
Ustadz Gibran dan juga Kamelia saling pandang satu sama lainnya. Begitu juga dengan Kiyai Sodikin.
"Abah setuju. Cuma itu jalan satu-satunya. Kalian harus bersabar hingga Kamelia menamatkan pendidikannya," ucap Kiyai Sodikin beberapa saat kemudian.
***
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan Abah, aku akan menerimanya. Aku akan coba bersabar hingga Kamelia menamatkan pendidikannya," jawab Ustadz Gibran pasrah.
"Alhamdulillah, kalau kamu bagaimana Kamelia." tanya Kiyai Sodikin menatap Kamelia yang terus saja menunduk.
"Saya setuju Bah. Apapun keputusannya, asalkan itu yang terbaik, saya setuju," jawab Kamelia masih dengan kepala yang tertunduk.
"Baiklah, Alhamdulillah. Sekarang silahkan kamu kembali ke ruangan mu. Dan Kamelia, silahkan bersiap-siap untuk pengajian sore ini," perintah Kiyai Sodikin.
"Baiklah Bah," jawab Kamelia dan juga Ustadz Gibran berbarengan.
Setelah kedua insan itu pergi.........
"Bagaimana Ibu Yuni? Apakah sudah ada perubahan pada Kamelia?" tanya Kiyai Sodikin kepada Ibu Yuni.
"Alhamdulillah sudah ada Kiyai. Kamelia jauh lebih segar dan ceria. Dia juga sering senyum selama berada di rumah. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih kepada Kiyai dan juga Ustadz Gibran," jawab Ibu Yuni tampak senang sekali.
"Semua sudah ada jalannya Bu. InsyaAllah, itu sudah menjadi jalan hidupnya Kamelia. Orang baik, pasti akan berjodoh dengan orang baik. Begitu juga dengan sebaliknya," jawab Kiyai Sodikin membuat Ibu Yuni hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
"Baiklah Kiyai, kalau begitu saya permisi pulang dulu. Titip Kamelia ya Kiyai. Ajari dia jika dirinya salah," pamit Ibu Yuni kepada Kiyai Sodikin.
"Baiklah Bu, tenang saja. Kamelia itu menantu saya. Saya akan menjaganya dengan baik," jawab Kiyai Sodikin berdiri dari duduknya.
"Baiklah, terima kasih. Saya permisi dulu. Assalamualaikum Kiyai," ucap Ibu Yuni meninggalkan rumah Kiyai Sodikin itu.
Sementara itu, Kamelia kini tengah berada di kamar ponpesnya. Ia tengah bersiap-siap untuk menghadiri pengajian rutin yang di adakan di pondok pesantren tersebut.
"Kamelia, aku mau bicara sama kamu. Apa bisa?" ucap Rahma, salah satu santriwati yang juga mondok di ponpes tersebut.
"Boleh. Kakak mau bicara apa?" tanya Kamelia lembut kepada kakak kelasnya itu.
"Ayo ikut aku," ucap Rahma menarik Kamelia meninggalkan kamar pondok tersebut.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Kamelia lagi saat mereka telah tiba di taman yang tak jauh dari kamar Kamelia.
"Kamelia, maksud kamu apa dekat-dekat dengan Ustadz Gibran?" tanya Rahma sinis. Rahma adalah santriwati yang tadi melihat kedekatan Kamelia dan juga Ustadz Gibran saat mereka baru saja tiba di rumah Kiyai Sodikin.
"Memang kenapa ya kak?" tanya Kamelia pura-pura tidak tau, padahal Kamelia sendiri tau jika Rahma sering mengaku-ngaku jika dia adalah tunangan Ustadz Gibran.
"Kami gak tau ya, Ustadz Gibran itu tunangan ku. Kami akan menikah jika aku sudah tamat nanti. Jadi aku harap kamu tidak mendekati Ustadz Gibran lagi. Atau kamu akan.....," ucap Rahma terputus.
"Atau apa kak? Kakak tidak tau siapa saya?" tanya Kamelia memotong ucapan Rahma.
"Memang kamu siapa?" tanya Rahma penasaran.
"Saya.. Saya dan Ustadz Gibran adalah sepupuan, jadi kakak sama sekali tidak berhak untuk ngatur-ngatur aku sama Ustadz Gibran. Dan satu lagi, jangan pernah ngaku-ngaku jika kakak ini adalah tunangannya Ustadz Gibran. Keluarga kami tidak pernah mengadakan acara pertunangan kakak dengan Ustadz Gibran. Jadi jangan pernah menghayal," ucap Kamelia lalu pergi meninggalkan Rahma yang masih terdiam mendengar ucapan Kamelia barusan.
