Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 163


__ADS_3

"Saya Sodikin. Orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Kiyai Sodikin. Maafkan saya, saya tidak tau jika sebelumnya Aluna memiliki kakak di Jakarta," jawab Kiyai Sodikin juga memperkenalkan dirinya kepada Lyra.


***


"Ah, tidak apa-apa Kiyai. Oh ya, kalau boleh saya tau, kenapa mba Yuni juga ada disini ya? Apa mba dan Liona sudah saling kenal?" tanya Lyra yang sedari tadi sudah penasaran karena adanha Yuni di sana.


"Hmmmn, kami memang sudah saling kenal selama beberapa bulan ini mba Lyra. Kebetulan, waktu itu saya menemukan Liona pingsan di jalanan, dan saya kemudian memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah saya. Dan sejak itulah, kami mulai dekat hingga Liona memutuskan untuk mondok di pesantren Kiyai Sodikin dan menikah beberapa hari yang lalu," jawab Yuni menjawab pertanyaan Lyra.


"Lalu, apa.. Apa.. Mba sudah tau jika Liona itu...," tanya Lyra terputus.


"Sudah mba. Saya sudah tau kemaren. Tapi kami menganggap itu semua hanya masa lalu. Tidak baik untuk di ingat-ingat lagi," sela Yuni sembari menggenggam tangan Liona.


"Baguslah. Kalau begitu. Oh ya Liona, apa kamu sudah siap kembali lagi ke sel tahanan?" tanya Lyra menatap wajah adiknya yang semakin cantik karena memakai hijab syar'i tersebut.


"InsyaAllah aku siap kak. Mohon doa dan dukungannya ya kak," jawab Liona memeluk Lyra.


"Tentu dek. Tentu. Kakak pasti akan mendoakan dan mendukung kamu sayang," Lyra kembali memeluk Liona erat.


"Abah, maafkan aku ya. Maafkan aku," tangis Liona pecah saat ia berpindah memeluk suami yang baru beberapa hari ia nikahi itu.


"Sudah.. Sudah.. Abah sudah memaafkan kamu. Kamu tenang saja. Abah pasti akan menunggumu hingga bebas nanti," ucap Kiyai Sodikin mengusap punggung Liona.


"Terima kasih Bah. Terima kasih," balas Liona kemudian melepaskan pelukannya dan berpindah memeluk Yuni.


"Maafkan aku ya mba. Aku udah bohongin mba selama ini. Berkat mba lah aku bisa menjadi manusia hang lebih baik lagi. Jangan pernah membenciku dengan semua masa laluku mba. Sampaikan juga salamku untuk Kamelia dan juga Gibran ya mba," ucap Liona memeluk erat Yuni.


"Mba sudah memaafkan kamu Liona. Kamu yang kuat ya. Nanti mba akan sering-sering untuk mengunjungi mu kesini. Nanti mba juga akan menyampaikan salam mu kepada Kamelia dan juga Gibran. Sehat-sehat ya," balas Yuni mengusap punggung Liona.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Liona pun meminta untuk di kembalikan ke sel tahanan. Tangis haru menyilimuti masing-masing m


pasang mata keluarga Liona. Mereka tak menyangka jika Liona akan kembali dan menjalani hukumannya yang tinggal satu tahun setengah lagi.


Sementara Liona sudah kembali ke sel tahanannya, Leon dan Selin saat ini tengah berada di rumah sakit bersalin. Leon tengah menemani Selin yang saat ini sedang mengalami kontraksi.


Dari kemaren sore Selin merasakan sakit-sakit pada perutnya hingga mereka memutuskan untuk ke dokter kandungan saat itu juga. Alhasil, dokter mengatakan jika Selin telah tiba di pembukaan tiga menuju empat.


"Sayang, sesakit itukah rasanya?" tanya Leon menatap Selin dengan tatapan iba.


"Iya kak. Sakit sekali," jawab Selin dengan keringat yang sudah bercucuran.


"Selin maafkan aku ya. Gara-gara juniorku, kamu jadi merasakan rasa sakit seperti ini," ucap Leon membuat Selin mengerutkan kening nya. Terkadang ia tak habis pikir dengan suaminya itu. Bisa-bisanya Leon kepikiran untuk berkata itu di saat-saat seperti ini dengan raut wajah polosnya.


