Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 81


__ADS_3

"Bonus cinta," jawab Liona sembari tertawa. Ia kemudian mencium suaminya sekilas lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


"Arghhh Liona," keluh Paman Sam kemudian menyusul sang istri untuk tidur dan memeluknya erat.


***


Keesokan harinya, Paman Sam dan Liona menyempatkan waktunya untuk menemui Lyra di rumah sakit.


"Lyra, bagaimana keadaanmu. Maaf aku baru bisa menemui mu karena aku baru saja kembali dari luar kota," ucap Paman Sam dingin.


"Tidak masalah. Aku sama sekali tidak peduli," jawab Lyra lebih dingin.


"Oh.. Lalu dimana anakku?" tanya Paman Sam mengedarkan pandangannya ke sebuah box bayi kosong.


"Dia lagi di mandikan sama suster," jawab Lyra ketus.


"Kakak, aku dan suamiku ke sini untuk melihat putra kami sekaligus ingin memberikannya nama. Dan satu lagi, kami akan membawanya pulang hari ini juga, karena dokter mengatakan jika bayinya sehat sedangkan kakak harus tinggal disini untuk sementara waktu," jelas Liona membuat Lyra kaget.


"Tidak. Kalian tidak berhak memberi nama putraku. Dan kalian juga tidak boleh membawa putraku pergi bersama kalian. Dia itu masih bayi dan harus mendapatkan Asi dariku. Aku mohon jangan lakukan ini," ucap Lyra memohon.


"Sudahlah kak. Kakak tidak perlu menangis seperti itu, masalah Asi, nanti setiap hari akan ada orang yang menjemputnya ke sini, lagian jika kakak di perbolehkan pulang nanti, kakak juga bisa bertemu dengannya kembali. Tapi ingat, jangan pernah mengatakan jika kakak ibu kandungnya suatu hari nanti. Jika sampai itu semua terjadi, aku tak akan segan-segan untuk memisahkan kakak dengannya," ucap Liona mengancam Lyra.


"Jahat kamu dek. Tega sekali kamu pada kakak," ucap Lyra pilu.


"Sudahlah, jangan berdebat. Liona, ayo kita menemui bayinya sekarang dan langsung pulang setelah ini. Aku ada meeting beberapa jam lagi," ucap Paman Sam menghentikan percakapan di antara mereka.


"Ayo. Aku juga bosan disini," jawab Liona bergelayut manja di lengan Paman Sam.

__ADS_1


Betapa perihnya hati Lyra saat melihat kemesraan Liona dan Paman Sam di depan mata kepalanya sendiri.


Begitu teganya suami dan adik kandungnya mengkhianati dirinya seperti ini.


'Lihat saja. Aku akan bangkit dan membalas semua kelakuan kalian kepadaku. Dan kamu Samuel, akan aku pastikan kamu akan bertekuk lutut memohon untuk kembali lagi bersamaku,' batin Lyra menggenggam erat seprai rumah sakit tersebut.


"Kamu kenapa Lyra?" tanya dokter Dimas yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Lyra untuk melakukan pemeriksaan.


"Mantan suami dan adikku baru saja kesini dan mereka berencana akan membawa putraku pulang bersamanya. Tak hanya itu, mereka juga sudah menyiapkan nama untuknya. Aku benar-benar tidak ikhlas dokter," jawab Lyra menangis.


"Sudah, jangan menangis. Biarkan saja mereka membawa putramu. Dia adalah putramu, dan akan tetap menjadi putramu sampai kapanpun. Lebih baik kamu fokus untuk kesembuhan kakimu agar kamu bisa membalaskan semua perbuatan jahatnya padamu," ucap dokter Dimas memberi semangat.


"Tapi aku takut jika mereka benar-benar menjauhkan ku dari putraku dokter," ucap Lyra masih belum merasa tenang.


"Kamu tenang saja. Ada aku yang akan selalu membantumu nantinya. Sekarang fokus saja dulu. Nanti jika sudah tiba waktunya, kamu akan kembali bersama dengan putramu lagi," balas dokter Dimas menyandarkan kepala Lyra ke dada bidangnya.


"Kamu senang sekali sepertinya mas," tanya Liona melihat perubahan suaminya.