Kamelia sengaja membohongi Rahma karena selama ini Rahma selalu mengakui kepada anak-anak lainnya jika dirinya dan juga Ustadz Gibran telah bertunangan.
"Se.. Sepupuan? Gak.. Ini gak mungkin. Mana ada sepupuan sedekat itu," ucap Rahma setelah Kamelia pergi dari dirinya.
.
.
Paman Sam benar-benar tidak bisa menerima jalan hidupnya yang seperti ini. Ia sangat-samgat frustasi dan juga stres.
Saat di rumah sakit, semua orang telah di beri tahukan, termasuk Gara dam juga Airin.
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti Sam?" tanya Emanuel kepada adiknya itu.
"Aku sudah nggak sanggup lagi kak. Entah kapan aku akan terbebas dari semua ini. Aku benar-benar frustasi," jawab Paman Sam di hadapan Emanuel, Gara dam juga yang lainnya.
"Bersabarlah Paman. Jangan seperti ini. Kasihan diri Paman Sendiri. Jika Paman bebas nanti, kami akan selalu ada untuk Paman," tambah Gara prihatin terhadap Pamannya itu.
"Tapi kapan? Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Paman ini sudah tua Gara," ucap Paman Sam mengeluh.
Sedangkan di sel lainnya, Liona sudah mulai bisa menerima takdirnya. Ia di jatuhi hukuman tiga tahun penjara.
Ia berniat untuk mencari kakaknya setelah ia bebas nantinya.
__ADS_1
Perlahan Liona akan mengambil alih semua harta mantan suaminya yang sudah menjadi milik sang kakak.
Di rumah dokter Dimas, Lyra kini tengah menikmati perannya sebagai seorang istri. Ia begitu bersyukur mendapatkan suami dan mertua yang sangat sayang padanya.
Saat ini, Lyra sangat pusing sekali. Saat ia membantu mertuanya memasak, tiba-tiba saja Lyra pingsan dan membuat Ibu Aisyah sangat panik dan takut sekali.
"Dimas, kamu sibuk gak? Ini istrimu pingsan. Bunda tidak tau harus berbuat apa nak," ucap Ibu Aisyah dari seberang teleponnya.
"Bunda tenang, Dimas pulang sekarang. Bunda tolong jagain Lyra ya," balas Dimas tak kalah paniknya.
Ia takut jika penyakit lama Lyra datang kembali.
Tiga puluh menit kemudian, Dimas pun tiba di rumahnya. Ia bergegas turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Dimas maafkan Bunda, Bunda gak sanggup mengangkat Lyra sendirian, jadi Bunda hanya bisa lakukan ini," ucap Ibu Aisyah masih dalam keadaan memangku kepala menantunya itu.
"Iya, gak papa kok Bunda. Terima kasih sudah jagain Lyra," jawab Dimas mengangkat Lyra menuju kamarnya dan diikuti oleh Ibu Aisyah.
"Bagaimana nak?" tanya Ibu Aisyah kepada putranya yang baru saja memeriksa istrinya itu.
"Nggak kenapa-kenapa Bund.. Lyra.. Lyra....," jawab Dimas terputus.
"Lyra kenapa Dimas? Cepat katakan, jangan buat Bunda cemas," desak Ibu Aisyah tampak khawatir sekali.
"Lyra.. Lyra hamil Bunda," jawab Dimas memeluk Bundanya.
"A.. Apa? Ly..Lyra hamil," tanya Ibu Aisyah tak percaya.
"Iya Bunda. Lyra hamil," jawab Dimas dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah nak. Bunda senang sekali mendengarnya. Selamat ya nak. Selamat," ucap Ibu Aisyah tak kalah senangnya.
"Iya Bunda makasih. Bunda Dimas minta tolong, tolong jagain Lyra ya. Dimas gak mau dia kenapa-kenapa," ucap Dimas masih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pasti nak. Bunda pasti jagain Lyra," jawab Ibu Aisyah memandangi menantunya yang mulai sadarkan diri itu.
"Lyra, kamu sadar nak?" ucap Ibu Aisyah berjalan ke arah menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1