
"Bagaimana ini pak? Adik saya sedang sakit, bagaimana jika dia kenapa-napa pak?" tanya Lyra cemas.
"Sabar Bu, sebagain tim kami telah mencoba mencari keberadaannya, dan sebagian lagi sedang mengecek cctv rumah sakit ini," jawab polisi tersebut kepada Lyra.
***
Mendengar penjelasan polisi tersebut, membuat Lyra yang tengah hamil tersebut sedikit tenang.
Ia benar-benar berharap jika Liona akan dapat di temukan. Bagi dirinya, tidak masalah Liona mendekam di salam penjara asalkan ia tidak lari-larian seperti ini.
Sementara itu, di sebuah bis, Liona tampak pucat sekali. Ia mencoba menguatkan dirinya agar tidak jatuh pingsan. Jika Liona pingsan, maka akan di pastikan, nasibnya akan berakhir di rumah sakit tempat ia baru saja di rawat.
"Kamu kuat Liona, kamu kuat," gumam Liona menguatkan dirinya sendiri.
Untung saja, di dalam bis ada penjual makanan yang menjajakan makanannya sebelum bis itu benar-benar pergi meninggalkan terminal tersebut.
Liona pun memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk mengisi perutnya yang kebetulan juga lapar sekali.
"Halo," jawab Gara menjawab panggilan telepon saat aktifitasnya dengan Airin baru saja selesai.
"Halo pak selamat siang, kami dari pihak kepolisian mau menyampaikan kabar bahwa saudari Liona kabur saat sedang melakukan perawatan di rumah sakit," jelas polisi tersebut membuat Gara benar-benar terkejut.
"Apa? Liona kabur? Kenapa ini bisa terjadi pak?" tanya Gara dengan suara sedikit lantang.
"Maafkan kami pak, sewaktu dia melakukan perawatan, kami para polisi hanya menunggu di luar, nah, di saat itulah saudari Liona menjalankan aksinya. Saudari Liona memukul salah satu perawat dan mengenakan pakaiannya lalu kabur dan hingga saat ini, tim kami masih terus mencari keberadaannya," jelas polisi tersebut dengan rinci.
"Ya sudah, nanti saya akan kerahkan beberapa orang untuk mencari Liona," jawab Gara sangat dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kenapa mas?" tanya Airin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Liona kabur, aku harus menyuruh orang untuk mencari keberadaannya," jawab Gara sembari memencet-mencet ponsel miliknya.
"Apa? Liona kabur. Lalu bagaimana? Aku takut dia akan datang ke rumah kita lalu membuat masalah pada akhirnya," ucap Airin yang mencemaskan si kembar.
"Kamu tenang saja, aku akan menyuruh beberapa pengawal untuk memperketat keamanan," jawab Gara lalu menghubungi Leon.
Beberapa jam kemudian, Liona pun tiba di di kota B. Ia tidak tau harus pergi kemana, dalam keadaan pucat, Liona akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Untung saja seorang wanita membawanya masuk ke dalam mobil dengan bantuan warga yang melihat kejadian tersebut.
Hampir satu jam Liona tak sadarkan diri, ia terheran-heran saat membuka mata, dirinya berada di sebuah kamar yang cukup nyaman.
"Aku dimana?" gumam Liona mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Tak lama setelah itu, seorang wanita masuk dengan membawakan segelas teh hangat agar kondisi Liona kembali pulih.
"Terima kasih. Tapi, saya berada di mana?" tanya Liona mengambil teh hangat tersebut dari tangan wanita itu.
"Mba ada di rumah saya. Tepatnya di kota B. Tadi saya menemukan mba pingsan di pinggir jalan, lalu saya memutuskan untuk membawa mba ke sini dengan di bantu para warga di tempat lokasi kejadian.
Liona pun kembali mengingat-ingat kejadian beberapa jam belakang, Liona akhirnya ingat jika dia pusing sekali waktu itu.
