
Sudah tayang ya say, silahkan cari di pencarian dengan judul GARIS DUA SATU MALAM MILIK TUAN GARA 2..
Masih anget..
Ceritanya di jamin seru..
Jangan lupa tinggalkan like, koment dan vote nya ya..
Terima kasihhh...
BAB 2
"Apa? Empat puluh ribu? Kenapa mahal sekali Bu? Bukannya tadi saya lihat di menu harga sepiring nasi goreng cuma lima belas ribu, dan tehnya cuma lima ribu ya Bu?" protes Clara mengerutkan kedua alisnya.
"Iya, tapi tadi temen mu si Galang juga memesan makanan dan minuman yang sama dengan mu. Dia bilang sama Ibu jika kamu yang akan membayarnya," jawab Ibu kantin tersebut membuat Clara benar-benar kesal.
***
"Apa? Saya yang bayar Bu? Tapi saya tidak kenal dengan dia Bu. Yang benar saja," protes Clara kepada Ibu kantin tersebut.
"Yah, Ibu tidak nggak tau dek. Dia bilang kamu yang bayar, jadi ya, kamu harus bayar," ucap Ibu kantin tersebut tidak mau rugi.
'Sialan tuh si Galang, Galang. Kenal juga nggak, malah gue yang harus bayarin makannya,' umpat Clara sembari mengeluarkan uang untuk membayar makanannya dan juga Galang.
Beberapa saat kemudian, bel masuk pun berbunyi. Karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, jadi Clara belum tau dikelas mana ia akan di tempatkan nanti.
Sementara itu, Gara dan juga Airin juga baru tiba di sekolah si kembar. Ia tampak senang sekali karena putra-putri kembarnya itu kini telah duduk di bangku sekolah dasar.
"Selamat pagi dan selamat datang di sekolah kami Pak, Bu," sambut kepala sekolah yang mengetahui kedatangan Gara dan juga anggota keluarga lainnya.
Kebetulan, sekolah tempat si kembar bersekolah itu adalah milik keluarga besar Emanuel.
"Selamat pagi juga Pak. Kami kesini untuk mengantar cucu-cucu kami. Kebetulan, ini adalah hari pertamanya masuk sekolah," jawab Emanuel antusias.
"Iya pak, saya sudah tau. Terima kasih telah mempercayakan cucu-cucu bapak untuk bersekolah di sekolah ini. Kalau begitu, mari masuk Pak, Bu, kita bicara di dalam saja," ucap kepala sekolah tersebut sangat senang atas kedatangan pemilik sekolah itu.
"Ah baiklah. Bapak duluan saja. Saya akan menyusulnya sebentar lagi," jawab Emanuel yang masih ingin melihat cucu-cucunya hingga bel masuk berbunyi.
Beberapa saat kemudian, bel masuk pun berbunyi. Semua murid bergegas turun ke lapangan sekolah untuk berbaris di hari pertama ini.
Setelah acara baris berbaris nya selesai, para murid pun langsung masuk ke kelas mereka masing-masing.
__ADS_1
Begitu juga dengan calon murid kelas satu yang berdiri di depan pintu aula sekolah tersebut.
Tak lama kemudian, wali kelas pun telah selesai membagi kelas untuk calon murid kelas satu baru.
"Selamat belajar ya sayang. Daddy, Mommy sama yang lainnya pulang dulu. Didepan, sudah ada mang Udin yang nungguin kamu sampai pulang sekolah," ucap Gara berpamitan kepada si kembar saat mereka akan masuk kelas.
"Ok Dad, ok. Daddy sama yang lainnya pulang saja. Hati-hati di jalan," jawab Anggara santai.
"Anak pinter," balas Gara mengusap kepala Anggara.
"Angga, Anggi, Daddy sama yang lainnya pulang dulu ya," ucap Gara berpamitan kepada anaknya yang lain.
"Ok," balas Angga dingin. Sedangkan Anggi hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
Di tempat lain, Leon juga sedang berada di sekolah anak keduanya.
"Bagaimana? Bagas mau kan ditinggal pulang sama kita?" tanya Leon berbisik di telinga istrinya itu.
"Belum mau kak. Memang kakak buru-buru ya mau ke kantor? Kalo buru-buru, kakak ke kantor saja. Biar aku yang jagain Bagas di sini," jawab Selin menjawab pertanyaan Leon.
"Bukan gitu. Sayang kamu tau kan semalam ritual kita terganggu karena si Bagas yang tiba-tiba saja minta tidur di kamar kita. Maka dari itu, mumpung Bagas sekolah, aku mau menuntaskan yang semalam," balas Leon membuat pipi Selin merah merona karena malu.
