
"Baiklah. Aku akan menunggu. Kalau begitu berangkatlah, di dalam tas kakak, sudah aku siapkan bekal makanannya," ujar Kanaya lalu mengambil handuk basah yang dibiarkan begitu saja di atas ranjang mereka .
***
Tak butuh waktu lama, Zilgwin pun tiba di sebuah hotel dimana ia akan mengadakan pertemuan dengan kliennya. Ternyata tak hanya Zilgwin, laki-laki satu anak itu pun lagi-lagi dibuat kesal karena kehadiran Bagas yang juga menghadiri meeting tersebut.
Mau tak mau, karena profesional kerja, Zilgwin terpaksa bersikap manis kepada Bagas.
'Untung saja Kanaya tidak ikut dengan ku,' batin Zilgwin merasa lega.
"Anda suaminya Kanaya kan?" tanya Bagas sembari menunggu klien utamanya datang.
"Ya, saya suaminya Kanaya. Kenapa?" jawab Zilgwin dengan ketus.
"Tidak. Saya hanya bertanya. Kanaya itu adalah teman sekolah saya dulunya. Saya hanya tidak menyangka, sudah lama tidak bertemu, dan sekalinya bertemu ternyata Kanaya sudah dimiliki orang lain," ucap Bagas yang memiliki arti bagi Zilgwin.
"Ya begitulah. Waktu berjalan dengan cepatnya. Ngomong-ngomong, apa anda sudah menikah atau memiliki anak?" tanya Zilgwin balik bertanya.
"Jangankan menikah dan memiliki anak, saya bahkan tidak memiliki kekasih. Tadinya saya sengaja sendiri agar bisa fokus bekerja lalu melamar cinta sejati saya di saat saya sudah sukses, namun sayang, saya dapat kabar bahwa cinta saya itu ternyata sudah menikah dengan pria lain. Sepertinya saya akan sendiri dalam waktu yang lama, hingga saya bisa menemukan wanita yang seperti itu lagi," jawab Bagas membuat Zilgwin sangat sakit hati.
'Sialan, pasti yang dia maksud itu adalah Kanaya. Awas saja jika dia berani mengganggu Kanaya, akan aku pastikan dia hilang dari muka bumi ini,' batin Zilgwin menatap Bagas dengan tatapan tidak suka.
"Benarkah? Kasihan sekali nasib anda. Saay doakan supaya anda bisa segera mendapatkan cinta baru lagi," ucap Zilgwin basa-basi.
'Gue sumpahin gak laku-laku lo,' batin Zilgwin mengumpat.
__ADS_1
"Terima kasih. Tapi sepertinya saya akan menunggu cinta sejati saya itu menjanda saja.. Haha.. Saya hanya bercanda. Oh ya, ngomong-ngomong, anda dan Kanaya sudah menikah berapa lama? Apa kalian sudah memiliki anak?" ucap Bagas membuat Zilgwin semakin kesal sampai ke ubun-ubun.
'Sialan, dia mendoakan Kanaya segera menjanda. Itu tak akan pernah terjadi,' umpat Zilgwin dalam hatinya.
"Saya dan Kanaya sudah menikah semenjak dua tahun yang lalu. Dan kami telah memiliki seorang putra. Saya sarankan agar anda segera mengakhiri masa lajang anda secepatnya, karena cuaca sudah mulai dingin. Apa anda tidak ingin seperti saya dan yang lainnya, di saat dingin-dingin begini, akan ada istri tercinta yang memberikan kehangatannya kepada kita kapan pun itu. Ya seperti saya dan Kanaya contohnya," ucap Zilgwin memanas-manasi Bagas seperti anak kecil.
'Sialan suami Kanaya ini. Dia sepertinya tau jika aku menyukai Kanaya, maka dari itu, dia sengaja memanas-manasiku seperti ini,' batin Bagas kesal.
Disaat Bagas akan membalas ucapan Zilgwin, klien utama pun datang hingga ia terpaksa menerima kekalahan ini dengan lapang dada.
