Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 83


__ADS_3

"Haha.. Kamu lapar? Sebentar, Abang akan suruh supir untuk membeli makanan untukmu," jawab Paman Sam lalu menelpon supir pribadinya tadi.


***


Kurang lebih satu jam kemudian, Kamelia pun selesai mengisi perutnya. Ia kemudian membersihkan sisa-sisa makanannya lalu duduk sebentar di ruang keluarga sembari menonton serial tv.


"Sayang, kamu sudah selesai makannya?" tanya Paman Sam yang baru saja selesai mandi.


"Sudah bang. Abang sudah mandi?" tanya Kamelia yang tetap fokus sama siaran tv nya.


"Sudah. Kalau begitu, kita ke kamar yuk, Abang sudah kangen ini," jawab Paman Sam yang sudah duduk di sebelah Kamelia.


"Yah, bentar lagi ya bang. Nanggung ini ceritanya," jawab Kamelia keberatan.


"Memang kamu nonton apaan sih hmmm?" tanya Paman Sam membawa Kamelia ke dalam pelukannya.


"Ini, drama Korea kesukaan aku. Sedih tau ceritanya," jawab Kamelia menunjuk ke arah tv.


"Haha.. Sedih dari mana sih? Jelas-jelas itu orang nya lagi ciuman mesra, malah di bilang sedih," ucap Paman Sam tertawa.


"Iiiihhh, Abang ini lihatnya bagian itu saja. Coba nonton dari awal," protes Kamelia memanyunkan bibirnya.


"Haha.. Baik.. Baik.. Sekarang kita simpan dulu ya siarannya. Besok Abang akan temani kamu menonton seharian," ucap Paman Sam mematikan tv nya, lalu menggendong Kamelia menuju kamarnya.


"Ihh Abang lepasin," rengek Kamelia namun tak dihiraukan oleh Paman Sam.


Setibanya di kamar, Paman Sam langsung menjatuhkan tubuh istri simpanannya itu ke atas ranjang berukuran king size.


Karena sudah menahan cukup lama, Paman Sam yang sudah terlalu nafsu itu langsung menghujani Kamelia dengan ciuman-ciuman buasnya. Tak lupa tangannya dengan lincah bermain di semua bagian tubuh Kamelia.


Kamelia benar-benar dibuat kewalahan namun terbuai akan sentuhan demi sentuhan Paman Sam.


"Sayang, Abang buka ya," ucap Paman Sam meminta izin Kamelia untuk membuka seluruh pakaiannya.


Kamelia tidak menjawab sama sekali. Gadis yang baru akan beranjak dewasa itu hanya mengangguk dengan dada kembang kempis dan nafas yang tersengal-sengal.


Perlahan tapi pasti, akhirnya Kamelia dan Paman Sam benar-benar sudah tidak mengenakan apa-apapun di tubuh mereka.

__ADS_1


Kehangatan semakin menjalar di seluruh tubuh mereka.


Puas dengan pemanasan yang mereka lakukan, Paman Sam langsung menghunus P nya yang sudah mengeras ke V Kamelia.


Kamelia begitu terbuai akan surga duniawi yang di terimanya.


Nafkah batin yang diberikan Paman Sam benar-benar membuat Kamelia merasa puas.


Kamar yang semulanya tertata rapi, kini berantakan sudah akibat dua insan yang berbagi peluh tersebut.


Seprai dan bantal yang semula berada di tempatnya, kini telah berserakan entah kemana.


Tak hanya itu, Sofa dan meja juga ikut menjadi alas untuk mereka melakukan peraduan. Untung saja setiap ruangan di rumah mewah itu kedap suara, sehingga Kamelia bisa mendesah sekeras apapun yang dia mau.


Malam yang turun hujan membuat permainan mereka semakin intim dan sempurna.


Tak terasa dua jam lebih Paman Sam menjamah tubuh istri simpanannya itu. Laki-laki tua itu benar-benar merasakan nikmat yang di suguhkan oleh tubuh muda Kamelia.


Melihat Kamelia sudah mulai kalah dalam permainan panas ini, Paman Sam pun akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan cairannya di dalam rahim Kamelia.


Setelah melakukan pelepasan bersamaan, Kamelia dan Paman Sam pun memilih untuk istirahat sejenak sebelum mereka memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi.


"Kamelia?" panggil Paman Sam dengan nafas yang masih belum teratur.


"Hmmmm?" jawab Kamelia tanpa menatap suaminya itu.


"Apa yang akan kamu lakukan, jika suatu hari nanti kamu hamil anak Abang?" tanya Paman Sam sembari mengelus kepala Kamelia.


