
"Ah, iya kak?" tanya Selin bangkit dari kasur Clara dan duduk di tepinya.
"Ngapain tidur di situ. Ayo sini tidur sama aku," ucap Leon menarik tangan Selin ke ranjang mereka.
***
*Ta.. Tapi kak, Clara,"ucap Selin terputus.
"Clara kenapa? Bukankah dia sudah tidur dengan nyenyak? Jika kamu takut dia akan jatuh, maka tinggal kasih giling kiri dan kanan seperti ini saja," ucap Leon meletakkan guling di sebelah kiri dan juga kanan Clara.
"Bereskan. Sekarang ayo kita tidur," ucap Leon kembali menarik tangan Selin.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Selin pun akhirnya pasrah saat Leon membawa Selin ke ranjang. Ia kemudian menidurkan tubuh Selin ke ranjang dan disusul oleh Leon sesaat kemudian.
"Kenapa kamu terlalu ketepi? Nanti jatuh loh," ucap Leon menarik Selin untuk lebih dekat dengannya di tengah.
'Kak Leon kenapa ya? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini?' tanya Selin dalam hatinya.
Selin kaget saat Leon mulai mematikan lampu kamarnya, dan menggantinya dengan lampu tidur yang memiliki cahaya remang-remang.
"Selin," panggil Leon lembut. Sedangkan tangannya kini sudah terbentang di perut Selin yang rata itu.
"I.. Iya," jawab Selin gugup.
"Malam ini aku akan meminta hak ku sebagai suami. Dan aku juga akan memberikan hak mu sebagai istri. Jadi, bersiap-siaplah," bisik Leon di telinga Selin sembari tangannya meraba-raba perut istrinya itu.
"Mak.. Maksud kakak?" tanya Selin gugup.
"Maksudku? Apa kamu belum mengerti maksudku hmmm?" tanya Leon lalu membelai wajah Airin lembut.
"Be..Belum kak," jawab Selin mati ketakutan.
"Tak masalah. Kalau begitu kita langsung mulai saja sekarang, agar kamu segera mengerti," ucap Leon langsung menindih tubuh Selin dan menicum bibirnya.
'Apa malam ini kami akan melakukannya?' tanya Selin dalam hatinya.
Sementara itu, ciuman Leon semakin lama panas dan penuh nafsu.
Tangannya mulai menggerayangi seluruh Selin dan berhenti di PYD montok milik Selin. Ia kemudian meremasnya dan mempermainkan ujungnya berwarna coklat pink-pink tersebut.
__ADS_1
"Ahhh," desah Selin saat ia merasakan sensasi nikmat yang di berikan Leon padanya.
Semakin lama Leon semakin bernafsu. Leon yang sudah lama berpuasa, kini seakan-akan melepaskan dahaganya yang sempat ia tahan.
Ia mencicipi dan menjamah tubuh istrinya itu dengan kepandaian yang selama ini ia miliki, kepandaian dalam membuat nikmat perempuan di atas ranjang.
'Maafkan aku Gauri, aku bukannya mengkhianatimu, tapi aku hanya menjalankan amanah mu dan tugasku sebagai seorang suami,' batin Leon di sela-sela permainan ranjangnya.
"Selin kamu siapkah?" tanya Leon dengan syara berat dan mata menatap Selin.
Tak ada jawaban dari wanita cantik itu. Yang ada hanya anggukan lemah diiringi nafas yang sesak sebagai pertanda jika dirinya telah siap untuk memberikan segalanya kepada Leon, mantan kakak ipar yang kini resmi menjadi suaminya.
"Terima kasih," balas Leon lalu kembali menciumi bibit mungil Selin.
Tak butuh waktu lama untuk mantan pemain itu membuka seluruh pakaian Selin. Bahkan, Selin sendiri tidak sadar jika pakaiannya sudah terlepas dan hanya menyisakan CD nya saja.
Tangan kekar Leon yang sedikit lentik itu meremas kuat PYD Selin dan bermain-main dengan ujungnya. Sedangkan yang sebelahnya lagi, Leon mainkan dengan mulut dan lidahnya.
Setelah puas bermain dan melakukan pemanasan, Leon membuka penutup terakhir berwarna merah yang digunakan Selin untuk menutupi V nya.
Karena malu, Selin pun menarik selimut dan menutupinya sembari Leon membuka seluruh pakaiannya.
Tak butuh waktu lama, kini kedua-duanya sudah tidak menggunakan pakaian apa-apapun.
