Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 158


__ADS_3

"Tidak mungkin lah sayang. Memangnya Aby ini siapa? Sampai-sampai mereka akan melakukan demo dan hal yang serupa lainnya.


"Sudah, jangan di pikirkan, lebih baik sekarang kita terus saja ke rumah. Kasihan Malik yang sudah kehausan," ucap Yuni menyuruh Ustadz Gibran terus melajukan mobilnya menuju rumah Kiyai Sodikin.


***


Keadaan pondok pesantren masih saja sepi hingga Kamelia turun barulah semua santri dan santriwati keluar dari persembunyian mereka dengan membentangkan sebuah tulisan berisikan selamat datang Kamelia dan baby.


Kamelia dan yang lainnya tampak terkejut dan juga terharu. Kamelia yang mengira jika para penghuni pondok pesantren akan marah dan demo, menjadi merasa bersalah karena sudah salah sangka.


Tak terasa, air mata Kamelia menetes karena haru.


"Selamat ya Kamelia, kamu sekarang sudah menjadi seorang Ibu. Tapi, kenapa sih kamu menyembunyikan ini semua dariku? Malah nikahnya sama Ustadz tampan lagi," ucap Siti, teman sekaligus sahabat Kamelia.


"Terima kasih Siti. Maafkan aku, bukannya aku tidak mau cerita, hanya saja belum waktunya untukku memberitahukannya kepadamu," jawab Kamelia memeluk sahabatnya itu.


"Iya, tidak apa-apa, tapi yang terpenting saat ini adalah, kamu sudah lahiran dengan selamat. Pantas saja, beberapa bulan ini, kamu sudah tidak suka melamun lagi, jadi ini alasannya. Dinikahi Ustadz tampan," ejek Siti membuat wajah Kamelia merah merona.


Di saat Kamelia mendapat banyak ucapan selamat, ada seorang santriwati yang tidak terima jika ternyata Kamelia telah membohonginya. Ia adalah Rahma. Santriwati cantik yang cinta mati kepada Ustadz Gibran.


'Kamelia sialan. Dia telah membohongiku dengan mengatakan Ustadz Gibran itu adalah sepupunya. Kurang ajar kamu Kamelia. Kenapa harus kamu yang menikah dengan Ustadz Gibran? Harusnya aku yang ada di posisi itu,' batin Rahma mengepalkan tangannya saat melihat Ustadz Gibran yang selalu merangkul Kamelia.


Karena saking kesalnya, Rahma pun tidak sadar telah melemparkan sebuah tong sampah kosong ke hadapan Kamelia. Untung saja Ustadz Gibran cepat dan reflek langsung menangkap tong sampah tersebut hingga tidak mengenai Kamelia dan juga bayinya.


Jika Ustadz Gibran telat sedikit saja, sudah di pastikan tong sampah tersebut sudah mengenai kepala Kamelia dan juga bayi yang ada di gendongannya.


"Astagfirullah, siapa yang berani melemparkan tong sampah ini kehadapan istri saya?" tanya Ustadz Gibran tampak marah sekali. Suaranya begitu lantang dan seketika membuat suasana tegang dan diam.


Sementara Kamelia tampak shock, begitu juga dengan bayinya yang terkejut karena Kamelia terpekik.


"Kamelia kami tidak apa-apa nak?" tanya Kiyai Sodikin dan Yuni bersamaan.

__ADS_1


"Ayo jawab! Siapa di antara kalian yang sudah melemparkan tong sampah ini kepada Kamelia. Jika kalian tidak menjawab, maka akan saya pastikan tidak ada di antara kalian yang akan naik kelas tahun ini," ancam Ustadz Gibran membuat para santri dan santriwati lainnya saling pandang satu sama lain karena ketakutan.


"Aby sudah, biarkan saja. Lagian aku dan juga Malik tidak kenapa-napa. Aku hanya kaget saja barusan," ucap Kamelia mencoba meredam amarah suaminya itu.


"Sudah, kamu diam saja sayang. Jika dibiarkan, maka pelakunya akan semena-mena," jawab Ustadz Gibran yang benar-benar telah merasa marah.


Sementara itu, Rahma yang baru sadar tampak ketakutan dan pucat. Ingin rasanya Rahma kabur, tapi teman sebelahnya segera memegang tangan Rahma dan menyeret wanita itu maju ke depan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Lepaskan aku Zahra," ucap Rahma berusaha melepaskan genggaman tangan Zahra yang memegangnya erat.


