Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 107


__ADS_3

"Haha.. Kamu tau, seluruh harta kekayaan Samuel telah berpindah tangan atas nama kakak. Laki-laki bajingan itu kini telah jatuh miskin dan sebentar lagi akan mati membusuk di penjara," ucap Lyra tertawa puas.


***


"Apa? Ini.. Ini tidak mungkin. Ini benar-benar tidak mungkin. Bagaimana bisa kakak memiliki seluruh harta Mas Sam. Kakak pasti berbohong kan. Kalau misalkan memang harta itu harus dipindah tangankan, maka akulah yang berhak atas semuanya. Aku ini istrinya. Sedangkan kakak bukan siapa-siapanya," jawab Liona tak terima.


"Haha.. Kamu ini memang tamak dek. Semua yang kakak punya, kamu juga menginginkannya. Tapi sayang, kali ini kakak tak akan biarkan kamu melakukan itu lagi. Harta Samuel memang sudah menjadi milik kakak. Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja lihat ini," balas Lyra memberikan sebuah map.


Dengan cepat Liona membuka isi map itu dan memeriksa isinya. Seketika mata Liona terbelalak setelah membaca isi surat tersebut.


Ia tak menyangka seluruh aset kekayaan yang dimiliki Paman Sam akan beralih tangan kepada kakak kandungnya yaitu Lyra.


"Ini.. Ini.. Bagaimana ini bisa terjadi kak? Kenapa kakak tega melakukan ini? Kenapa kak?" teriak Liona beruraian air mata.


"Haha.. Kamu bilang kakak tega? Lalu apa kabar dengan kamu dan juga Samuel? Kamu tau kan, aku ini kakak kandungmu. Lalu kenapa kamu tega merebut suami kakak dan menikah dengannya. Tak hanya itu, kamu bahkan bekerja sama untuk membuat kakak lumpuh dalam keadaan hamil, dam setelah kakak melahirkan, dengan entengnya kalian membawa anakku pergi dan mengakui jika itu anak kalian? Apa kakak pernah bertanya kenapa padamu dek?" jawab Lyra tak kalah emosi.


Mendengar perkataan Lyra, Liona hanya bisa menunduk diam. Ia sadar apa yang dikatakan oleh kakak kandungnya itu benar apa adanya.


"Kenapa diam dek? Bukankah kemarin-kemarin kamu bisa tertawa lepas dan mencaci kakakmu yang lumpuh ini? Dek kamu tau, sudah lama sekali kakak menantikan hari ini. Hari dimana kakak bisa melihat kalian berdua mendapatkan karma yang setimpal. Kakak sangat bahagia sekali melihat kamu dan Samuel seperti ini. Oh ya, kalau begitu kakak mau pergi dulu. Kakak sibuk sekali hari ini. Ada beberapa berkas yang mesti kakak tanda tanda tangani. Dan ini kakak berikan kamu undangan pernikahan kakak dengan calon suami baru kakak. Kalo kamu gak bisa datang, kakak maklum kok. Kamu kan sekarang jadi napi, jadi gak bisa kemana-mana," ucap Lyra kemudian meninggalkan Liona dengan perasaan sangat puas sekali.


"Kak tunggu kak. Jangan pergi. Tolong bawa aku keluar dari sini kak," teriak Liona berharap sangat besar kepada lyra kakak kandungnya.


Namun Lyra tetap pergi berlalu begitu saja. Ia puas bisa melihat mantan suami dan juga adiknya mendapatkan karma atas apa yang mereka perbuat selama ini.


.


.


Keadaan Gauri saat ini tidaklah baik. Ibu dari satu anak itu kini baru saja di larikan ke rumah sakit lantaran penyakitnya yang kambuh begitu saja.

__ADS_1


Sementara itu, Gara dan juga Leon tengah bersantai di ruangan Gara karena acara meeting baru saja selesai.


Mereka tengah membicarakan tingkah laku anaknya masing-masing hingga ponsel Leon tiba-tiba berdering.


"Siapa?" tanya Gara ingin tau.


"Ini adiknya Gauri, Selin. Sebentar, aku angkat dulu," jawab Leon sembari menekan tombol hijau di ponselnya.


"Halo Selin ada apa?" jawab Gara bertanya terlebih dahulu.


