Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 93


__ADS_3

"Baik pak. Saya akan segera urus semuanya," jawab Tio bergerak cepat.


"Bagus," balas Paman Sam lalu mematikan panggilan teleponnya.


***


"Tidak, saya tidak mau di penjara. Lepaskan saya," protes Liona menolak untuk di tahan oleh pihak kepolisian.


Polisi tak menanggapi amukan Liona. Mereka terus membawa Liona ke dalam sel tahanan.


"Awas kalian semuanya. Aku akan suruh suami ku untuk mecat kalian semua," teriak Liona yang sudah berada di balik jeruji besi.


"Woi brisik," teriak salah satu napi. Kalau dilihat dari tampangnya, dia adalah napi senior di antara tiga napi lainnya.


"Suka-suka gue, mau apa lo," balas Liona menatap tajam napi tersebut.


Merasa di remehkan dan mendapat lawan baru, napi tersebut pun berdiri lalu mendekati Liona.


"Berani ya kamu sama saya," ucap napi tersebut membelalakkan matanya.


"Memang kamu siapa? kenapa saya harus takut sama kamu," balas Liona. Jujur di dalam hati Liona ada rasa takut dan gugup. Tapi ia harus berani demi harga dirinya.


"Sudah, hajar dia bos, biar dia tau siapa bos," teriak salah satu napi wanita.


"Kamu tau kenapa saya di penjara ini? Saya berada di sini karena kasus pembunuhan berantai. Setelah di sel, saya juga membunuh tahanan yang seperti kamu ini. Saya lihat-lihat, sepertinya kamu korban saya selanjutnya," bisik wanita tersebut membuat bulu kuduk Liona berdiri.


'Mati aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Liona. Wajahnya mulai terlihat pucat.


"Bukan urusan ku," jawaban Liona sebelum para napi itu menangani Liona bersama-sama.


Beberapa hari telah berlalu. Saat ini tak ada satupun anggota keluarga Liona yang datang menemuinya di kantor polisi.


Keadaannya pun kini jauh lebih buruk saat ia pertama kali masuk penjara.


Tubuhnya sudah lebam-lebam akibat ulah napi yang satu sel dengannya.


Matanya sudah cakung karena kurang tidur.

__ADS_1


"Sudah hampir satu Minggu aku disini, namun mas Sam belum juga menemui ku. Apakah dia tidak mencintaiku lagi?" tanya Liona berbicara pada dirinya sendiri.


Siang ini, Gara dan Airin berencana untuk menemui Liona di dalam sel tahanan.


Sebelum pergi, Gara dan Airin singgah dahulu ke rumah Paman Sam. Mereka berniat untuk mengajak Paman Sam menemui Liona dan melihat keadaannya.


"Kalian pergi saja. Paman sudah tidak sudi lagi melihat wajah wanita itu," ucap Paman Sam saat Gara dan Airin tiba di rumahnya.


"Tapi kenapa? Bukankah dia istri Paman sendiri. Meskipun dia berniat mencelakai ku, dia tetap istri Paman sendiri," jawab Gara membujuk Pamannya itu.


"Kamu tau, tak hanya padamu saja. Dia bahkan juga membuat Paman marah. Dia telah mengkhianati Paman dengan membawa laki-laki lain ke kamar dan juga ranjang kami. Dia benar-benar telah merusak kepercayaan yang Paman berikan," jawab Paman Sam kembali emosi.


"Paman jangan salah sangka dulu. Siapa tau itu tukang service AC atau yang lainnya. Lagian Paman tau dari siapa?" tanya Gara penasaran.


Tanpa menjawab pertanyaan Gara, Paman Sam kemudian mengeluarkan ponselnya dan melihatkan video rekaman cctv. Dimana di dalam itu menampilkan adegan panas antara Liona dan Yuta, teman sekelas Gara dulu.


"Lihat ini. Paman tau dari sini," jawab Paman Sam.


"Ini.. Ini Yuta. Benar sekali, ini Yuta," ucap Gara yang mengenali laki-laki dalam rekaman cctv tersebut.


