Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 146


__ADS_3

"Baiklah, Aby akan mencarikannya untuk mu. Aby yakin, pasti itu kemauan anak kita," jawab Ustadz Gibran mengganti pakaiannya kembali.


"Gak usah by, ini sudah malam. Lebih baik, Aby tidur saja. Kita cari satenya besok saja," jawab Kamelia mencoba mencegah Ustadz Gibran.


***


"Sudah, tidak apa-apa. Ya sudah, Aby berangkat dulu ya," pamit Ustadz Gibran mencium kening Kamelia sekilas.


Beberapa saat kemudian, setelah mencari cukup lama, Ustadz Gibran pun menemukan penjual sate Padang yang di inginkan Kamelia. Seketika Ustadz Gibran menepikan mobilnya. Saat ia sudah turun dari mobilnya, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri Ustadz tampan itu.


"Ayu?" ucap Ustadz Gibran yang ternyata mengenali sosok wanita berhijab syar'i tersebut.


"Ya, ini aku Ayu. Gibran kamu apa kabar?" tanya Ayu yang kelihatan senang sekali saat bertemu dengan Ustadz Gibran.


"Alhamdulillah aku baik. Kamu sendiri bagaimana? Ngapain kamu malam-malam di luaran sini?" tanya Ustadz Gibran kepada teman satu sekolahnya itu.


Ayu dulunya juga bersekolah dan mondok di pondok pesantren milik Kiyai Sodikin. Ia dan Ustadz Gibran dulunya satu kelas dan juga berteman cukup dekat. Sedari dulu, Ayu menyimpan perasaan khusus kepada Ustadz tampan itu, namun sayang, Ustadz Gibran tidak peka dengan perasaan Ayu.


"Aku baik. Hanya saja, aku tidak tau harus pergi kemana," jawab Ayu menundukkan kepalanya.


"Mak.. Maksud kamu gimana?" tanya Ustadz Gibran belum mengerti.


"Maksud aku, aku kabur dari rumah Gib," jawab Ayu membuat Ustadz Gibran benar-benar terkejut.


"Kabur? Tapi kenapa Yu? Kamu itu perempuan, kenapa harus pakai acara kabur-kaburan segala?" tanya Ustadz Gibran yang di salah artikan oleh Ayu. Ayu mengira jika Ustadz Gibran perhatian kepadanya, sehingga membuat Ayu merasa jika Ustadz tampan itu menaruh hati pada dirinya.


"Aku di jodohkan Gib oleh kedua orang tuaku sama laki-laki yang tak ku cintai sama sekali," jawab Ayu tampak terlihat sedih.


"Sabar ya Yu. Aku turut prihatin, tapi alangkah baiknya kamu pulang dan membicarakannya baik-baik kepada kedua orang tuamu. Tidak baik untuk wanita berkeliaran malam-malam seperti ini," ucap Ustadz Gibran menambah keyakinan Ayu jika teman satu sekolahnya itu benar-benar mencintainya.

__ADS_1


"Aku tidak mau Gib. Aku takut di marahi oleh Ayah dan Ibuku," jawab Ayu membuat Ustadz Gibran sedikit pusing.


"Hmmmm, ya sudah, bagaimana kalau aku antar kan kamu pulang menemui kedua orang tua mu," tawar Ustadz Gibran terpaksa mengambil keputusan.


"Benarkah. Aku mau," jawab Ayu terlihat sangat senang.


'Nanti setibanya di rumah, aku akan memperkenalkan Gibran sebagai calon suami ku. Dengan begitu, Ayah sama Ibu pasti tak akan menjodoh-jodohkan aku lagi, selain itu, Gibran pasti senang jika aku menganggap dia sebagai calon suamiku,' batin Ayu terlihat senang.


"Hmmmm, pak, masih di sini kan? Sebentar lagi saya akan ke mari untuk membeli semua sate ampela milik bapak. Bapak tunggu di sini sebentar ya, saya takutnya kedinginan satenya jika saya bawa sekarang," ucap Ustadz Gibran lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Gib, makasih ya kamu sudah mau membantuku," ucap Ayu yang duduk di bangku sebelah kemudi.


"Sama-sama Yu. Oh ya, jendelanya aku buka ya biar gak ada fitnah di antara kita," jawab Ustadz Gibran semakin membuat Ayu simpati pada dirinya.


