
"Dia baru saja mengancam ku. Ku minta kau sekarang tolong cari kan aku beberapa orang pengawal untuk menemani Airin kemana pun ia pergi," perintah Gara melalui panggilan teleponnya.
***
"Baik, aku akan segera mencarikannya untuk Airin. Oh ya, tapi dari siapa dia tau jika kau dan Airin di rumah sakit?" tanya Leon merasa aneh.
"Entahlah, aku tidak tau. Dimana kau sekarang? Staf kantor mengatakan kau sedang tidak berada di kantor," tanya Gara dari sambungan telepon.
"Aku sedang lagi menuju ke panti asuhan tempat anakku di titipkan. Aku juga akan mencari tahu siapa sebenarnya ibu dari anak itu," jelas Leon yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya.
"Kenapa kau tak mengajakku? Apa kau sekarang sudah tidak menganggap ku sebagai sahabatmu lagi?" tanya Gara.
"Bukan begitu. Aku mau saja mengajak mu untuk ikut bersamaku. Tapi sekarang kau kan, Airin lebih membutuhkanmu dari pada aku," jawab Leon sambil fokus mengemudi.
"Kau ada benarnya juga Leon. Apa kau akan membawa putrimu untuk pulang bersamamu hari ini?" tanya Gara sambil menatap Airin yang masih tertidur lelap.
"Ya, rencananya aku akan membawanya pulang bersamaku. Kasihan juga jika dia berlama-lama berada di panti itu," jawab Leon saat ini tengah berhenti di lampu merah.
"Oke baiklah, jangan lupa kenalkan padaku jika nanti kau telah membawanya bersamamu," balas Gara lalu mematikan panggilannya.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Leon tiba di panti asuhan dimana putrinya di titipkan oleh ibu kandungnya.
Leon memarkirkan mobilnya dan masuk menemui petugas panti yang mengurus panti asuhan tersebut.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya salah seorang Ibu panti tesebut.
"Ah iya, saya mau bertemu dengan Clara. Usianya baru satu tahun," jawab Leon canggung.
"Oh, ini dengan Bapak Leon ya, Ibu nya Clara sudah memberi tahukannya kepada kami sebelumnya," jawab Ibu panti tersebut.
"Ah iya. Oh ya, kalau saya boleh tau apa Ibu punya data pribadi Ibunya Clara? Bukannya apa, jujur saya baru tahu jika saya memiliki seorang anak, dan saya belum pernah sama sekali bertemu dengan Ibunya Clara," tanya Leon apa adanya membuat penjaga panti itu terheran-heran.
__ADS_1
"Berarti ini kali pertamanya Bapak bertemu dengan Clara?" tanya Ibu panti itu sekali lagi.
"Ya Bu benar," jawab Leon malu.
"Maaf Pak, kami benar-benar baru tahu ini semua. Ibu Clara hanya mengatakan jika ia menitipkan Clara sementara hingga Bapak datang menjemputnya. Tapi maaf Pak, jika bapak ingin tau data pribadi dari Ibunya Clara, kami harus mengkonfirmasi dan meminta izin dulu kepada Ibunya Clara," jawab Ibu panti tersebut.
"Apa harus seperti itu? Tolonglah bantu saya sekali ini saja Bu," jawab Leon memohon.
"Maaf Pak, bukannya saya tidak mau membantu, tapi saya harus menjaga privasi beliau, jika beliau mengizinkannya, saya akan dengan senang hati memberikan data-data yang Bapak perlukan," jelas Ibu panti tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Apa saya boleh menemui putri saya sekarang?" ucap Leon dengan sedikit kecewa.
"Baik, sebentar ya Pak, saya akan membawanya dulu," jawab Ibu salah satu Ibu panti tersebut.
Beberapa saat kemudian, salah satu pengurus panti tersebut datang dengan menggendong seorang bayi perempuan berbadan gembul. Saat melihat anak tersebut, Leon tak dapat berkata apa-apa. Jika dilihat, anak itu mirip sekali dengannya.
"Ini.. Ini Clara anak saya?" tanya Leon gugup.