"Kamu mengenalnya?" tanya Paman Sam penasaran.


"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Kamu pergilah, Paman tidak sudi bertemu dengannya lagi," ucap Paman Sam menyimpan ponselnya kembali.


Akhirnya Gara dan Airin pergi tanpa membawa Paman Sam.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di kantor polisi tempat Liona di tahan.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi tersebut kepada Gara dan juga Airin.


"Siang, kami mau menemui tahanan yang bernama Liona. Apakah bisa pak?" jawab Gara kembali bertanya.


"Maaf, kalian siapanya ya?" tanya polisi itu lagi.


"Kami masih keluarganya, dan kami jugalah korban yang di celakai oleh Liona," jawab Gara penuh wibawa.


"Oh bapak Gara, bisa pak, silahkan ikut saya," ucap Polisi tersebut langsung mengenal Gara.

__ADS_1


"Silahkan tunggu di sini pak, saya akan panggilkan saudari Liona dulu," ucap polisi tesebut meninggalkan Gara dan Airin di ruang tunggu.


"Saudari Liona, ada yang ingin bertemu dengan anda, katanya mereka adalah keluarga anda," ucap polisi tersebut kepada Liona.


Saat mendengar kata keluarga, satu-satunya yang terlintas di benak benak Liona adalah suaminya Paman Sam.


Dengan cepat, Liona langsung berdiri dan bergegas keluar dari sel tersebut.


Setibanya di ruang tunggu, langkah Liona langsung terhenti saat melihat Gara dan juga Airin tengah berpegangan tangan membuat Liona terbakar emosi.


"Mau apa kalian kesini? Mana mas Sam?" ucap Liona berteriak.


"Dia tidak ada disini. Bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja, atau sebaliknya?" jawab Gara mencemooh.


"Bukan urusanmu. Puas kamu telah menghancurkan hidupku ha?" teriak Liona kembali histeris.


"Haha.. Liona.. Liona.. Kamu yang berbuat jahat, kenapa menyalahkan aku?" ucap Gara mencemooh.


"Tidak usah banyak bicara. Apa tujuanmu datang kesini?" tanya Liona menatap tajam.


"Aku dan istriku kesini untuk menjenguk mu. Oh ya, satu lagi, istriku tercinta membawakan makanan yang enak ini untuk mu. Dia kasihan melihat mu makan makanan yang tidak enak," jawab Gara semakin membuat Liona berapi-api.


"Aku tidak butuh semua itu. Dan andai kamu tau Airin, suamimu ini dulunya adalah mantan pacarku. Kami telah berbagi peluh bersama di atas ranjang. Suami mu ini seorang cassanova, aku tidak yakin dia akan setia kepadamu," ucap Liona membuat Airin sedikit terkejut.


Awalnya Airin tidak tau jika Liona adalah mantan pacar suaminya Gara. Saat mendengar pengakuan Liona, Airin sempat melirik tajam kepada Gara, namun ia sadar dan berusaha mengendalikan dirinya.


"Maaf Tante, asal Tante tau, aku sama sekali tidak peduli dengan masa lalu suamiku. Yang terpenting bagiku sekarang adalah dia telah membuktikan cintanya padaku," jawab Airin dengan tenang.


"Sialan kalian. Pergi kalian, aku tidak butuh makanan busuk itu," ucap Liona emosi lalu mengusir Gara dan juga Airin.


"Tanpa kamu suruh, kami berdua juga akan pergi, sekali lagi, selamat menikmati hari-hari sebagai narapidana," ejek Gara kemudian ia pergi meninggalkan Liona yang sedang emosi.


"Kurang ngajar kalian. Lihat saja, aku akan hancurkan kalian semua, sialan, bajingan," teriak Liona saat sudah kembali ke dalam selnya.


"Kamu bisa diam gak?" ucap narapidana yang paling senior.


"Saya nggak akan diam. Mau apa kamu ha? Mau pukul saya? Ayo pukul," teriak Liona dengan suara yang lebih keras.

__ADS_1


Sontak tahanan senior itu langsung memukul Liona hingga dia kembali babak belur.


__ADS_2