Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 87


__ADS_3

"Lalu, kenapa tuan menghidupkan kompornya jika sudah tau gasnya bocor?" tanya ART tersebut heran.


"Ya, saya hanya memastikan jika tabung gasnya benar-benar bocor," jawab Gara membuat ART itu geleng-geleng kepala.


***


'Untung saja majikan, kalau tidak sudah saya ulek kepalanya menggunakan cobek,' batin ART tersebut.


"Maaf tuan, jika tabungnya bau, sudah pasti itu bocor. Kalau tadi tuan menghidupkan kompornya, maka akan dipastikan tuan akan berakhir di rumah sakit," jelas ART tersebut.


"Untung saja kamu datang. Kalau tidak, kasihan istri saya. Pasti dia sangat sedih kalo suami tercintanya ini dirawat di rumah sakit," ucap Gara kepedean.


Mendengar si kembar menangis, Gara segera berlalu menuju kamar bayinya.


"Ulu..Ulu.. sayang, anak Daddy kenapa menangis?" ucap Gara berusaha mendiamkan ketiga bayinya.


"Si kembar kenapa Mas?" tanya Airin yang baru saja tiba di kamar bayinya.


"Aku tidak tau sayang. Saat aku masuk, mereka sudah menangis," jawab Gara pada sang istri.


Airin pun mencoba melihat bayinya satu persatu, dan beberapa saat kemudian ia tau penyebab bayi-bayinya menangis.


"Si kembar popoknya sudah penuh mas. Kamu bantuin aku gantiin nya ya," ucap Airin.


"Oke, tak masalah. Ayo sayang, ganti popok dulu ya sama Daddy," ucap Gara kepada salah satu bayi laki-lakinya.


Saat Gara telah membuka celana dan popok anaknya, seketika itu juga bayi laki-laki tersebut kencing dan tepat mengenai wajah Gara.


"Astaga boy," ucap Gara mengusap wajahnya.


"Hahaha.. Ya ampun, kasihan sekali kamu mas," tawa Airin pecah saat melihat wajah Gara yang penuh dengan air kencing anaknya.


"Jangan ketawa, ambilin tisu dong," ucap Gara dengan mata terpejam.


"Haha, iya-iya, bentar aku ambilin dulu," jawab Airin lalu mengambil tisu di atas meja dan memberikannya kepada Gara.


Setelah semua popok bayi selesai di ganti, Gara kemudian teringat bahwa ia telah memasang cctv di dapur rumahnya.

__ADS_1


"Sayang, aku tinggal ke dapur sebentar ya," pamit Gara lalu meninggalkan Airin dengan bayi-bayinya.


Gara kemudian kembali ke dapur dan melihat cctv yang ia letakkan di dalam lemari menghadap ke luar.


Tak hanya di dalam lemari, Gara juga mengecek cctv yang ia letakkan di tempat tersembunyi di dapur rumah tersebut.


"Iya kan benar, aku memasang beberapa cctv waktu itu. Kenapa aku bisa lupa begini ya?" gumam Gara kemudian meninggalkan dapur dan pergi ke ruang kerjanya.


Setibanya di ruang kantor, Gara kemudian membuka laptopnya dan mulai membuka rekaman cctv yang ia pasang di dapur.


Di sana jelas terlihat jika Budi, pengawal yang menjadi orang suruhan Liona yang menyebabkan tabung gas tersebut bocor.


"Semoga saja ini bisa menjadi bukti untuk menangkap pengawal sialan itu," ucap Gara kemudian menyalin bukti rekaman tersebut ke ponselnya.


Gara kemudian bangkit dan segera pergi menemui polisi untuk memberikan bukti kejahatan pengawalnya itu.


"Selamat sore pak. Saya kesini mau kasih bapak unjuk sebuah rekaman cctv. Siapa tau dengan rekaman ini bisa membawa pengawal saya yang bernama Budi itu," ucap Gara merogoh sakunya.


"Baik, bisa kami lihat pak?" tanya polisi tersebut.


"Bisa, ini pak. Ini kejadiannya baru tadi siang, saat saya baru pulang dari kantor ini," jelas Gara menunjukkan video yang ada di ponselnya.


"Baik, ini sudah cukup untuk kita jadikan sebagai bukti. Kami akan segera membuat surat penjemputan nya dan langsung bergerak ke lokasi untuk membawa saudara Budi," jawab polisi tersebut.


"Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Ini ada flash disk yabg berisi rekaman cctv nya," Gara memberikan sebuah flash disk biru kepada pihak kepolisian tersebut.


"Baik, terima kasih," jawab polisi mengambilnya.


Gara pun segera pergi meninggalkan kantor polisi tersebut. Saat ia akan melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Di lain tempat, Paman Sam masih betah berlama-lama tiduran di sebelah istri keduanya Kamelia.


Ia enggan untuk beranjak walau hanya sesaat. Begitu juga Kamelia. Wanita muda itu terus saja memeluk tubuh kekar suaminya.


"Sayang, kamu tidak lapar?" tanya Paman Sam mencium pucuk kepala sang istri.


"Enggak. Abang lapar kah?" jawab Kamelia kembali bertanya.

__ADS_1


"Lapar, tapi Abang malas untuk beranjak dari sisimu sayang," jawab Paman Sam.


"Aku juga malas untuk beranjak. Tapi Abang harus makan dulu. Biar nanti tenaganya pulih kembali," balas Kamelia mengusap lembut wajah Paman Sam.


"Kamu benar. Kalau begitu Abang akan telpon supir untuk membeli makanan di luar," ucap Paman Sam mengambil ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Sayang, jika kamu tamat sekolah nanti, ikutlah bersama Abang ke Jakarta. Abang akan membelikan mu rumah di sana. Dengan begitu, kita bisa bertemu lebih sering," ucap Paman Sam mengusap kepala sang istri.


"Aku mau saja Bang, tapi bagaimana dengan Ibu?" tanya Kamelia yang teringat dengan Ibunya.


"Bawa saja Ibumu sekalian. Nanti jika kamu sudah tamat sekolah, Abang akan menemui Ibumu dan mengatakan hal yang sebenarnya," jawab Paman Sam.


"Tapi bagaimana jika Ibu tidak bisa menerimanya?" tanya Kamelia sedikit khawatir.


"Kamu kan anak satu-satunya. Abang yakin Ibumu pasti akan merestui kita," jawab Paman Sam.


"Oh ya sayang, ngomong-ngomong, Abang belum pernah melihat foto Ibumu. Apa Abang boleh melihat foto mertua Abang. Bukan apa-apa, siapa tau suatu hari nanti, Abang tidak sengaja bertemu dengannya di jalan atau di tempat lain tanpa sengaja," tambah Paman Sam sembari tangannya bermain-main di PYD Kamelia.


"Hmmm, boleh. Sebentar ya bang, Kamelia ambil ponsel dulu," jawab Kamelia meraih ponselnya dari atas nakas samping tempat tidur.


"Sebentar ya bang, Kamelia cari dulu," ucap Kamelia mengutak-atik ponselnya.


Sembari menunggu Kamelia yang mencari foto Ibunya, Paman Sam kembali bermain dengan PYD dan bagian tubuh Kamelia lainnya. Laki-laki paruh baya itu selalu saja terbuai oleh tubuh sang istri.


"Ahh, geli bang. Bisa tenang dulu gak. Alu jadi gak konsen mencarinya," ucap Kamelia sembari memeriksa koleksi fotonya yang sudah sangat banyak.


"Maaf sayang, habis, tubuh kamu ini selalu bikin Abang ketagihan. Kamu fokus saja mencari fotonya, Abang gak apa-apain kamu kok," jawab Paman Sam menjilati ujung PYD Kamelia.


"Ouuuhhhh," desah Kamelia di sela-sela tangannya yang terus memainkan ponselnya.


Perempuan yang berstatus sebagai pelajar dan istri simpanan itu mulai terbawa oleh suasana permainan Paman Sam.


"Bang, ini dia foto Ibuku," ucap Kamelia yang telah berhasil menemukan foto Ibunya.


Saat Paman Sam mengangkat kepalanya dari PYD Kamelia, ponsel wanita cantik itu mati karena kehabisan baterai.


"Yah, matikan. Abang sih lama banget," ucap Kamelia menyalahkan suaminya.

__ADS_1


"Ya maafkan Abang sayang. Habis nanggung. Ya sudah, kapan-kapan saja Abang melihat foto Ibumu. Sekarang, sembari menunggu makanan, Abang mau meminta hak Abang lagi sebagai suami," ujar Paman Sam langsung menenggelamkan kepalanya kembali di PYD Kamelia.


__ADS_2