
"Untung saja kamu lepas dari laki-laki seperti itu. Biasanya, laki-laki seperti itu sudah memiliki istri sah. Apalagi kamu juga memergokinya selingkuh dengan wanita lain, dan dia lebih memilih selingkuhannya itu kemudian menalak dirimu begitu saja," jawab Yuni merasa iba kepada Aluna.
"Iya mba. Aku juga berpikirnya begitu. Untung saja aku kenal mba dan bisa mondok di sini," jawab Aluna berpura-pura menangis.
'Kenapa perasaanku tidak enak ya?' batin Kamelia menatap Aluna lekat.
***
'Suaminya si Kamelia boleh juga,' batin Aluna melihat Ustadz Gibran sekilas, sedangkan yang dilihat terus menundukkan pandangannya sembari menggenggam tangan sang istri.
Beberapa bulan telah berlalu, Aluna, alias Liona pun sudah beberapa hari menjalani kehidupannya di pondok pesantren milik Kiyai Sodikin.
Niat Liona yang awalnya hanya untuk bersembunyi, entah mengapa, ia merasakan nyaman dan tenang setiap kali mengikuti pengajian dan salat berjamaah di masjid.
Selama ini, Kamelia berhasil menutupi kehamilannya dengan cara memakai hijab dalam dan baju yang longgar. Untung saja, tubuh Kamelia tinggi sehingga perutnya tidak terlalu buncit.
Pagi ini, Kamelia tidak bisa mengikuti pelajaran karena tiba-tiba saja perutnya merasa sakit sekali.
Ustadz Gibran, yang merupakan suami Kamelia benar-benar merasa cemas dan membawa Kamelia ke klinik terdekat.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Ustadz Gibran yang mencemaskan keadaan istrinya.
"Istri anda sedang mengalami kontraksi akan melahirkan, ada baiknya istri anda tinggal di sini dan anda membawa pakaian bayi saat ini juga," jawab dokter tersebut seketika membuat Ustadz Gibran sedikit panik.
"Baik dokter. Kalau begitu, biar saya telpon seseorang saja untuk mengantarkan pakaian bayi untuk anak saya," jawan Ustadz Gibran sembari mengeluarkan ponsel miliknya.
Setelah meminta bantuan kepada supir pondok pesantren, Ustadz Gibran langsung menghubungi Kiyai Sodikin dan juga Ibu mertuanya.
Di kota lain, polisi masih terus mencari keberadaan Liona, hingga selebaran fotonya pun mulai di bagikan namun belum sampai ke kota B, sehingga Aluna masih bisa hidup dengan tenang.
__ADS_1
Saat ini, Gara baru menemukan titik mengenai hasil vonis penyakit Airin yang ternyata masih di dalangi oleh Sinta, namun Gara tidak mau memperpanjang kasus ini karena di larang oleh istri ya, Airin.
Saat ini, Gara tengah menikmati masa-masanya menjadi Ayah
Si kembar yang mulai besar membuat Gara selalu ingin berada di dekat sang anak.
sedangkan Leon, saat ini tengah menemani Selin untuk melakukan cek kehamilan terakhirnya sebelum ia akan melakukan persalinan.
"Bagaimana dengan kehamilan istri saya dokter,? Apa semuanya sehat?" tanya Leon yang selalu antusias saat menemani Selin melakukan cek kehamilan.
"Semuanya baik dan sehat. Si bayi bisa lahir kapan saja, karena kandungan Ibu Selin sudah masuk bulan ke sembilan," jelas dokter tersebut.
"Benarkah dokter. Lalu bagaimana dengan berhubungan badan? Apa kami masih bisa melakukannya?" tanya Leon yang tak bosan-bosannya menanyakan hal itu setiap kali menemani Selin melakukan cek kehamilan.
"Aman-aman saja selagi istri anda merasa nyaman. Malah, lebih di anjurkan untuk sering-sering berhubungan badan untuk mempercepat kontraksi menjelang lahiran," jawab dokter tesebut geleng-geleng kepala seperti biasanya.
"Baik dokter, terima kasih," balas Leon lalu membawa Selin meninggalkan ruangan dokter tersebut.
Dengan sabar, Ustadz Gibran selalu setia menemani dan mengusap perutnya sesekali sembari mengajak bayi yang ada di dalam kandungan Kamelia berbicara.