Awalnya Selin tidak mau melepaskannya, namun pada akhirnya, Leon lah yang menarik selimut tersebut hingga semuanya terlihat jelas meskipun remang-remang.
"Begini kan bagus. Aku bisa melihat bentuk tubuh mantan adik ipar ku ya cantik ini," ucap Leon membuat pipi Selin merah merona dan Leon pun kembali dengan tugasnya, yaitu menunaikan kewajibannya memberikan hak Selin sebagai seorang istri.
Beberapa saat kemudian, Leon pun selesai dengan hidangan pembukaannya. Ia kini hendak menyuruh P nya untuk berbuka puasa di V milik Selin.
Leon terus berusaha memasukkan miliknya di V tersebut, namun selalu gagal, gagal, dan gagal.
"Kenapa bisa sesempit ini? Apa kamu tidak memiliki lubang?" tanya Leon kepada istrinya Selin.
"Ma.. Maaf kak. Ini pengalaman pertama bagiku. Mungkin saja karena ini baru pemula," jawab Selin gugup.
"Oh ya? Ini baru yang pertama? Berarti aku beruntung. Baiklah, aku akan mencoba lebih keras lagi, namun agak sedikit pelan," jawab Leon senang dan kembali menancap-nancapkan P nya tersebut.
"Pelan-pelan kak, sakit," lirih Selin dengan air mata yang mulai menitik.
__ADS_1
"Oh, baiklah, maafkan aku," jawab Leon kembali bermain lembut. Namun saat Leon masih berjuang, tiba-tiba Clara bangun dan menangis.
Untung saja lampunya lumayan gelap, jadi putrinya itu tidak melihat apa yang kedua orang tuanya lakukan.
"Aaaaaaa, daddy.. Mommy," tangis Clara memanggil Leon dan juga Selin.
"Astaga, anak itu pakai acara bangun lagi. Gak tau apa dady sedang berjuang untuk memberikannya seorang adik," gumam Leon begitu saja.
Mendengar Leon berkata seperti itu, ada rasa bahagia dan juga malu di diri Selin.
"Hmmmm kak, biar aku saja yang menidurkan Clara kembali. Kakak istirahat saja," ucap Selin mendorong tubuh Leon yang masih mengungkungnya.
"Ah, baiklah," jawab Leon frustasi.
Tak butuh waktu lama, kira-kira lima belas menit kemudian, Clara pun kembali tidur dengan nyenyak setelah ia meminum susu yang di buatkan Selin untuknya.
Selin yang sudah berpakaian lengkap itu, kembali balik ke ranjangnya.
"Kak Leon sudah tidur. Syukurlah," gumam Selin lalu merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya itu. Namun, baru saja ia melepaskan nafas leganya, Leon kembali menarik dan membawa tubuh Selin ke dalam dekapannya.
"Siapa bilang aku sudah tidur hmmm? Kamu belum menunaikan kewajiban mu sebagai istri Selin," ucap Leon membuka seluruh pakaian istrinya kembali.
Selin yang kaget, hanya bisa diam dan menurut di saat Leon melepas seluruh pakaiannya.
Tanpa menunggu waktu lama, ia kembali mencoba menyatukan milik mereka berdua. Namun lagi-lagi ada saja yang mengganggunya. Kali ini bukan berasal dari Clara, namun Gara lah yang sengaja menelpon dirinya.
"Kak itu ponselnya berdering. Angkat saja dulu. Siapa tau penting," ucap Selin dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aaarrrggghhh siapa sih yang menelpon ku malam-malam begini?" umpat Leon meraih ponselnya.
"Gara? Untuk apa anak itu menghubungiku?" tanya Leon pada dirinya sendiri, lalu mengangkat panggilan dari Gara.
"Halo kenapa?" jawab Leon sinis.
"Hei kenapa? Kenapa kamu menjawab telpon ku dengan sinis begitu?" tanya Gara menautkan alisnya.
"Menurutmu kenapa? Apa ada orang menelpon malam-malam begini? Kamu tidak ada kerjaan kah?" jawab Leon kembali bertanya.
"Kenapa sewot sekali? Bukankah aku sering menelpon mu malam-malam begini, dan kamu tidak pernah marah sebelumnya," ucap Gara merasa heran.
__ADS_1
"Itukan sebelumnya. Kamu tau, sekarang aku sudah punya istri dan aku sedang menunaikan kewajiban ku sebagai seorang suami," jawab Leon keceplosan.
"Apa?? Ppfftthhhhhh," jawab Gara menahan tawanya.