"Apaan sih kak? Malu ntar di dengar sama wali murid lainnya," protes Selin mencubit pinggang suaminya itu.
"Makanya jangan asal bicara," ucap Selin senang.
"Ya sudah, kita pulang yuk. Nanti kita kesini lagi," ajak Selin masih berusaha meminta haknya yang tertunda kepada sang istri tercinta.
"Nggak bisa kak. Bagas nya nggak mau ditinggal," balas Selin menjadikan Bagas, putra mereka sebagai alasan.
Sebenarnya Bagas tidak masalah jika ditinggal pulang oleh kedua orang tuanya. Namun, Selin masih ingin tetap disini untuk menemani Bagas di hari pertama masuk sekolah.
Demi menuntaskan hasrat dan keinginannya, Leon pun menghampiri Bagas dan membisikkan sesuatu kepadanya, sehingga membuat Selin menjadi penasaran.
"Ayo sayang, kita pulang sekarang," ajak Leon dengan wajah gembira seperti habis memenangkan undian berhadiah.
"Pulang? Lalu Bagas gimana kak?" tanya Selin melihat ke arah putranya.
"Bagas aman. Dia nggak masalah kok jika kita tinggal sebentar," jawab Leon menarik tangan Selin.
Selin hanya bisa pasrah mengikuti langkah suaminya itu. Ia tak mau lagi berdebat dengan Leon.
__ADS_1
"Kakak kenapa senyam-senyum seperti itu? Ada yang lucu kah?" tanya Selin penasaran.
"Bukan lucu, tapi Awwww," jawab Leon membuat Selin mengernyitkan keningnya.
'Apa sih yang lagi dipikirkan kak Leon. Kenapa jawabnya begitu coba,' batin Selin menatap Leon yang masih senyam-senyum sendiri.
Sebenarnya Leon tengah membayangkan adegan apa saja yang ia gunakan saat di rumah nanti.
Sudah lama ia dan Selin bercinta dengan cara sembunyi-sembunyi dan pelan agar tidak ketahuan dan tidak mengganggu tidur anak-anak mereka.
'Nanti, setibanya di rumah aku akan membuat Selin puas kembali. Aku akan menggunakan jurus-jurus lamaku yang membuat Selin ketagihan,' batin Leon sudah traveling kemana-mana.
Benar saja, setibanya di rumah, Leon mengambil alih Kimora, putri kecil mereka, lalu membawanya kedalam box bayi dan menidurkannya di sana.
Dengan senang hati, Leon kemudian menghampiri Selin, lalu memeluk tubuhnya dan membawanya ke ranjang mereka.
Leon benar-benar bersemangat sekali, sehingga membuat Selin sedikit kewalahan melayaninya.
"Pelan-pelan kak," ucap Selin saat Leon dengan buasnya menjelajahi setiap inci tubuh istrinya yang sudah ia t3l4nj4ngi itu.
"Argghhhhhhh," umpat Leon di tengah permainan seseorang mengetuk pintu rumahnya berkali-kali.
"Kak itu sepertinya kak Gara. Dibukain saja dulu kak. Siapa tau penting," usul Selin dengan nafas terengah-engah.
"Leon... Leon aku tau kamu di dalam. Leon buka pintunya," teriak Gara terus menggedor-gedor pintu rumah sahabatnya itu.
"Gara ngapain sih? Selalu saja ada gangguan," umpat Leon kesal. Ingin sekali Leon mengabaikan Gara dan melanjutkan permainannya, namun sayang, juniornya sudah tidak mau berdiri tegak lagi.
Akhirnya, dengan muka masam dan amat sangat terpaksa, Leon kembali memasang pakaiannya dan membukakan pintu untuk Gara.
"Lama banget sih kamu bukain pintunya," protes Gara belum sadar dengan wajah masam yang dipasang oleh Leon.
"Ada apa sih Gara? Bukannya hari ini kamu nganterin si kembar ke sekolah?" tanya Leon sendat.
"Udah tadi. Orang kantor bilang kamu belum datang, jadi aku putusin buat jemput kamu kesini. Udah lama juga kan kita nggak berangkat bareng," jawab Gara tanpa rasa bersalah. Namun, dalam seketika, Gara terdiam melihat resleting celana Leon yang sama sekali belum terpasang.
"Gara woi, ngapain kamu liatin junior saya seperti itu?" tanya Leon merasa risih.
"Apa kedatanganku mengganggumu?" tanya Gara berusaha menahan tawanya.
"Menurut kamu?" jawab Leon yang benar-benar sudah kesal.
__ADS_1
Bagaimana ya selanjutnya? Yang penasaran, ikuti terus ya kisah mereka...
Di jamin nggak kalah seru dari yang sebelumnya..