"Apaan sih kak," balas Selin di sela-sela rasa sakitnya.


"Halo Gara, kenapa?" tanya Leon setelah panggilan telepon mereka terhubung satu sama lain.


"Iya halo. Kenapa kamu bilang, kamu gak liat ini udah jam berapa? Kamu gak kerja apa? Bukannya masa cuti kamu udah berakhir hari ini?" protes Gara membuat telinga Leon pekak.


"Yaelah. Santai dikit kenapa sih Gar. Bukannya aku mau nambah masa libur. Ini dari kemaren sore aku lagi berada di rumah sakit bersalin. Selin udah kontraksi mau melahirkan soalnya. Kayaknya, aku mau memperpanjang masa cuti deh. Boleh ya Gara," jawab Leon membujuk sahabatnya itu.


"Apa? Selin melahirkan gitu? Kenapa kamu gak bilang sih? Terus anaknya laki apa perempuan?" tanya Gara salah tanggap.


"Kamu gila ya. Aku bilang, Selin lagi kontraksi mau melahirkan. Bukannya sudah melahirkan. Kenapa bisa sih orang bodoh kayak kamu ini bisa jadi CEO," ledek Leon membuat Gara kesal.


"Kamu bilang aku bodoh? Terus kamu apa? Oon?" balas Gara tak terima dikatakan bodoh oleh Leon.

__ADS_1


"Kamu yang oon. Udah oon, bodoh, susis lagi. Haha," balas Leon tertawa karena puas meledek temannya itu.


"Susis apaan?" tanya Gara yang tidak tau artinya.


"Cari gugel," jawab Leon masih tertawa.


"Awas ya kamu," ucap Gara lalu mematikan panggilan teleponnya.


"Bisa gak sih kakak gak adu mulut dengan kak Gara? Brisik tau," protes Selin yang saat ini tengah sensitif sekali.


"Brisik ya.. Ma.. Maafkan kakak ya sayang," ucap Leon kembali mengusap punggung Selin.


Sementara di kantor, Gara yang penasaran dengan kata-kata Leon tadi, kembali membuka ponselnya dan mencari kata yang di sebutkan oleh Leon padanya tadi.


"Jadi penasaran aku. Bisa-bisanya ya si Leon punya bahasa unik kayak gitu. Mayan, bisa buat nambah pengetahuan," gumam Gara sembari mengetik kata-kata tersebut.


"Sialan si Leon. Ini mah ngeledek abis. Masak aku dikatakan suami takut istri," umpat Gara setelah menemukan arti kata susis tersebut.


"Tapi ada benarnya juga sih si Leon. Gimana gak takut coba, kalo Airin pergi gimana? Bisa gila aku," tambahnya lagi.


Beberapa jam kemudian, Gara pun tiba di rumah di saat matahari sudah tenggelam. Ia begitu lelah sekali hari ini karena Leon tidak masuk dan asisten pengganti Leon juga mengambil cuti untuk pulang ke kampung halamannya.


Setibanya di rumah, lelah Gara seakan hilang saat melihat Airin dan juga anak-anak kembarnya yang tumbuh semakin cepat seiring berjalannya waktu.


'Aku gak nyangka jika kehidupanku akan berubah seperti ini. Kamu benar-benar telah merubah segalanya Airin. Kamu berhasil membuatku keluar dari kehidupan kelam ku selama ini,' batin Gara sembari mengingat masa dimana ia membeli kesucian Airin pada malam itu.


Semenjak Airin mengembalikan hampir separuh dari uang yang di berikan Gara pada malam itu, di saat itulah Gara mulai kagum dengan sosok wanita yang bernama Airin itu. Di tambah lagi dengan tujuan Airin menjual kesuciannya untuk biaya berobat sang ayah. Tidak pernah Gara menemukan wanita seperti Airin selama masa hidupnya. Jadi, sangat wajar sekali jika Gara benar-benar takut kepada Airin. Takut kehilangan wanita langka seperti istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2