"Terima kasih mba, mba sudah menyelamatkan saya. Oh ya kenalkan nama saya Aluna, saya berasal dari kota J. Saya sengaja kabur karena di sana, suami saya selalu menyiksa saya mba. Meskipun saya sakit seperti ini, tapi dia tetap menyuruh saya untuk bekerja di rumah sakit, hingga pada akhirnya saya melihatnya berselingkuh dengan sahabat saya di cafe dekat rumah sakit saya bekerja," jawab Liona beralasan. Ia sengaja mengganti namanya supaya tak ada yang mengenalinya suatu saat nanti.
"Astaga, suami mba nya kejam sekali," ucap wanita tersebut merasa iba.
__ADS_1
"Iya mba. Maka dari itu, sekarang saya bingung harus pergi kemana, ini saja, untuk ongkos saya ke kota ini, saya menjual ponsel milik saya, rencananya, tadi saya mau mencari kontrakan atau kos-kosan untuk saya tinggali, namun karena kondisi kesehatan saya, saya menjadi pingsan dan tiba di sini," jawab Liona yang mengaku sebagai Aluna.
"Mba tidak usah pikirkan itu. Kebetulan saya tinggal sendiri di rumah ini. Mba bisa tinggal bersama saya di sini. Mba boleh kok bantu-bantu saya dalam berjualan di mini market milik saya," ucap wanita tersebut merasa iba dengan Liona.
"Benarkah mba? Apa saya tidak merepotkan?" tanya Liona senang.
"Tidak sama sekali kok mba. Anggap saja kita ini saudara," jawab wanita tersebut tersenyum.
"Hmmmm kalau saya boleh tau, apa mba tidak memiliki suami atau anak?" tanya Liona sedikit agak sungkan.
"Anak saya ada satu, dia sekarang di pondok pesantren bersama dengan suaminya, kebetulan dia sedang hamil muda. jadi, walaupun dalam suasana liburan seperti ini, dia tidak diizinkan oleh suaminya untuk pulang ke rumah. Kalau suami saya sendiri, beliau sudah meninggal semenjak anak saya masih di dalam kandungan," jawab wanita berhijab tersebut.
"Oh, maafkan saya mba. Saya tidak tau mba. Saya turut berduka cita ya," ucap Liona meletakkan teh yang sedari tadi berada di tangannya di atas meja sebelah tempah tidur.
"Iya mba, terima kasih. Kalau begitu, apakah mba sudah makan?" tanya wanita yang sedari tadi belum memperkenalkan dirinya itu kepada Liona.
"Hmmmm, tadi sudah di bis mba. Saya sempat makan beberapa gorengan waktu menuju ke kota ini," jawab Liona memegangi perutnya.
Jujur saja, perut Liona benar-benar lapar saat ini. Ia sungkan untuk mengatakannya kepada wanita tersebut karena wanita berhijab itu sudah banyak membantunya.
"Ya sudah, kalau begitu, kita makan dulu yu mba. Kebetulan saya juga belum makan. Mba bisa berjalan? Kalau tidak, biar saya bawa saja makanan mba ke kamar ini," ajak wanita berhijab tersebut dengan sangat ramah.
Melihat dari wajah wanita itu saja, semua orang pasti bisa menilai, jika dia tulus untuk menolong Liona.
Karena itulah, Liona merasa sungkan dan segan sekali kepada wanita cantik tersebut.
"Tidak.. Tidak mba. Saya bisa jalan sendiri. Mba ini baik sekali. Saya benar-benar sungkan sekali mba rasanya," jawab Liona berusaha bangun dan turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Meskipun kepalanya sedikit pusing, tapi Liona tidak mau menunjukkan nya kepada wanita yang telah menolongnya itu. Di beri tempat tinggal saja, Liona sudah benar-benar bersyukur sekali.
'Rumahnya bagus juga. Tidak mewah tapi asri dan terasa nyaman sekali. Tapi, kenapa ya, aku tidak melihat foto suaminya? Apa karena beliau telah lama meninggal, makanya fotonya tidak di pajang?' batin Liona yang hanya melihat foto Kamelia dan juga Ustadz Gibran