Setelah beberapa jam meeting berlangsung alot, akhirnya mereka pun menemukan titik terangnya dan Zilgwin pun segera pulang ke hotel seperti apa yang ia sudah janjikan kepada Kanaya. Namun, pada saat di tengah perjalanan, mata Zilgwin tak sengaja melihat masa sosok wanita yang paling berarti dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Laura.
Zilgwin sangat yakin jika wanita itu adalah Laura. Namun, saat Zilgwin hendak turun dari mobilnya guna menemui Laura, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki datang lalu memeluk serta mencium Laura sekilas. Sontak, hati Zilgwin rasanya sakit sekali.
"Aku harus mencari tau siapa wanita itu? Jika benar dia Laura, berarti ia telah mengkhianati ku selama ini," gumam Zilgwin memasang masker dan juga kaca mata hitam sebelum turun dari mobilnya.
'Steve? Dia.. Dia Steve?' batin Zilgwin kaget saat ia menyadari siapa laki-laki yang tengah bersama dengan Laura.
"Kamu yakin tidak ikut denganku pulang ke Indonesia?" tanya Steve sembari menyeruput kopinya.
"Tidak. Aku akan tetap disini. Jika aku pulang, bagaimana jika Zilgwin melihatku nantinya?" jawab Laura terdengar jelas oleh Zilgwin yang duduk tidak jauh dari mereka.
'Apa? Jadi.. Jadi.. Jadi dia adalah Laura. Selama ini aku berduka dan menutup hati pada semua wanita, namun disini Laura malah hidup dengan laki-laki lain,' batin Zilgwin kembali luka. Hanya beberapa hari saja, Zilgwin merasakan bahagia bersama Kanaya. Namun, hari ini, ia kembali terpuruk oleh bayang-bayang Laura lagi.
Melihat Steve dan juga Laura pergi, Zilgwin pun juga memutuskan untuk mengikuti mereka. Zilgwin berencana akan menemui Laura dan meminta penjelasan kepadanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Steve tiba di sebuah komplek perumahan dimana Zilgwin yakin jika itu adalah tempat dimana Laura tinggal selama ini.
Setelah mengetahui dimana kediaman Laura, Zilgwin pun akhirnya pulang ke hotel. Sepanjang perjalanan, Zilgwin masih bertanya-tanya kenapa Laura tega melakukan ini kepadanya dan juga Kenzie.
"Kakak kenapa?" tanya Kanaya melihat wajah Zilgwin sangat kusut sekali.
"Tidak. Aku tidak kenapa-kenapa. Aku capek. Aku mau istirahat," jawab Zilgwin berlalu meninggalkan Kanaya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kak, apa kakak sudah makan?" tanya Kanaya lagi beberapa saat kemudian.
Kanaya yang tidak tau apa-apa tampak keheranan dengan sifat Zilgwin yang berubah secara tiba-tiba.
"Kak?" panggil Kanaya sekali lagi.
"Aku tidak lapar. Jika kamu lapar, makan saja dulu," jawab Zilgwin yang lupa dimana ia berada saat ini.
"Tapi kak," protes Kanaya yang langsung di sela oleh Zilgwin.
"Kanaya stop, jangan banyak bicara. Jika kamu mau makan, silahkan. Kamu sudah besarkan, bisa mengambilnya sendiri. Aku mau istirahat, jangan ganggu aku," ucap Zilgwin membentak Kanaya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar hotel tempat mereka menginap.
Kaget dengan bentakan Zilgwin, lapar Kanaya pun hilang seketika. ia tak berani lagi menjawab perkataan Zilgwin.
Kanaya kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan menyusul Zilgwin ke atas ranjang.
Disaat Kanaya sudah terlelap, Zilgwin pun baru menyadari kesalahannya yang telah membentak Kanaya tanpa alasan. Zilgwin pun menoleh ke arah istrinya itu, dan di waktu yang bersamaan, Zilgwin mendengar perut Kanaya sudah berbunyi karena lapar.
__ADS_1
"Astaga, Kanaya belum makan. Kenapa gue sebodoh ini? Tidak seharusnya gue memperlakukannya seperti ini," gumam Zilgwin lalu bangkit dari tidurnya dan keluar mencari makan untuk Kanaya dan juga untuk dirinya juga.