"Kak... Kak Gauri kak," jawab Selin menangis terisak-isak.


"Gauri kenapa?" tanya Leon panik dan juga cemas. Seketika raut wajahnya berubah drastis.


"Kak Gauri tiba-tiba mengeluhkan sakit kepala yang hebat, dan beberapa saat kemudian ia mimisan. Tak lama setelah itu kak Gauri langsung pingsan. Aku sekarang berada di atas ambulance kak bersama Clara. Kasihan Clara kak, dari tadi menangis terus manggil-manggil Mommy nya," jawab Selin menangis tersedu-sedu, terdengar juga suara tangisan pilu Clara memanggil Mommy nya.


"Astaga. Selin kamu tenang. Kakak akan segera ke rumah sakit sekarang. Kamu jangan nangis lagi ya. Tolong tenangkan Clara dulu. Kakak berangkat sekarang," jawab Leon dengan mata mulai berembun.


"Leon aku ikut. Tidak baik kamu menyetir sendirian," ucap Gara mengikuti langkah Leon yang berlari cepat.


"Leon tenang. Istrimu pasti baik-baik saja," ucap Gara memberi semangat kepada sahabatnya itu.


Sedangkan Leon sendiri sudah sangat cemas dan takut jika ia akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu.


Saat Gara sedang fokus mengemudi, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ya sayang," jawab Gara mengangkat telponnya.


"Kamu dimana? Apakah meeting nya sudah selesai?" tanya Airin dari balik teleponnya.

__ADS_1


"Sudah. Aku sekarang lagi di jalan mau ke rumah sakit. Istrinya Leon drop lagi. Nanti aku hubungi kamu lagi ya. Aku sedang fokus mengemudi," jawab Gara sambil fokus pada stir kemudinya.


"Gauri masuk rumah sakit? Ya sudah, kamu hati ya mas. fokus mengemudinya," jawab Airin mematikan panggilannya.


Tiga puluh menit kemudian akhirnya Gara dan juga Leon tiba di rumah sakit tempat Gauri biasa di rawat.


Ia segera berlari menuju UGD dan melihat Clara sedang tertidur pulas dengan tersedu-sedu di pelukan Selin.


"Kak Leon. Kak Gauri," tangis Selin pecah sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Gauri kenapa Selin? Kenapa bisa seperti ini. Tadi pagi dia masih baik-baik saja," tanya Leon dengan air mata yang mulai menetes.


"Kak Gauri tadi hanya berjemur di balkon bersama Clara kak. Lalu tiba-tiba saja kak Gauri merintih kesakitan dan hidungnya mengeluarkan darah. Setelah itu kak Gauri tak sadarkan diri lagi," jawab Selin dengan tersedu-sedu.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa dokternya sudah keluar?" tanya Leon dengan suara bergetar.


"Belum kak. Dokternya masih di dalam. Aku takut kak. Dokter pernah bilang jika kak Gauri akan pergi dalam bulan ini. Aku benar-benar takut dan tidak siap jika harus kehilangan kak Gauri kak," jawab Selin dengan meneteskan banyak air mata.


"Kamu tenang. Kita sebaiknya berdoa supaya Gauri tidak kenapa-napa," jawab Leon yang sebenarnya juga cemas dan takut sekali.


"Leon benar. Sebaiknya kita sama-sama berdoa supaya Gauri baik-baik saja. Dan kamu Leon, duduklah dulu. Nanti kamu bisa pusing jika terus mondar mandir seperti ini. Tenangkan dirimu. Gauri pasti tidak suka melihat kamu seperti ini," ucap Gara membawa Leon duduk ke kursi tunggu yang telah tersedia tak jauh dari depan pintu UGD tersebut.


Lima belas menit kemudian....


"Leon lihat, dokternya keluar," ucap Gara kepada Leon yang tengah memejamkan matanya karena terlalu cemas.


Dengan cepat Leon dan juga Selin berhambur mendekati sang dokter yang juga berjalan ke arah Leon dan yang lainnya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Leon yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari sang dokter.

__ADS_1


"Pak Leon.. Istri anda...," ucap dokter tersebut menjeda ucapannya sehingga Leon dan Author jadi semakin cemas dan juga penasaran dengan keadaan GauriπŸ˜…πŸ˜…


__ADS_2