"Sakit sekali By. Aku butuh Ibu By, Ibu dimana?" tanya Kamelia yang sedari tadi menunggu Yuni.
"Kamu tenang ya sayang. Ibu lagi di perjalanan mau ke sini," jawab Ustadz Gibran menenangkan istri tercintanya itu.
"Kamelia kamu sabar dan kuat ya sayang. Sebentar lagi anak kita akan segera lahir," ucap Ustadz Gibran menenangkan istri tercintanya dengan tatapan penuh sayang.
"Tapi ini sakit sekali Aby," keluh Kamelia beruraian air mata.
hingga beberapa saat kemudian, Yuni dan Kiyai Sodikin tiba untuk menunggu kehadiran cucu mereka yang pertama.
__ADS_1
"Kamelia sayang, bagaimana nak? Kamu kuat?" tanya Yuni yang di sebelahnya juga ada Aluna.
"Insyaallah Bu, tapi ini sakit sekali," jawab Kamelia dengan keringat yang sudah bercucuran.
"Sabar ya nak. Nikmati saja prosesnya, semua wanita yang akan melahirkan, pasti akan merasakannya. Sekarang kamu tenang, dan tarik nafas perlahan," ucap Yuni menenangkan putri semata wayangnya itu hingga beberapa jam telah berlalu. Saat ini, Kamelia sudah berada di ruang persalinan bersama suami tercintanya. Sedangkan, Yuni dan Kiyai Sodikin, beserta Aluna menunggu dan berdoa dari lorong rumah sakit tersebut.
Tiga puluh menit, di saat semuanya sedang larut dalam doa mereka masing-masing, terdengar suara tangisan bayi yang memecahkan seluruh konsentrasi Kiyai Sodikin, Yuni dan juga Aluna.
"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan dan saling pandang satu sama lainnya.
Tak lama kemudian, tim medis dan para dokter lainnya keluar dengan membawa Kamelia menuju ruang perawatannya.
"Bagaimana Gibran? Apa semuanya lancar?" tanya Yuni yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu pertamanya sembari mengikuti Kamelia yang di bawa ke ruang inapnya.
"Alhamdulillah semua lancar Bu. Kamelia dan anak kami selamat dan sehat," jawab Ustadz Gibran dengan mata yang masih berkaca-kaca. Laki-laki tampan itu tak kuasa menahan tangisnya saat berada di dalam ruang persalinan. Di satu sisi ada kebahagiaan di dalam hatinya, dan di sisi lainnya, ia takut jika harus kehilangan salah satu dari mereka, atau bahkan keduanya. Namun tuhan masih sayang kepadanya kali ini dengan memberikan keselamatan dan juga kesehatan untuk Kamelia dan putra kecil mereka.
"Alhamdulillah. Lalu mana cucu kami? Apa jenis kelaminnya?" tanya Yuni masih antusias, sementara Kiyai Sodikin hanya menyimak saja.
"Dia masih di bersihkan di dalam Bu, sebentar lagi juga akan di bawa ke ruang rawat inap. Jenis kelaminnya alhamdulillah laki-laki. Dia tampan sekali," jawab Ustadz Gibran mengingat wajah bayinya yang ia lihat sekilas tadi saat di dalam ruang persalinan.
"Alhamdulillah. Kami senang mendengarnya nak. Selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah. Itu artinya, tanggung jawab mu sebagai seorang laki-laki bertambah satu lagi nak," jawab Kiyai Sodikin tak kalah senangnya.
"Iya Abah. Terima kasih. InsyaAllah Gibran akan menjalankan tanggung jawab itu dengan benar," jawab Ustadz Gibran bahagia.
"Selamat ya Gibran. Selamat atas kelahiran putra pertama mu," ucap Aluna yang sedari tadi hanya diam.
"Selamat ya nak. Selamat," susul Yuni memberi selamat kepada menantunya itu.
"Terima kasih Mba, Bu. Terima kasih," jawab Ustadz Gibran langsung mendekati istrinya yang sudah sadar.
__ADS_1
"Kamelia sayang, terima kasih banyak karena kamu sudah bertaruh nyawa untuk anak kita. Terima kasih karena telah bersedia melahirkan darah daging ku. Bagaimana keadaan mu? Apa masih sakit?" ucap Ustadz Gibran sembari mengusap-usap kepala Kamelia.