
"Kakak jadi penasaran dengan wanita itu. Besok kakak akan mengunjungi wanita itu secara langsung," ujar Ibu Aisyah kemudian meninggalkan Boy yang tengah menonton di ruang keluarga rumah orang tua dokter Dimas.
***
Keesokan harinya, Ibu Aisyah benar-benar mendatangi rumah sakit dimana putranya bekerja.
Wanita cantik berhijab syar'i itu terlebih dahulu menemui putranya yang jarang pulang ke rumah semenjak beberapa hari terakhir ini.
"Bunda? Kenapa Bunda ada di sini?" tanya Dimas kaget.
"Kenapa? Kamu kaget? Kemana saja anak Bunda ini, sudah beberapa hari kamu tidak pulang ke rumah," tanya Ibu Aisyah yang langsung masuk ke ruangan putranya itu.
"Ini Bunda, aku sibuk sekali beberapa hari ini," jawab Dimas menggaruk kepalanya.
"Sibuk? Sibuk mengurusi wanita beranak satu itu?" tanya Ibu Aisyah membuat Dimas kaget.
"Bunda.. Bunda tau darimana?" tanya Dimas salah tingkah.
"Tidak perlu Bunda tau dari mana. Sekarang tunjukan Bunda dimana ruangannya. Bunda akan menemui wanita itu secara langsung," ucap Ibu Aisyah membuat Dimas membelalakkan matanya.
"Tapi Bunda, untuk apa?" tanya Dimas penasaran.
"Ya Bunda mau tau, wanita seperti apa yang telah berhasil membuat anak Bunda tidak pulang-pulang beberapa hari ini," ucap Ibu Aisyah membuat Dimas tidak berdaya.
"Baiklah, tapi Bunda tidak ikut masuk ke dalam. Dan satu lagi, Bunda janji jangan bikin keributan di dalam sana," jawab Dimas akhirnya mengalah.
Setelah Dimas dan Bundanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mereka akhirnya tiba di ruangan Lyra berada.
'Ruangan VVIP, oke, boleh juga,' batin Ibu Aisyah setibanya di depan pintu ruang rawat Lyra.
__ADS_1
"Bunda, Dimas antar sampai sini saja ya. Sebentar lagi Dimas mau ada praktek," ucap Dimas yang sebenarnya ragu untuk membiarkan ibunya menemui Lyra sendirian. Ia takut, jika mulut Ibunya yang pedas itu akan membuat Lyra sakit hati.
"Baiklah, terima kasih telah mengantar Bunda," jawab Ibu Aisyah tersenyum.
"Ingat ya Bunda, jangan cari masalah. Kasihan pasien Dimas," ucap Dimas kembali mengingatkan Bundanya.
"Iya, bawel," jawab Ibu Aisyah lalu masuk tanpa mengetuk pintu ruang rawat Lyra terlebih dahulu.
Sesaat setelah Ibu Aisyah masuk ke dalam ruangan Lyra, kebetulan saat itu Lyra tengah berlatih berjalan sendirian.
Sesaat Lyra kaget dengan kedatangan Ibu Aisyah dan ia pun goyah hingga akhirnya hampir terjatuh ke lantai. Untung saja, Ibu Aisyah segera menangkap dan menahan tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ibu Aisyah yang masih belum melihat wajah Lyra.
"Maaf Bu, saya.. Saya tidak apa-apa. Sekali lagi maafkan saya," jawab Lyra berusaha menenangkan tubuhnya yang gemetaran.
"Kamu... Kamu Lyra?" ucap Ibu Aisyah kaget saat melihat wajah Lyra.
"Oh Lyra, kamu benar-benar melupakan saya?" tanya Ibu Aisyah dengan mata uang berkaca-kaca.
"Maaf Bu, saya benar-benar tidak ingat jika kita saling mengenal sebelumnya," jawab Lyra yang betul-betul lupa dengan wanita cantik paruh baya di hadapannya.
"Baiklah jika kamu sudah lupa dengan saya, saya akan mengingatkanmu sekali lagi, ini saya Ibu Aisyah. Ibu-ibu yang kamu selamatkan dalam kebakaran rumah lima tahun yang lalu. Apa kamu ingat sekarang Lyra?" ucap Ibu Aisyah membuat Lyra ingat kejadian lima tahun lalu. Dimana saat itu, Lyra yang kebetulan pulang dari super market melihat rumah yang kebakaran. Ia kemudian mendekati rumah tersebut, dimana di sana sudah banyak orang yang melihat, namun belum ada tanda-tanda datangnya pemadam kebakaran. Saat Lyra hendak pergi, ia mendengar percakapan beberapa orang yang mengatakan jika pemadam nya terjebak macet dan akan telat untuk ke lokasi. Tak hanya itu, Lyra juga mendengar jika ada seorang Ibu-ibu yang terjebak di dalam rumah mewah itu.