"Menggendongnya? Apa.. Apa boleh?" tanya Leon dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika saat ini dirinya benar-benar telah memiliki seorang anak, bahkan sangat cantik sekali.
"Boleh dong Pak," jawab Ibu panti menyodorkan Clara kepadanya.
Dengan gugup, Leon meraih putri kecilnya itu. Saat Leon akan menggendongnya, Clara pun tertawa menatap Leon yang baru pertama kali ia temui.
"Dia tertawa. Aku yakin dia pasti bahagia sekali bertemu denganku," ucap Leon yang kini sudah menggendong Clara.
"Bapak benar, dia pasti senang sekali memiliki seorang Ayah saat ini," jawab Ibu panti tersebut juga ikut bahagia.
"Hai, kenalkan, ini Dady Leon. Aku ini adalah Dady kandungmu. Sekarang Dady janji gak akan pergi lagi dari kamu. Dady akan merawat mu dan memberikan apapun yang kau mau," ucap Leon memperkenalkan dirinya kepada Clara.
Mendengar ucapan Leon, Clara yang masih bayi itu hanya mengoceh tak jelas sambil sesekali tertawa memukul-mukul wajah Leon.
__ADS_1
Benar-benar tak dapat di ucapkan dengan kata-kata kebahagiaan Leon saat ini. Berkali-kali ia menciumi darah dagingnya yang baru kali ini ia temui dan ia ketahui.
Sebelumnya Leon memang suka sekali dengan anak-anak. Bisa jadi itu yang membuatnya merasa bahagia memiliki anak sendiri saat ini.
Lain halnya dengan Liona. Wanita itu pulang ke rumahnya dengan sangat kesal sekali. Liona benar-benar tak menyangka jika Gara benar-benar tidak mau lagi bersamanya.
Melihat sang istri yang pulang dengan kesal, Paman Sam yang tengah santai membaca koran pun heran dan bertanya-tanya ada apa dengan istri kecilnya itu.
"Kau kenapa sayang? Kenapa pulang-pulang kau kelihatan sudah kesal seperti ini?" tanya Paman Sam menghampiri sang istri yang saat ini tengah membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin.
"Aku tidak kenapa-kenapa. Hanya saja hari ini sangat panas sekali. Aku jadi merasa gerah mas," jawab Liona duduk di meja makan.
"Gimana dengan progam hamil mu? Apakah sudah selesai?" tanya Paman Sam lembut.
"Huhhhhh itu dia mas. Aku capek-capek ke rumah sakit, tapi dokternya tidak datang. Aku kesal sekali," jawab Liona berbohong.
"Ya sudah, kalau gitu ikut aku," ucap Paman Sam membimbing istri kecilnya menuju kamar mereka di lantai dua.
"Kemana?" tanya Liona masih kesal
"Ke kamar. Kau tau, saat ini kau bau acem, aku akan memandikan mu di kamar mandi," jawab Paman Sam memeluk pinggul sang istri lalu menciumnya sekilas.
"Gak usah mas. Aku bisa mandi sendiri," jawab Liona menolak.
"Eeeiittsss, aku tak menerima penolakan. Kau tenang saja, aku tak akan berbuat apa-apa padamu. Kau tinggal berendam di bathtub lalu aku akan memijit mu dengan santai," ujar Paman Sam membuka pintu kamarnya.
Setibanya di kamar, Paman Sam langsung membawa Liona yang tak membantah menuju kamar mandi. Setibanya di kamar mandi, Paman Sam membuka semua pakaian yang menempel di tubuh istri kecilnya itu lalu membimbingnya dan merebahkannya di bathtub yang telah berisi air tersebut. Setelah memberi sabun aroma terapi, Paman Sam mulai memijit bahu sang Liona dengan lembut tapi begitu pas dan nikmat bagi Liona.
"Mas, kau paling bisa membuatku merasa rileks dan segar kembali," ucap Liona dengan mata tertutup.
"Ya dong sayang. Kalau gitu jangan lupa hadiahnya ya," jawab Paman Sam nakal.
__ADS_1