"Iya. Oh ya Gib, kamu masih mengajar dan tinggal di pondok Kiyai Sodikin?" tanya Ayu yang sudah lama tidak mendengar kabar pujaan hatinya itu.


"Alhamdulillah masih. Kamu sendiri gimana? Kerja di mana?" tanya Gibran sembari fokus mengemudi.


"Ohh," balas Ustadz Gibran singkat, lalu keduanya hanya diam hingga tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Gibran akhirnya tiba di rumah Ayu.


"Ayo Gib," ucap Ayu yang kemudian turun dari mobil milik Gibran.


Beberapa saat kemudian........


"Assalamualaikum pak,Bu," sapa Ustadz Gibran kepada kedua orang tua Ayu.


"Walaikum salam," jawab kedua orang tua Ayu tampak heran karena putrinya di antar oleh laki-laki tampan.


"Hmmmm, Ayah, Ibu, kenalkan ini Gibran teman sekolah Ayu waktu di pondok.

__ADS_1


Gibran ini adalah anak dari Kiyai Sodikin pemilik pondok Yah. Ayah, Ibu, inilah alasan Ayu untuk menolak perjodohan yang Ayah dan Ibu lakukan kepada Ayu. Ayu sudah memiliki kekasih Yah, Bu, dan kekasih Ayu adalah Gibran. Jika Ayah dan Ibu mengizinkan, Gibran akan melamar Ayu secepatnya," ucap Ayu membuat Gibran terkejut.


"Oh ya? Baiklah, Ayah setuju. Kalau begitu kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Ayah Ayu saat mereka semua telah masuk ke dalam rumah.


Mendapat pertanyaan seperti itu, sontak Ustadz Gibran terdiam dan menatap Ayu, namun Ayu sendiri malah tersenyum sembari menundukkan kepalanya.


"Hmmmm, maaf Pak, Bu. Sepertinya bapak dan ibu salah faham di sini. Kami memang satu kelas dulunya, tapi kami baru pertama kali bertemu setelah sekian lama. Dan saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Ayu, apalagi akan menikahinya. Saya mohon maaf sekali, saya tadinya hanya berniat mengantarkan Ayu pulang karena saya menemuinya sedang berkeliaran di luaran. Karena ini sudah malam, saya jadi tidak tega meninggalkannya. Dan satu lagi yang ingin saya sampaikan, di sini saya sudah memiliki seorang istri, dan istri saya ini tengah hamil muda," ucap Ustadz Gibran seketika membuat Ayu tercengang dan kedua orang tua Ayu tampak malu sekali.


"Ja.. Jadi, kamu dan Ayu tidak mempunyai hubungan spesial?" tanya Ayah Ayu berusaha menahan emosinya kepada putrinya itu.


"Tidak sama sekali. Saya hanya mencintai istri saya, dan sampai kapan pun saya hanya akan mencintainya. Maaf Pak, Bu, kalau begitu saya permisi dulu," jawab Ustadz Gibran lalu pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Gibran," teriak Ayu namun ia segera di cegah oleh Ayah dan Ibunya karena Ayu hendak menyusul Gibran.


"Ayu, sekali lagi kamu melangkah, maka kemasi seluruh pakaian mu dari rumah ini," ucap Ayah Ayu emosi.


"Tapi Yah, Ayu mencintai Gibran. Ayu mau menikah dengan Gibran Yah, tak jadi masalah bagi Ayu untuk di jadikan istri ke dua," jawab Ayu menggebu-gebu.


"Gak bisa. Gibran itu sangat mencintai istrinya. Ia tidak akan mau meninggalkan istrinya itu," ucap Ayah Ayu menyeret putrinya itu ke kamar.


"Bisa-bisanya dia mengaku jika aku adalah calon suaminya," gumam Ustadz Gibran sembari menyetir mobilnya.


.


.


"Kenapa lama sekali By?" tanya Kamelia saat melihat suaminya itu yang baru saja tiba di rumah.


"Iya, maafkan Aby ya sayang. Tadi ada insiden sedikit. Ini satenya kamu habiskan ya," jawab Ustadz Gibran mengusap perut raya Kamelia.

__ADS_1


"Makasih By. Oh ya, tadi Aby bilang ada insiden. Insiden apa by?" tanya Kamelia penasaran.


__ADS_2