"Aku tidak mau. Jika kamu tidak mengaku, maka kami semua yang akan kena dampaknya Rahma," ujar Zahra menyeret Rahma ke depan.


"Apa salah satu dari kalian tidak ada yang mau mengaku. Saya akan hitung sampai tiga, jika tidak masih tidak ada yang mengaku, maka saya akan pastikan tidak ada di antara kalian yang akan naik kelas dan lulus. Satu... Dua... Tiiiiii....," ucap Ustadz Gibran terputus saat Zahra mendorong Rahma menghadap Ustadz tampan tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Ustadz Gibran yang kaget karena Rahma hampir saja terjerembab ke lantai.


"Ma.. Maaf Ustadz. Saya mau memberi tahukan jika Rahma lah yang melempar tong sampah itu ke arah Kamelia. Saya dan teman-teman yang lainnya melihat sendiri Ustadz, karena kami berada tepat di sebelah Rahma waktu itu," jawab Zahra tampak gugup.


Rahma tak bergeming sama sekali. Ia hanya diam dan menundukkan kepalanya karena takut dan juga malu kepada Ustadz Gibran dan juga Kiyai Sodikin.


"Rahma, ayo jawab pertanyaan saya. Apa benar kamu yang melempar istri saya menggunakan tong sampah itu?" tanya Ustadz Gibran lagi dengan nada tingginya sehingga Rahma terperanjat seketika.


"Be.. Be.. Benar Ustadz. Ma.. Maafkan saya," jawab Rahma gelagapan dan suara bergetar.


"Kenapa? Apa salah istri saya?" tanya Ustadz Gibran lagi.


Namun saat Rahma akan menjawabnya, tiba-tiba saja Malik menangis dan Kiyai Sodikin segera memerintahkan Kamelia untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Rahma, temui saya di ruangan saya satu jam lagi," ucap Ustadz Gibran dengan tatapan dinginnya sebelum ia membawa Kamelia dan yang lainnya masuk ke dalam rumah.


"Kamelia, sekarang kamu istirahatlah. Ibu dan Mba Aluna akan memasak makanan untuk kita semua," ucap Yuni saat berada di kamar putrinya itu.

__ADS_1


"Baik Bu, terima kasih," jawab Kamelia yang sedang menyusui Malik.


"Kamelia sayang, Aby juga pamit sebentar ya. Aby akan menemui Rahma sebentar. Kamu dan Malik tidak apa-apa kan di tinggal sebentar?" tanya Ustadz Gibran lembut.


"Iya, tidak apa-apa kok By. Aby nanti jangan terlalu keras kepada Rahma. Ia melakukan itu karena kecewa Aby memilihenikahi ku ketimbang dirinya yang sudah lama menyukai Aby," jawab Kamelia membuat Ustadz Gibran sedikit terkejut.


*Maksud kamu apa sayang?" tanya Ustadz Gibran mengerutkan keningnya.


"Ya itu, Rahma itu pernah meminta aku untuk menjodohkan dirinya dengan Aby. Tapi aku gak mau. Aku yakin Rahma itu merasa malu karena dia selalu bilang kepada santriwati lainnya bahwa Aby dan dirinya telah bertunangan dan akan menikah jika dirinya telah tamat sekolah nanti," jelas Kamelia membuat Ustadz Gibran geleng-geleng kepala.


"Ada-ada saja itu si Rahma. Ya sudah, kalau begitu, Aby akan menemuinya dulu. Aby pergi dulu ya. Assalamualaikum," pamit Ustadz Gibran mencium kening Kamelia dan juga Malik bergantian.


"Walaikum salam," balas Kamelia melanjutkan menyusui Malik kembali.


Tak lama kemudian......


Tok


Tok


Tok


"Masuk," jawab Ustadz Gibran dingin. Ia tau jika yang datang itu adalah Rahma.


"Assalamualaikum Ustadz," ucap Rahma membuka pintu ruangan Ustadz Gibran lalu menutupnya kembali.


"Walaikum salam Tidak usah di tutup, di buka saja," jawab Ustadz Gibran memerintahkan Rahma kembali membuka pintunya.


"Baik Ustadz," balas Rahma kembali membuka pintu ruangan tersebut.


"Rahma, silahkan duduk," perintah Ustadz Gibran dengan ekspresi datar dan dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2