, terima kasih," jawab Airin sembari membuka kertas putih tersebut, lalu membacanya.


Seketika, air mata Airin menetes saat tau apa hasil dari pemeriksaanya kemarin. Tangannya melemah dan tatapannya kosong, sehingga membuat Gara semakin cemas dan langsung mengambil kertas yang hampir jatuh tersebut dari tangan Airin. Gara kemudian membacanya dan ekspresinya sama seperti Airin. Ia terdiam untuk beberapa saat hingga Gara menarik nafas panjang lalu melepaskannya perlahan.


"Maafkan saya pak, tapi apa yang bapak katakan itu memang benar adanya. Istri bapak, Ibu Airin menderita leukimia akut," jawab dokter tersebut dengan berat hati.


"Lalu bagaimana selanjutnya? Apa yang harus kami lakukan agar istri saya bisa sembuh seperti sedia kala?" tanya Gara berusaha menahan tangisnya.


"Bapak dan keluarga hanya perlu berdoa, kami akan mengusahakan kesembuhan untuk Ibu Airin. Kita akan melakukan kemoterapi dan selebihnya di bantu dengan obat-obatam untuk menyembuhkannya. Memang ini akan memakan waktu yang cukup lama, tapi kita percaya saja, jika penyakit ini bisa di sembuhkan," jawab dokter tersebut mencoba menjelaskannya kepada Gara.


"Tolong lakukan yang terbaik dokter. Tak penting berapapun biaya yang harus saya keluarkan, yamg terpenting adalah istri saya bisa sembuh seperti sedia kala. Kasihan kami dokter, anak kami masih kecil-kecil," jawab Gara memohon dengan air mata yang telah membasahi pipinya.


Gara takut jika ia harus kehilangan Airin seperti Leon sahabatnya yang kehilangan Gauri.


"Baiklah, kami akan berusaha sebaik mungkin. Ini ada resep obatnya dan ini adalah jadwal kemoterapi untuk Ibu Airin. Untuk saat ini, Ibu Airin tidak perlu kita rawat dulu ya pak

__ADS_1


Tetap jaga mood dan suasana hatinya. Jangan biarkan dia stres memikirkan suatu masalah," jelas dokter tersebut memberikan resep obat dan jadwal kemoterapi untuk Airin.


"Baik, terima kasih dokter. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Gara dan juga Airin bersamaan.


"Kenapa kamu diam saja sayang?" tanya Airin menatap wajah suaminya itu.


"Aku takut.. Aku takut akan kehilanganmu Airin," jawab Gara dengan tatapan yang kosong saat mereka tengah menunggu obat di apotik rumah sakit tersebut.


"Jangan banyak pikiran mas. Kamu tidak ingat apa kata dokter tadi? Jangan sampai aku stres memikirkan kamu mas. Anggap saja ini sebagai ujian dari yang maha kuasa untuk kita lebih ingat lagi kepadanya," jawab Airin mencoba menenangkan suaminya itu.


"Baiklah sayang. Kalau begitu maafkan aku. Aku akan mencoba untuk tetap tenang. Kita hadapi ini sama-sama. Ingat, masih ada si kembar yang menggantungkan hidup dan harapannya kepada kita berdua," ucap Gara berpura-lura tegar di hadapan istrinya. Ia teringat akan pesan dokter tadi untuk tetap menjaga perasaan dan mood Airin. Ia tak mau Airin stres karena dirinya yang terlalu cemas.


Setelah menebus resep obat dari dokter, Airin dan Gara langsung pulang. Sepanjang perjalanan, Gara dan juga Airin hanya diam. Mereka larut dalam pikiran dan lamunannya masing-masing.


Setibanya di rumah, Gara dan juga Airin langsung masuk ke kamar si kembar. ia melihat, putra dan putrinya tengah bermain dengan baby sitter mereka masing-masing.


Airin yang sedari tadi menahan gejolak di dadanya langsung mengambil salah satu dari mereka dan melepaskan tangisannya sembari memeluk Anggara, putra tertua mereka.


Sementara Gara juga ikut menangis sembari memeluk sang istri yang menangis dengan tersedu-sedu.


"Tenang sayang. Kamu yang kuat. Aku yakin kamu pasti akan sembuh. Kamu adalah wanita yang kuat yang pernah aku kenal selama ini. Tetap semangat ya sayang, demi si kembar dan juga aku," ucap Gara sembari menangis terisak-isak. Sedangkan baby sitter mereka hanya bisa diam menyaksikan momen haru satu keluarga tersebut.


"Tapi bagaimana jika aku tidak sembuh mas? Bagaimana jika aku....." ucap Airin langsung di putus oleh Gara.


"Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu pasti sembuh. Kamu yakin itu. Kamu harus tetap semangat sayang. Ingat, ada aku, dan juga si kembar yang sangat mencintai dan juga menyayangimu," balas Gara memperat pelukannya.


"Terima kasih mas. Terima kasih," jawab Airin mencoba kembali tersenyum. Ia akan bertekad untuk sembuh demi suami dan juga anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2