"Ya sayang. Bagaimana tidak, sekarang kita telah memiliki anak. Meskipun dia bukan anak kandungmu, tapi di dalam darahnya juga mengalir darah mu, karena dia anak kakak kandungmu. Jadi bukankah itu sama saja dia seperti anak kandungmu?" jawab Paman Sam mencium pucuk kepala Liona.


"Kamu benar mas. Sekarang kebahagiaan kita sudah lengkap. Lalu siapa nama anak ini? Apa kamu benar-benar sudah memilikinya?" tanya Liona memeluk pinggang suaminya.


"Sudah, aku sudah memikirkan nama untuk anak kita ini. Namanya Lio Samudra Emanuel. Lio singkatan dari nama kamu yaitu Liona, Samudra itu ya Samudra dan juga ada potongan namaku di dalamnya, dan Emanuel itu adalah nama keluarga besar ku. Kita bisa memanggilnya Lio. Apa kamu suka sayang?" tanya Paman Sam kepada istrinya tersebut.


"Aku suka mas. Suka sekali. Makasih ya mas, kamu sudah memasukkan nama ku, bukan nama kakakku," jawab Liona sangat girang sekali.


"Haha.. Kenapa aku harus memberi nama kakakmu di dalamnya. Bukankah dia hanya melahirkannya saja. Dia adalah anakku dan anakmu, kita akan merawatnya hingga ia menjadi anak yang sukses seperti keponakanku Gara," balas Paman Sam kepada Liona.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Itu dokternya, ayo kita temui dia. Dan jangan lupa, setelah ini kita akan menjemput baby sitter nya Lio ke tempatnya," ucap Liona bangkit menuju ruang dokter.


Setelah mengurus kepulangan Lio dan menjemput baby sitter untuk Lio, Liona mampir sebentar ke toko pakaian bayi untuk membeli kebutuhan Lio. Liona benar-benar menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. Sedari tadi, wanita cantik itu tak henti-hentinya tersenyum saat melihat wajah tampan Lio.


Setibanya di rumah, Liona langsung membawa Lio ke ke kamar yang sudah ia persiapkan jauh-jauh sebelum hari.


Saat Lio sudah tidur dengan nyenyak, Liona pun menyusul suaminya yang tengah istirahat sejenak ke kamar mereka.


"Loh mas, katanya kamu mau balik kantor lagi, kok malah ganti baju dan tiduran sih?" tanya Liona heran.


"Kamu lupa, nanti sore aku akan berangkat ke luar kota. Aku pasti akan merindukanmu Liona. Dan kamu lupa, tadi pagi kita tidak jadi bercinta, dan aku mau menagihnya sekarang, dan jangan lupa bonusnya juga," jawab Paman Sam menarik Liona ke dalam pelukannya sektika.


"Aaww mas, kamu ini, bikin aku kaget saja," protes Liona yang kini telah jatuh ke dalam pelukan suaminya itu.


"Haha.. Tapi kamu suka kan?" tanya Paman Sam tertawa.


"Ihh mas, apaan sih," jawab Liona dengan pipi bersemu merah.


Paman Sam kemudian membalik tubuh Liona dan mengungkungnya. Ia kemudian mulai mencumbu istrinya dengan membayangkan wajah Kamelia yang semalam saat membuka seluruh handuk di badannya.


Kali ini, Paman Sam benar-benar bernafsu sekali. Ia menyerang Liona dengan sangat buas dan rakus, sehingga wanita cantik itu sedikit kewalahan.


"Mas, kamu buas sekali. Apa kamu serindu itu padaku?" tanya Liona saat kecupan Paman Sam pindah ke leher jenjangnya.


"Kamu benar sayang, aku sangat-sangat merindukanmu," jawab Paman Sam masih membayangkan wajah istri keduanya.


Setelah puas menjelajahi tubuh istrinya dan meninggalkan banyak bekas tanda merah, ia kemudian mulai ke permainan intinya. Liona benar-benar kewalahan karena kali ini suami nya benar-benar bernafsu sekali, sehingga mereka melakukannya berkali-kali dan Liona tertidur dalam keadaan tanpa busana sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2