"Abang maunya gimana?" jawab Kamelia balik bertanya.


"Abang ini sudah tua. Tapi Abang baru mempunyai satu anak laki-lakim Itupun dia baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Kalau Abang sih maunya memiliki banyak anak untuk menemani hari-hari tua Abang," jawab Paman Sam lalu memperat pelukannya kepada Kamelia.


"Baiklah kalau itu mau Abang. Jika nanti aku di beri kesempatan untuk hamil, aku tidak akan menggugurkannya. Aku akan membiarkan dia tumbuh menjadi bayi dan melahirkannya sebagai anak untuk Abang dan juga untukku," jawab Kamelia menatap suami tercintanya.


"Kamelia, kamu.. Kamu tidak becanda?" tanya Paman Sam tidak percaya.


"Tidak. Aku tidak becanda. Aku akan mengandung dan melahirkan banyak anak untuk Abang," jawab Kamelia yakin.

__ADS_1


"Lalu.. Lalu bagaiman dengan sekolahmu? Dan bagaimana dengan Ibumu?" tanya Paman Sam dengan mata berkaca-kaca.


"Jika sudah menjadi seorang istri, maka istri harus bisa membuat suaminya bahagia. Itulah yang saat ini aku lakukan. Abang sudah memenuhi kewajiban Abang dengan memberikan nafkah lahir dan juga batin yang berlebih untukku. Maka dari itu, tidak ada alasan bagiku untuk membuat Abang bahagia," jelas Kamelia membuat Paman Sam semakin jatuh cinta kepadanya.


"Baiklah, kalau begitu, Abang akan menabung banyak di dalam rahimmu, agar kamu bisa melahirkan banyak anak untuk Abang," ucap Paman Sam lalu kembali mengajak Kamelia untuk memadu kasih menuju nikmatnya surga duniawi.


.


.


"Oh, terus Yuta. Lakukan lebih dalam lagi," oceh Liona berada di bawah kungkungan tubuh kekar Yuta.


Liona langsung memutuskan untuk menghubungi Yuta untuk berbagi peluh sesaat Paman Sam meninggalkan rumah untuk bekerja ke luar kota.


Dengan senang hati, Yuta pun langsung mengiyakan ajakan Liona yang memberikan layanan secara gratis untuknya.


Sedangkan di rumah sakit, Lyra semakin giat untuk melatih kaki-kakinya yang lama lumpuh.


Lyra begitu bersemangat dalam latihan kali ini. Semua itu ia lakukan agar dirinya bisa bertemu dengan putranya secepat mungkin.


Benar saja. Kini Lyra sudah mampu berjalan tanpa menggunakan tongkat, hanya saja langkahnya masih terseok-seok sedikit.


"Lyra, sebentar lagi kamu akan mampu berjalan seperti biasa. Aku merasa senang melihat perubahan yang drastis pada dirimu," puji dokter Dimas yang selalu setia mendampingi Lyra.


.


.


"Boy, apa yang kamu katakan itu benar? Apa benar Dimas menyukai pasiennya yang baru saja melahirkan?" tanya Ibu Aisyah kepada adik laki-lakinya itu.


"Benar kak. Wanita itu sengaja di buat lumpuh oleh adik dan suaminya. Maksudku mantan suaminya," jawab Boy kepada kakak tertuanya itu.


"Kenapa seperti itu?" tanya Ibu Aisyah heran.


"Karena adik kandung pasien Dimas ini merebut suami kakak kandungnya. Ia takut jika kakaknya ini akan pulih saat kecelakaan, maka dari itu, ia sengaja memberi obat agar kakaknya ini jadi lumpuh dan mengambil bayi yang baru di lahir kan oleh kakaknya ini," jawab Boy menceritakan kejadiannya.


"Jahat sekali mereka. Lalu, bagaimana menurutmu wanita yang di sukai keponakanmu itu? Apakah dia baik atau gimana?" tanya Ibu Aisyah masih penasaran tentang Lyra.

__ADS_1


"Dia baik. Bahkan baik sekali. Andai saja keponakanku itu tidak memiliki rasa kepada wanita itu, maka aku akan maju untuk memperjuangkannya," jawab Boy menarik nafas kasar.


"Kakak jadi penasaran dengan wanita itu. Besok kakak akan mengunjungi wanita itu secara langsung," ujar Ibu Aisyah kemudian meninggalkan Boy yang tengah menonton di ruang keluarga rumah orang tua dokter Dimas.


__ADS_2