Lyra yang tak sampai hati mendengarkannya, kemudian memilih untuk masuk dan menyelamatkan Ibu-ibu tersebut.
Awalnya beberapa orang sempat melarangnya, namun karena kemauan yang kuat, Lyra akhirnya nekat mempertaruhkan nyawanya menyelamatkan Ibu-ibu tersebut.
Beberapa menit kemudian, Lyra yang mulai kehabisan tenaga pun berhasil membawa Ibu tersebut keluar dari rumah mewah yang hampir habis terbakar.
__ADS_1
Ia segera di bawa oleh ambulan menuju rumah sakit terdekat untuk diberi pertolongan.
Saat Lyra sudah merasa baikan, ia kemudian menemui Ibu-ibu yang ia selamatkan tadi hanya sekedar untuk mengetahui keadaannya dan di saat itulah mereka berkenalan.
Saat Ibu tersebut sudah keluar dari rumah sakit, ia yang sudah mengetahui nama Lyra pun berusaha mencari keberadaanya. Namun sayang hasilnya sia-sia.
Namun kini, wanita yang ia cari selama ini, ternyata berada di hadapannya.
"Ibu.. Ibu Aisyah?" tanya Lyra memastikannya.
"Iya, ini saya Ibu Aisyah. baguslah jika kamu sudah ingat," jawab Ibu Aisyah sangat senang.
"Maafkan saya Bu, saya benar lupa. Dulu setau saya, Ibu tidak menggunakan hijab," jawab Lyra mengingat kembali kejadian lima tahun lalu.
"Iya Lyra, dulu saya memang tidak berhijab, tapi sekarang sudah. Bagaimana kabarmu?" ucap Ibu Aisyah kembali bertanya.
"Saya baik Bu, kenapa Ibu bisa berada di sini?" tanya Lyra yang kini sudah duduk di ranjang rumah sakitnya.
"Oh iya, saya sampai lupa. Saya memang sengaja berada di sini untuk menemui mu. Karena waktu itu kita belum sempat berkenalan, sekarang saya akan memperkenalkan diri saya. Eekkhheemmm, kenalkan, nama saya Ibu Aisyah, saya ini adalah Ibu kandung dari dokter Dimas. Apa kamu mengenal anak saya?" ucap Ibu Aisyah membuat Lyra terkejut.
"Dok.. Dokter Dimas? Saya.. Saya mengenalnya. Beliau adalah dokter yang menangani saya. Maaf kalau saya boleh tau, ada keperluan apa ya Ibu menemui saya?" tanya Lyra penasaran.
"Begini Lyra, awalnya saya merasa cemas dengan anak saya Dimas yang jarang pulang akhir-akhir ini. Setelah ada yang mengatakan jika dia tengah dekat dengan seorang wanita yang di rawat di rumah sakit ini, saya pun memutuskan untuk menemui wanita yang telah berhasil mencuri hati anak saya itu. Setibanya saya disini, saya pun terkejut saat mengetahui jika wanita itu adalah kamu. Gadis pemberani yang telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan saya lima tahun lalu," jelas Ibu Aisyah mengusap kepala Lyra.
"Maafkan saya Bu, saya tidak bermaksud untuk mencuri hati dokter Dimas, hanya saja dokter Dimas yang memaksakan dirinya untuk tinggal di rumah sakit ini lebih lama. Saya mohon maafkan saya Bu," jawab Lyra merasa bersalah.
"Kamu bicara apa Lyra. Tak perlu minta maaf. Saya senang jika anak saya benar-benar jatuh hati pada wanita baik hati seperti mu," jawab Ibu Aisyah menatap Lyra.
"Maaf Bu, tapi dokter Dimas tidak pantas untuk saya," balas Lyra menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Anak saya kurang apa Lyra?" tanya Ibu Aisyah merasa heran.
"Karena saya sudah memiliki satu anak Bu, selain itu saya juga lumpuh. Alangkah tidak pantas jika dokter Dimas bersama saya. Lebih banyak wanita di luaran sana yang lebih pantas dari saya," ucap Lyra merendah.